Membacakan 1000 Buku Sebelum Anak Berusia 5 Tahun, Mungkinkah?

Setelah membaca artikel tentang membacakan 1000 buku sebelum anak berusia 5 tahun yang dimuat di sini, aku jadi tertarik berbagi pengalamanku mengajarkan anak-anakku untuk menyukai bacaan. Tak sulit kok melakukannya. Yang penting ada niat dan komitmen menjalankannya.

Nah ini beberapa hal yang kulakukan:

1. Aku membacakan cerita kepada anak-anakku mulai hari ke-41 usianya. Soalnya, pada 40 hari pertama pasca melahirkan, mataku sakit sekali kalau diajak membaca. Kata mama, itu karena syaraf mataku masih lemah pasca melahirkan. Kalau dipaksa, mata bisa rusak. Jadi selama 40 hari pertama aku menyanyikan lagu-lagu dan doa saja untuk anak-anakku. (ais….poin satu ini belum masuk tips ya ^_^ , malah jadinya curhat)

2. Mula-mula aku hanya menceritakan gambar dan warna-warna pada anakku. Aku menunjukkan gambar-gambar berwarna mentereng di majalah-majalah parenting. Warna mentereng penting diperlihatkan ke bayi untuk merangsang indra penglihatannya. Kebetulan juga di Majalah Ayahbunda langgananku ada suplemen cerita untuk anak juga.

3. Aku membeli majalah anak-anak bekas yang harganya seribu perak sebiji. Sekali beli bisa ampe 30 biji ^_^. Lumayan buat deposit cerita selama dua bulan. Soale, aku hanya membacakan separuh majalah setiap kali baca.

4. Aku membacakan cerita saat anak-anakku sedang happy. Sebelunya dia kubuat ketawa dulu, trus waktu membacakan cerita aku mengeluarkan suara-suara dan ekspresi lucu yang membaut anak-anak tertawa. Ini membuat pengalaman membaca jadi menyenangkan.

5. Aku tidak selalu membacakan cerita baru setiap hari. Cerita yang kubacakan dua atau tiga bulan lalu biasanya kuceritakan lagi. Yang terpenting bukan apakah ceritanya selalu baru atau tidak, yang terpenting anak-anak dibiasakan mendengar ibunya berbahasa, bercerita. Dari situ, selain menanamkan ketertarikan terhadap bacaan, anak-anak juga belajar berbicara secara baik.

6. Bila kita rutin membacakan satu cerita satu hari, maka target seribu buku/majalah bisa tercapai dalam tiga tahun saja (iya dong, 365 hari x 3 tahun)

7. Aku selalu ngincer buku-buku anak diskonan. Aku sudah menabung buku-buku cerita sejak usia mereka masih hitungan bulan. Aku nggak peduli apakah buku itu akan mereka baca lima atau sepuluh tahun lagi, yang penting nyetok dulu ^_^. Kalau mereka baru dibelikan buku pas udah gede, kagak lega di kantong >_<

Satu pak serial St. Claire karya Enyd Blyton yang kubeli waktu umur Ayesha tiga tahun, baru dibacanya saat berusia tujuh tahun. Harry Potter kubeli waktu dia umur lima atau berapa gitu, aku lupa, baru dia baca waktu umur delapan tahun. Novel Tom Sawyer kubeli waktu umurnya empat tahun, sampai sekarang belum dia baca, padahal udah lima tahun di rak :'(. Puluhan buku-buku keren karya penulis cerita anak Indonesia tahun 70-an, sampai sekarang baru satu yang dia baca :'(. Aku sabar menanti momen ketika ia membaca semua buku-buku itu (puk…puk diriku).

8. Setelah dia cukup besar, ajaklah dia ke taman bacaan atau perpustakaan. Anak-anakku punya kartu perpustakaan mereka sendiri. Saking seringnya ke pustaka daerah, para pegawai di situ sampai tahu buku-buku favorit mereka >_<

Jika sabar menerapkan tips ini, percayalah, belum umur setahun mainan favorit mereka adalah buku. Pada umur setahun mereka udah mulai ngunyah-ngunyah buku dan mungkin menelannya (aku pernah ketemu sobekan buku cerita di pupnya anak-anak >_<). Pada umur dua tahun mereka akan menurunkan semua buku di rak. Kalau mereka ketemu pena, mereka akan mulai membubuhkan tanda tangan ke buku-buku itu >_<. Pada umur tiga tahun mereka mulai mengambil beberapa buku, duduk diam-diam di sudut dan melihat-lihat halaman buku itu seakan mereka adalah kritikus karya yang jelimet. Pada umur empat tahun mereka mulai anteng di depan buku atau majalah yang mereka ambil sendiri. Pada umur lima tahun, sebagian mereka mungkin sudah bisa membaca.

Ayesha tidak pernah betul-betul serius kuajari membaca. Pasalnya, aku lebih suka kalau dia belajar membaca umur enam tahun ke atas. Nyatanya, umur empat tahun dia sudah bisa menyambungkan huruf-huruf (misal: b-a jadi ba). Akhirnya, setelah kutahan-tahan, menjelang lima tahun kuajarkan juga ia cara menyambung ru ke sa dan dibaca rusa. Ngajarinnya pun sambil malas-malasan >_<, toh akhirnya sebelum lima tahun dia sudah bisa membaca buku-bukunya sendiri. Sekarang, anakku yang kedua juga mengalami hal yang sama, dan aku masih (tetap) ngajarinnya sambil malas-malasan >_<. Umurnya belum cukup 4,5 tahun soale. Aku yakin, semua kemampuan ini datang karena mereka sudah terbiasa dibacakan buku setiap hari sejak masih bayi. That’s the point. Jadi, kemampuan itu datang sendiri, gak dipaksain.

Susah? gaaaak. Beneran deh. Tergantung kemauan aja lagi. Kalau alasannya sibuk kerja dll, aku dulu kuliah loh. Jadwalnya pagi ampe siang, dan tugas-tugasnya pun seabreg. Belum lagi aku mesti nyelesain naskah novelku dan ngerjain segala tetek bengek rumahtangga, tapi aku selalu bisa meluangkan waktu. Durasi membacakan itu tidak lama kok. Paling lima belas menit. Secapek apapun, harus tetap dilakukan dengan riang, sebab, 15 menit perhari itulah investasi kita untuk perkembangan intelektual anak-anak kita di masa depan.

Jadi, mari kita mulai membacakan cerita untuk anak-anak setiap hari.  Petik hasilnya tiga tahun lagi. ^_^

Share Button

3 Replies to “Membacakan 1000 Buku Sebelum Anak Berusia 5 Tahun, Mungkinkah?”

  1. Mita Jo

    Makasih, Bun, up grade diri untuk anak2, 🙂 Membacakannya sejak dalam kandungan termasuk nggak, Bun? Aku rencana mau melakukannya… ngakak waktu baca bagian nemuin sobekan kertas di pup anak-anak :v . Healah Bunda orang Jawa? O.o

    • admin

      Kalau membacakan sejak dalam kandungan sebenanrya nggak termasuk sih, Mita, cuma pengalamanku, selama mengandung aku banyak-banyakin baca buku saja, sebab aku yakin, apa yang masuk dalam pikiranku, juga masuk dalam pikiran bayiku. Baru setelah melahirkan aku bacanya keras-keras untuk melatih indra pendengarannya juga

      • admin

        aih, aku minang tulen, Mita ^_^
        (tapi besar di lingkungan orang Jawa, soalnya, rumah dan sekolahku berada di lingkungan transmigran Jawa. Jadi, ya aku ngerti juga bahasa dan kebiasaan orang Jawa)

Leave a Reply

Your email address will not be published.