Tintenherz dan Pertanyaan-pertanyaan yang Tidak Terjawab

Oleh Ayesha Sophie Sayyida*

11890996_10153277206204830_3279764880859655124_n

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pernahkah kamu membayangkan, ketika kamu membaca buku, tokoh-tokoh di dalam buku itu keluar dan menemuimu di kehidupan nyata? Itulah yang terjadi di kisah Inkheart yang ditulis oleh Cornelia Funke.

Inkheart menceritakan petualangan seorang anak perempuan bernama Meggie dalam menemukan ayahnya yang ditawan Capricorn, seorang tokoh jahat yang keluar dari buku berjudul Tintenherz. Ayahnya memiliki lidah ajaib. Bila sang ayah membaca sebuah buku, dengan ajaib tokoh itu akan keluar dan menjelma jadi sosok yang nyata. Sayangnya, kehadiran tokoh-tokoh fiksi ini harus ditukar dengan manusia lain. Musibah terjadi saat Mo, ayah Meggie, membaca Tintenherz, bersama ibunya dan Meggie yang baru berumur tiga tahun. Pada pertengahan cerita, tiba-tiba terdengar bunyi berisik dari ruang depan. Ketika Mo melihat, ternyatadi situ berdiri Capricorn dan Basta, dua tokoh paling jahat di dalam buku Tintenherz. Mereka berdua membawa Staubfinger, seorang yang baik. Ketika Mo berhasil mengusir mereka, yang pergi bukan hanya dua penjahat itu, tapi juga ibu Meggie. Sesudah itu, Mo baru tahu, bahwa ia memiliki lidah ajaib, yang mampu menukar kehadiran makhluk-makhluk dalam buku fiksi dengan manusia nyata. Semenjak itu Mo tidak berani lagi membaca buku bersama Meggie. Ia selalu melakukannya sendirian, di kamarnya sendiri.

Petualangan Meggie dimulai ketika pada suatu hari Mo untuk yang ke sekian kali membawa Meggie pergi dari rumahnya, bersembunyi ke suatu tempat. Kali ini, mereka menuju rumah Bibi Elinor, seorang kutu buku yang tidak mencintai apapun kecuali buku. Pada mulanya, Meggie tidak tahu persis apa tujuan ayahnya ke sana, namun, ketika tanpa sengaja ia mendengar pembicaraan ayahnya di suatu malam dengan orang-orang asing, tahulah Meggie, ayahnya pergi untuk menyimpan buku Tintenherz. Buku yang di kemudian hari diketahui Meggie, menjadi penyebab ia kehilangan ibu saat masih berusia tiga tahun. Tak lama setelahnya, Mo dibawa pergi oleh orang tak dikenal.Menurut Staubfinger yang menemui Meggie, Mo dibawa ke tempat Capricorn untuk menyerahkan buku Tintenherz. Gawatnya, Mo membawa buku yang salah. Untuk menyelamatkan Mo, ia bersama Staubfinger dan Bibi Elinor pergi ke markas Capricorn. Niat mereka hanya untuk memberikan buku Tintenherz yang sebenarnya, ternyata mereka malah ditawan disana. Saat itulah Mo menceritakan segalanya tentang Tintenherz pada Meggie.

Bagian paling menegangkan dalam buku ini adalah saat mereka berhasil lolos dan bertemu Fenoglio, penulis Tintenherz, lalu tertangkap kembali. Dalam tawanan Capricorn, Fenoglio menemukan cara untuk mengusir Capricor, yakni dengan menulis cerita yang sama, namun dengan mengubah beberapa bagian ceritanya. Ketika Meggie disuruh membaca (ternyata Meggie juga punya lidah ajaib, ia disuruh Capricorn menggantikan ayahnya membacakan buku, untuk mengeluarkan tokoh-tokoh fiksi di dalamnya) tokoh-tokoh itu menghilang. Di akhir cerita, Meggie bisa bertemu ibunya kembali.

Ceritanya bagus, namun ada beberapa pertanyaanku yang tidak terjawab, meskipun buku itu sudah kubaca sampai akhir:

1.Katanya, Elinor benci anak-anak, tapi mengapa di bagian akhir, Elinor bilang, dia menyayangi keponakannya, Meggie?

2.Katanya, waktu umur Meggie tiga tahun, ia mendapat buku tentang si ular sakit gigi, waktu itu ayah Meggie belum tahu tentangkekuatannya. Mo pun membacakan buku si ular sakit gigi untuk Meggie. Nah, mengapa si ular sakit gigi tidak muncul? Kenapa hanya waktu baca Tintenherz, tokohnya muncul? Cornelia Funke tidak menjelaskannya lebih lanjut.

3.Katanya, tokoh yang keluar dari buku, jumlahnya sama dengan jumlah manusia di dunia nyata yang menghilang. Manusia itu adalah mereka yang ada di ruangan yang sama dengan si Lidah Ajaib (ayah Meggie). Tapi waktu Mo membaca Tintenherz, hanya ibu Meggie saja yang hilang, padahal, yang keluar berjumlah tiga orang, Capricorn, Basta dan Staubfinger. Yang makin mengherankan, di bab-bab berikutnya diketahui bahwa tokoh yang keluar jumlahnya cukup banyak. Lho, jadi gimana ini?

4.Katanya, tokoh yang di dalam buku tidak punya hati, tapi kenapa Farid, pemuda dari buku 1001 malam, merasa sedih dan kadang marah? Bukankah kalau seseorang tidak punya hati, mereka tidak merasakan emosi apapun?

Segitu aja.

 

(Ayesha Sophie Sayyida adalah siswi homeschooling berusia 9 tahun. Sedari kecil sudah tertarik dengan sastra, dan bercita-cita bisa kuliah sastra di Prancis atau London ketika besar nanti. Artikel ini merupakan tugas homeschoolingnya untuk pelajaran sastra)

Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published.