Jalan Sepi Bernama Homeschooling

 

Setiap kali ada yang berminat meng-hs-kan anaknya, saya selalu bilang, “coba pikir dulu, hs itu banyak pahitnya.” Saya bilang begini bukan karena melarang orang untuk meng-hs-kan anaknya, tapi karena ingin bicara yang pahit-pahitnya dulu tentang hs, sebelum ngomong yang manisnya. Hs itu berat. Hs bukan hasil, ia adalah proses, dan karena ia proses, maka pelakunya pasti akan mengalami jatuh bangun, luka, sakit, pedih. Hs itu berarti memikul tanggung jawab pendidikan anak 100% di atas pundak kita. Kalau anak sekolah, beban itu setidaknya bisa berkurang separuh (bahkan boleh jadi seluruhnya, bagi orangtua yang tidak terlalu peduli), sebab, tanggung jawab mencerdaskan anak dipindahkan ke tangan orang lain. Kalau anak nggak ngerti atau nggak berhasil, orang tua tinggal menyalahkan sekolah.

Tapi di hs nggak begitu. Kalau anak nggak berhasil, yang harus bertanggung jawab penuh adalah orangtua. Seluruh kebutuhan anak akan pendidikan, ditangani orangtua. Orangtua lah yang mikir ni anak mau diajari apa, caranya gimana, targetnya apa, dan seterusnya. Orangtua juga yang mesti mikir, ni ijazah anak dapatnya kayak mana. Apa harus ujian paket atau ambil ijazah internasional saja. Orangtua juga yang harus susah payah ngumpulin portofolio anak untuk memudahkan jalan anak untuk mendapatkan beasiswa nantinya (kalau ada rencana untuk itu). Pendek kata orangtua harus memikul semuanya. Dan itu harus dikerjakan bersama pekerjaan lain, seperti mengurus rumah tangga dan mencari nafkah.
Sulit? ya. Itulah sebabnya kenapa saya selalu bicara hal pahit seperti ini setiap kali ada orangtua yang datang ke saya untuk konsultasi hs. Karena dalam hs yang perlu diperhatikan adalah kepentingan anak, maka tentu saja orangtua harus memastikan diri punya mental dan ketabahan yang maksimal untuk itu. Bila tidak, sebaiknya sekolahkan saja anak secara formal. Bila orangtua terus memaksakan diri, padahal kenyataannya nggak sanggup, yang akan merasakan akibatnya juga anak. Jadi, sebelum memutuskan hs, pikir dulu 1000x.
Bagi saya, menjalankan hs ini pada awalnya cukup sulit. Semenjak Ayesha masih kelas 1 SD sebenarnya dia udah nggak mau sekolah. Setiap pagi, saya dan ayahnya selalu membujuk dia, bahkan setengah memaksa, agar dia mau ke sekolah. Saat naik kelas dua, dia betul-betul tak bisa dipaksa lagi, hingga akhirnya saya izinkan dia untuk tidak sekolah formal selama satu semester. Selama enam bulan saya mengajar dia sendiri di rumah, dan hasilnya, saya dan dia menyerah. Sebabnya ada dua, pertama, saya baru melahirkan sehingga perhatian saya banyak tersita untuk adiknya, dan kedua, Ayesha bosan karena terlalu sering tidak melakukan kegiatan apapun. Akhirnya dia sekolah lagi.
Masalah selesai? tidak. Kejadian berulang. Kembali dia ogah-ogahan ke sekolah. Banyak alasannya. Pulangnya lama, pelajarannya nggak seru, capek, dst. Akhirnya dia saya pindahkan ke SD negeri dekat rumah, tapi dia cuma bertahan dua minggu. Lalu saya dan dia hilir mudik mencari sekolah yang pas untuk dia. Nggak ada yang dia suka. Akhirnya pilihan lama disepakati lagi, homeschooling.
Yang paling berat dari belajar mandiri adalah ketiadaan kawan seiring. Begitulah adanya saya. Di Padang, hs belum familiar bagi kebanyakan orang. Saya mencoba membuat grup Komunitas Homeschooling Padang untuk mencari orangtua yang meng-hs-kan anaknya di Padang, tapi ternyata tak banyak pelakunya. Kalau pun ada, mereka tidak tergabung di grup itu dan dengan demikian saya tidak tahu. Rata-rata orangtua yang saya temui adalah orangtua yang sekadar penasaran dengan apa itu hs, adapun anak, tetap mereka sekolahkan secara formal. Ada juga orangtua yang berniat meng-hs-kan anaknya, tapi usianya lebih kecil dari Ayesha, sementara yang Ayesha butuhkan adalah anak dari beragam usia, lebih kecil dan lebih besar dari dia. Satu lagi yang berat, saya juga sulit berkonsultasi soal materi pendidikan.
Sempat terbersit di benak saya untuk pindah dari Padang, ke Jogja misalnya, yang saya baca-baca, komunitas hs-nya cukup maju, anggotanya pun relatif lebih banyak. Waktu itu sempat sudah bulat rencana kepindahan ini, tapi kemudian Allah berkehendak lain, sehingga kami tetap di Padang sampai sekarang.
Jadi, ya…bagi saya, pada awalnya hs ini sulit. Saya belajar, mencari-cari dan menyusun materi hingga tengah malam. Ketika orang-orang di rumah sudah tidur, saya masih berkutat di depan laptop dan buku-buku untuk merancang materi pelajaran. Kadang bangun pukul dua atau tiga malam untuk mencari materi pelajaran anak-anak di internet (paket download tengah malam kan murah banget ya ^_^ ). Sering, sambil jalan, ketemu teman, menghadiri kegiatan ini itu, benak saya masih mencari-cari metode belajar yang pas. Sering juga, saya nongkrong di kafe hanya untuk bisa wifian, mendownload materi belajar yang kapasitasnya besar-besar, mulai dari paket-paket belajar sampai video-video pendidikan di Youtube. Tak hanya itu, saya juga mesti menyiapkan materi belajarnya. Mulai dari hunting bahan belajar ke grosiran dan toko barang bekas, sampai menge-print, menge-press dan menggunting-guntingnya. Itu semua melelahkan, dan saya pikir, kalau saya bukan sejenis orang yang tahan banting, pasti sudah lama saya menyerah. Yah, setidak-tidaknya sampai sekarang saya masih kuat dibanting-banting begini ^_^
Hs itu berat? ya, menurut saya. Makanya, saya selalu menceritakan apa yang saya lakukan ke semua orang yang datang untuk minta saran hs. Kalau tabah dan bisa konsisten ayo jalan, kalau ndak, lebih baik menyerah dari awal. Alhamdulillah semua yang konsultasi ke saya, pada akhirnya belum jadi meng-hs-kan anak ^_^ (maapkan saya kalau kejam).
Tapi, tenang sodara-sodara, susah payah itu ada di permulaan. Ibarat naik pesawat, masa kritis itu ada pada saat take off, kalau sudah mencapai ketinggian tertentu, pesawatnya akan stabil. Hs begitu juga. Kalau sudah dijalankan selama beberapa waktu, kehidupan akan mulai stabil dan semuanya akan berjalan baik dan menyenangkan. Saking stabilnya, bisa dikendalikan melalui autopilot. Anak-anak bahkan akan belajar sendiri tanpa disuruh, bahkan, kalau nggak belajar, mereka akan mencari-cari bahan belajarnya sendiri. Begitulah ya. Hal termanis yang saya rasakan dari hs adalah, anak-anak jadi punya mental pembelajar. Mereka selalu butuh mempelajari dan membaca apa saja. Ayesha misalnya, saat ini dengan kemauannya sendiri mempelajari cara membuat film melalui aplikasi-aplikasi videomaker. Ia juga membuat majalah online-nya sendiri. Anak saya yang kedua, Alifa, membawa buku tulisnya ke mana-mana, dan sering menyalin kata-kata yang muncul di pikirannya ke buku. Ia sudah bisa membaca, tapi belum fasih (membaca pun ia pelajari sendiri caranya), jadi ia kerap bertanya susunan huruf dalam sebuah kata tertentu (Misal:Bu, kalau sepatu itu seperti apa tulisannya. Kalau dengung itu bagaimana cara menulisnya? dll)
Hs itu memang tidak mudah, butuh kemauan yang kuat, ketabahan dan kekuatan mental dalam menjalaninya, tapi, hs membuat orangtua dan anak terus mempelajari hal-hal baru, dan insyallah, orang yang selalu berupaya belajar, akan beroleh hal manis dalam hidupnya.
Insyaallah sehabis ini saya akan menulis bagaimana cara saya menjalankan hs di rumah.
Share Button

One Reply to “Jalan Sepi Bernama Homeschooling”

  1. uka

    kisah yang menarik bun, saya juga ingin menyelenggarakan hs buat anak2, moga bisa menerima pahit untuk bisa stabil, biar anak2 bisa punya mental pembelajar

Leave a Reply

Your email address will not be published.