Aku Mencuri Otak Orang Lain

 

Tulisanmu pernah dimuat di sebuah media? Bagaimana perasaanmu saat pertama kali karyamu dipublikasikan. Pasti senang dong, juga bangga. Kerja keras memeras otak selama beberapa waktu terbayar lunas. Kita bahagia karena buah pikir kita diakui dan dihargai orang lain. Kita juga senang, karena orang-orang yang kita cintai dan sangat berarti buat kita, memberi selamat dan semangat untuk terus berkarya. Saking hepinya kita, kadang nilai pemuatan sebuah karya lebih dari sekadar pujian. Kenapa? Ah, tentu saja karena itu menunjukkan eksistensi diri kita.

Saya dulu pernah menjadi redaktur suplemen remaja koran Padang Ekspres bernama Pmails. Waktu itu redaksi buanyaaak banget menerima karya. Ada berupa puisi, cerpen maupun artikel. Bila dirata-ratain, sehari redaksi bisa menerima sekitar lima belas hingga dua puluh karya siswa. Itu artinya ada lebih seratus naskah seminggu. Wow, itu jumlah yang banyak banget. Karena setiap kali terbit, Pmails hanya menampilkan sekitar 15-20 naskah saja termasuk puisi (di luar berita sekolah). Terbatasnya naskah yang dimuat tentu dikarenakan sempitnya halaman. Dan karena itulah, seleksi yang dilakukan lumayan ketat. Redaksi hanya memilih naskah-naskah bagus aja. Karena itulah, pada akhirnya ada karya-karya yang kemudian cuma mejeng di arsip saja. Bukan karena tidak bagus, tapi karena masih perlu beberapa perbaikan.
Nah, sepertinya, ada di antara teman-teman kita yang kemudian merasa kesal karena naskahnya tak kunjung terbit. Akhirnya diambillah jalan pintas. Apa itu? Plagiat. Astaga.
Ada beberapa naskah yang dari awal sampai akhir, murni mencontek karya orang lain. Yang diganti cuma judul dan nama penulisnya saja. Karya-karya itu memang bagus dan menarik. Bukan cuma dari isinya saja, tapi juga dari gaya penulisannya. Bila redaksi kurang teliti, pastilah akan meloloskan naskah-naskah tersebut untuk dipublikasikan. Nah, kebetulan redakturnya termasuk cukup nyelekit (sayah sendiriiiih >_< ), sebelum memutuskan memuat satu artikel, saya pasti ngecek dulu sumber tulisan untuk mengetahui akurasi datanya. Nah, dari cek dan ricek itulah, saya akhirnya mengetahui banyak di antara karya-karya bagus yang dikirimkan itu ternyata bukan karya asli, alias plagiat karya orang lain.
Sebelum kita memvonis teman-teman tersebut, mari kita bersangka baik dulu, mungkin yang bersangkutan tidak tahu bahwa apa yang dilakukannya itu tidak benar. Namun, mungkin ada sebab lain yang mendorong mereka melakukan hal tersebut. Apakah gerangan?
Jujur aja, dalam diri setiap kita pasti ada satu kebutuhan untuk diakui keberadaan dirinya. Dimanapun kita berada. Apakah di sekolah, di rumah, di seminar-seminar, dan lain-lain sebagainya. Untuk menunjukkan bahwa kita ada dan bukan sekadar angin lalu, kita akan berusaha mencuri perhatian orang-orang. Mungkin dengan belajar maksimal agar menjadi juara kelas, atau giat latihan basket agar terpilih dalam tim basket, mungkin juga sibuk sana sini menggosip agar orang-orang memperhatikan kita. Di lain sisi, ada juga orang-orang yang memilih untuk menuangkan buah pikirnya ke kertas dan mengirimkan ke media. Bila karya mereka dimuat, maka jiwa mereka akan puas. Sebab, pemuatan itu menunjukkan, buah pikir mereka dihargai orang lain. Keberadaan mereka diakui.

Namun, sayangnya untuk menunggu sebuah karya dimuat, prosesnya kadang teramat lama. Kita pun mesti bekerja keras untuk belajar dan bersabar. Nah, inilah yang kadang tak bisa dilalui oleh beberapa orang. Karena itu mereka memilih jalan pintas. Plagiat saja karya orang lain. Apa susahnya? Toh orang nggak bakalan tau. Ya, nggak sih.

Oke, taruhlah orang nggak tau. Karya itu kemudian lolos, dan media mempublikasikannya atas nama kita. Sekarang tanya hati kita. Benarkah kita bahagia atas pemuatan karya itu? Jujur, tak adakah setitik rasa bersalah di hati kita? Bukan rasa bersalah terhadap penulis asli karya itu, tapi pada diri sendiri. Kenapa? Karena kita telah mengkhianati intelektualitas kita sendiri.

Sekarang lihat diri kita. Setahun belajar di TK, enam tahun di SD, enam tahun di SMP dan SMA. Hingga saat ini, kita habiskan 13 tahun usia kita untuk belajar, mengasah kemampuan intelektual kita. Tujuannya tentu saja agar kita menjadi orang berilmu, mampu berpikir secara terstruktur, dan menuliskan buah pikir itu dengan baik. Ya, tentu saja dengan baik, karena kita telah belajar selama 13 tahun untuk itu. Tapi coba lihat, apa yang kemudian terjadi ketika kita memplagiat hasil karya orang lain? Kita telah merendahkan waktu belajar selama 13 tahun itu. Kita merendahkan intelektualitas diri sendiri. Apa yang selama ini kita pelajari jadi tak berarti. Musnah ditelan keinginan untuk menjadi sesuatu yang bukan diri kita. Bukan diri kita? Ya, karena tulisan sejatinya menunjukkan karakter penulisnya.

Jadi, bagi kamu-kamu yang merasa kesal karena tulisanmu belum juga dipublikasikan media, jangan pernah punya pikiran untuk melakukan plagiat. Tulisanmu belum muncul, bukan karena jelek, tapi karena ada beberapa hal yang perlu diperbaiki. Percayalah, semua ide tulisan pada dasarnya sempurna. Proses penulisannyalah yang menentukan apakah ide itu bisa sampai pada pembacanya atau tidak. Karena itu, jangan pernah lelah belajar. Ingatlah, berlian akan semakin indah bila diasah. Demikian juga diri kita.

 

Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published.