Hari Mengidam Nasional

Lah, kalau Hari Anak Nasional saja ada, kenapa Hari Ngidam Nasional tak mesti ada? Padahal antara mengidam dengan memiliki anak itu memiliki keterkaitan. Sebagian besar perempuan yang mengandung insya Allah pasti mengidam.  Sementara mengidam adalah salah satu proses yang sering dilalui perempuan sebelum  anaknya lahir. Jadi, antara mengidam dan memiliki anak shahih sudah ada hubungan erat.

Jadi, jika Hari Anak Nasional ada, mari kita adakan juga Hari Ngidam Nasional.

Secara etimologis, mengidam itu berasal dari kata idam, yang artinya ingin. Jadi, ketika idam+imbuhan meng- ia bermakna: menginginkan. Jadi mengidam adalah menginginkan sesuatu. Apa yang diinginkan? Macam-macam dong. Ada perempuan yang ngidam mangga muda, rambutan mengkal sampai ingin mencium kepala botak Pak Ogah. Pokoknya semua keinginan itu—seberapa pun ajaibnya mesti dituruti, kalau tidak—menurut orang tua, anaknya bakal ileran.

Secara terminologis mengidam itu berarti suatu kondisi yang dialami seorang perempuan hamil yang  begitu menginginkan sesuatu, entah keinginan yang bersifat wajar semisal ingin makan pisang goreng pukul dua malam atau ingin digigit vampire ganteng Robert Pattinson. Mengidam, sering bikin sebel suami, terutama kalau keinginannya serba aneh. Nah, sebelum tulisan ini melantur lebih jauh, baiknya saya jelaskan dulu kenapa mesti ada Hari Ngidam Nasional.

Di atas tadi sudah saya sebutkan pengertian mengidam, baik secara etimologis maupun terminologis. Dari dua pengertian itu bisa kita simpulkan mengidam sama dengan sangat menginginkan sesuatu. Penambahan kata’sangat’ ini saya rasa perlu, sebab memang begitulah sejatinya perasaan ibu hamil yang mengidam. Kalau hanya sekadar menginginkan, bisa dipenuhi bisa tidak, tapi kalau sudah sangat menginginkan, itu artinya harus dipenuhi, bila tidak berabe.

Nah, mengapa kita, dalam konteks yang lebih luas tidak merasakan pula rasa mengidam ini dalam diri? Mari kita ibaratkan saja bangsa ini sedang hamil. Rahim bangsa berisi anak-anak masa depan. Anak-anak yang akan meneruskan cita-cita kita untuk menjadikan Indonesia yang lebih baik. Nah, sebelum anak-anak itu lahir, tentu kita harus mengkondisikan diri untuk mengidam. Mengidam apa? Ya, segala yang akan memenuhi harapan kita dong. Misalnya: mengidam supaya keadilan hukum ditegakkan secara substantif, mengidam supaya ada kejujuran dari para pejabat publik mengenai berbagai skandal, mengidam supaya seorang perempuan tua tak perlu duduk di persidangan hanya karena ketauan nyolong tiga buah kakao, atau mengidam supaya Freeport sepenuhnya milik rakyat Indonesia. Kalau kita semua sama-sama mengidamkan hal-hal seperti ini, pastilah Indonesia takkan melahirkan anak-anak masa depan yang ileran.

Coba saja lihat Jepang. Pasca kekalahan di Perang Dunia, mereka semua—mulai dari kaisar sampai akar rumputnya- mengidam supaya bangsa Jepang suatu saat nanti bisa mengungguli pengebom negara mereka. 60 tahun kemudian, kita semua sama melihat, hasil dari mengidam nasional itu, Jepang sukses menjadi negara makmur dengan anak-anak yang tidak ileran.

Nah, berhubung kita harus mencontoh ke yang lebih baik, bukannya justru membandingkan kondisi negara ke yang lebih buruk, Jepang bisa dijadikan teladan. Berkat ‘pencanangan’ Hari Mengidam Nasional, Jepang berhasil menunjukkan pada kita efek positif mengidam massal. Nah, mengapa kita tak meniru pula. Mari kita jadikan satu hari dalam setahun sebagai hari mengidam nasional. Di mana pada hari itu, kita semua sama-sama mengidamkan dan mewujudkan sesuatu yang sangat sangat positif sifatnya.

Pada hari ini, mengidam harus dirasakan oleh seluruh manusia di jagad indonesia. Mulai dari presiden sampai pengemis jalanan. Bila perlu, jangan ada kesibukan apapun di hari itu, selain untuk memenuhi  kebutuhan mengidam.**

Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published.