Bukan Anak yang Membuat Repot

Sebagian kita mungkin sering mendengar kalimat seperti ini: “Ah, aku mana bisa ke situ, ni anak mau dikemanain”, atau “aku pingin sih bisa melakukan ini itu di luar, tapi anak-anak gimana? mau ditinggalin ama siapa?” Kalimat-kalimat semacam ini, entah sekadar apologi atau memang kenyataannya begitu, umumnya meluncur dari ibu-ibu macam saya. Keinginan hendak berbuat besar, apa daya anak-anak (seperti) jadi penghalang.

Sebegitu beratkah jadi ibu rumah tangga sehingga mereka harus mengorbankan semua mimpi dan cita-cita pribadi demi keluarga? Benarkah, untuk menjadi seorang istri dan ibu terbaik, harus dengan menginjak harapan-harapan pribadinya? Saya tidak yakin begitu. Seorang yang terpaksa melupakan mimpi-mimpi pribadinya, menurut saya sulit benar-benar bahagia,sebab ia tidak menjadi dirinya. Jika dia kurang bahagia, bagaimana ia bisa mendidik anak-anaknya dengan bahagia? Bukankah pada akhirnya, kekurangbahagiaan ibu, juga akan mempengaruhi keluarga secara keseluruhan? jadi, bagi saya, hal ini krusial sekali, sehingga patut diperhatikan juga oleh para suami.

Sejak saya memiliki anak, saya tidak penah berpikir bahwa anak saya akan menjadi semacam beban atau penghalang untuk mewujudkan keinginan-keinginan saya. Anak bisa dibawa ke mana-mana kok. Justru, dengan banyak dibawa melihat dunia luar itu mereka akan tumbuh menjadi anak yang cerdas. Mereka akan belajar bagaimana berinteraksi, membangun hubungan, menilai situasi, dan hal-hal lain yang tidak diajarkan di bangku sekolah. Dunia luar bisa menjadi sekolah kehidupan bagi anak. Saya banyak belajar dari para pedagang di pasar tradisional untuk hal ini. Saya sering melihat, para pedagang membawa bayi mereka yang masih merah, lalu ditidurkan begitu saja di atas lapak dagangan, kadang bersebelahan dengan tomat dan sayur-sayuran. Jika memungkinkan, mereka akan membuat ayunan gantung untuk menidurkan anak, atau menjadikan kolong meja sebagai tempat tidur yang cukup nyaman. Ada di antara mereka yang selisih usianya hanya beberapa hari dari anak bungsu saya. Seingat saya, beberapa hari setelah anak itu lahir, ia sudah dibawa jualan di lapak ibunya yang becek. Anak itu besar dengan aroma pasar. Ia tidak takut sama sekali dengan orang-orang, karena sudah terbiasa melihat ribuan orang berlalu lalang saban hari. Dalam usia tiga tahun dia sudah tahu bagaimana berinteraksi dengan orang-orang dari beragam usia. Ada pula anak lain yang usianya sekitar 10 tahun. Karena sudah terbiasa membantu ibunya berdagang, dia tahu berapa harga barang sampai ke ukuran pecahannya. Kalau misalnya harga sekilo tomat 8 ribu, dia bisa dengan mudah menghitung berapa harga tomat 1kg +3 ons. Juga enteng baginya menghitung berapa kembalian uang. Anak-anak di pasar itu menjadi bukti nyata bagi saya, bahwa anak itu seperti air. Dia akan menyesuaikan diri sesuai wadah tempatnya berada. Jika orangtuanya x dia pun akan x, jika orangtuanya y dia pun akan y. Filosofi pendidikan anak bagi saya, antara lain berangkat dari teori ini.

Saya mengurus anak-anak saya, dan di sisi lain, saya tidak melupakan diri saya. Itu poin penting tulisan ini. Sebab, saya tahu, jika saya melupakan diri saya, saya tidak akan bisa lagi mengenalinya suatu saat nanti. Saya tetap berjalan lurus ke cita-cita saya, dan bersama dengan itu, saya menyiapkan semacam gerobak untuk membawa anak-anak. Saya tidak meninggalkan mereka, saya memilih mengajak mereka. Di sepanjang perjalanan itu, mereka belajar untuk menjadi diri mereka sendiri, memiliki cita-cita dan menggapainya, sebagaimana mereka lihat ibu mereka melakukannya. Menurut saya, motherhood atau parenthood yang sehat itu ya seperti itu. Tak ada yang saling meninggalkan. Ketika semua bersepakat untuk mendukung satu sama lain, maka sebuah tim yang kompak akan muncul.

Saya mendaftar kuliah saat anak pertama saya masih berusia 4 tahun. Saat kuliah, saya melahirkan dua kali. Saya hanya cuti satu semester untuk masing-masing kelahiran. Total semester yang saya tempuh semasa kuliah ada 10. IP saya tetap bagus (3,79), saya menulis novel (5 buku saya terbit semasa kuliah), saya juga dua kali memenangkan lomba menulis. Tak cuma itu, saya juga membentuk komunitas jurnalistik di kampus, dan menjadi editor halaman kampus yang digarap komunitas saya untuk koran Haluan.

Apakah suami saya tidak bekerja? sebaliknya. Justru semasa saya kuliah itulah aktivitas suami saya meningkat luar biasa. Dalam sebulan, separuhnya ia habiskan di luar daerah. Jam kerjanya dari pagi sampai sore, bahkan kadang sampai subuh. Bagaimana rasanya sering ditinggal suami, di saat aktivitas begitu banyak, asisten rumah tangga tak punya, anak-anak masih kecil pula? Biasa saja. Capek sih iya, tapi seingat saya semuanya dijalani dengan senang dan penuh semangat saja. Paling-paling, kalau suami saya pergi terlalu lama, saya telepon mama atau mertua saya supaya menemani.Kalau saya kuliah, anak-anak dibawa. Kebetulan di dekat kampus ada playgroup dan tempat penitipan anak. Saya nitipnya cuma sebentar. Pas kuliah aja. Paling lama 5 jam, itu pun saya jenguk tiap 1,5 jam.

Jadi, saya pikir, mestinya tak ada alasan bagi seorang ibu untuk tidak mencapai mimpinya, selama dia bisa menyiapkan ‘gerobak’ untuk membawa anak-anaknya. Keluarga Halilintar saya kira bisa menjadi contoh yang baik, bagaimana orangtua tetap mengejar keinginan mereka untuk keliling dunia, tanpa melupakan anak-anaknya. Bahkan 11 anak pun tidak menjadi penghalang. Bukan anak yang membuat repot sesungguhnya, tapi pikiran kita.

Berikut ini beberapa hal yang perlu diperhatikan jika seorang ibu ingin mengejar cita-citanya. Daftar ini saya buat berdasar pengalaman pribadi saja.

1. Fokus

Fokuskan keinginan ke satu atau dua titik saja. Buat rencana kerja. Rinci langkah-langkah yang akan diambil untuk mencapai cita-cita tersebut. Misalnya, ingin menjadi koki yang dikenal. Rancang langkah-langkahnya: buat blog, upload resep, bikin kanal youtube, dst. Atau kalau seorang ibu bercita-cita jadi fotografer, langkah-langkahnya mungkin: nabung buat beli kamera dslr, belajar teknik fotografi, bikin akun instagram dan upload semua foto di situ, mengikuti lomba fotografi, bergabung dengan klub fotografi, bikin studio foto, dst.

2. Ubah mindset

Ubah mindset tentang anak. Jangan anggap dia makhluk kecil yang perlu diurus setiap waktu, anggap dia makhluk yang bisa diajar mengurus dirinya sendiri. Anggapan begini akan membuat kita belajar melatih dia untuk mandiri. Tanamkan ke pikiran kita, bahwa dunia luas adalah sekolah bagi mereka. Mata pelajarannya adalah semua kegiatan kita.

3. Rileks

Santailah setiap kali membawa anak. Jika kita santai dan nyaman, anak-anak pun akan nyaman. Mereka menjadi tenang. Antara ibu dan anak ada hubungan batin yang sangat kuat. Jika ibunya resah dan tidak nyaman, anak-anak pun akan rewel.

4. Ciptakan kondisi yang membuat anak nyaman

Saya membawa barang-barang yang bisa menyenangkan hati anak untuk jaga-jaga kalau mereka merasa nggak nyaman dalam kegiatan saya. Biasanya yang saya bawa: makanan  dan minuman (sudah pasti lah ya), buku cerita, buku gambar dan alat tulis.

5. Saat di rumah, jika harus mengerjakan sesuatu yang berhubungan dengan kegiatan kita, pastikan itu dikerjakan saat anak-anak tidak membutuhkan kita. Saya dulu biasanya menulis atau mengerjakan tugas-tugas kuliah ketika anak-anak tidur siang (atau malam). Sekarang, setelah anak-anak besar, saya mengerjakannya ketika mereka sedang asyik bermain (dan tidur). Kadang saya mengerjakannya di kafe. Pernah beberapa kali saya mengajak anak menemani saya nulis di kafe. Mereka hepi-hepi aja nongkrong di situ sambil makan minum es krim. Kalau udah bosan ngobrol sesama mereka, anak-anak saya akan membaca, menulis atau menggambar. Mereka sudah tahu kalau saya nulis nggak boleh diganggu.

6. Waktu untuk menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan kita tidak boleh merampas waktu berharga bersama keluarga

7. Biasakan membacakan buku untuk anak setiap malam menjelang tidur. Biasakan memeluk mereka setiap hari. Biasakan mengajak mereka jalan-jalan, nongkrong bareng mereka, dan mengajak mereka cerita-cerita tentang apa saja. Saya sering lho nongkrong bareng anak saya. Saya kadang ke kafe cuma buat ngobrol aja ama mereka (sebenarnya kita bisa melakukan ini di rumah kan, tapi kalau melakukannya di tempat lain, rasanya akan beda. anak-anak pun akan senang. Hubungan kita dengan mereka bisa perlahan menjadi teman. Mereka tak akan segan berbagi rahasia)

8 Disiplin. Buatlah rencana harian atau mingguan agar tidak terluput mengerjakan sesuatu. Disiplinlah mengerjakannya.

9. Ajak suami bicara mengenai hal ini. Jangan biarkan relasi suami-istri seperti patron-anak buah. Jadikan hubungan itu cair, seperti mitra, kawan seiring, sepemikiran. Bangun respek. Sering-seringlah tertawa bersama, bercanda. Suami istri yang banyak tertawa, menurut sebuah penelitian, akan memiliki ikatan yang jauh lebih mesra dan kuat, ketimbang yang bukan.

 

 

Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published.