Ketika Aku Terkena Baby Blues

Sebagian suami tidak mengerti mengapa ada perempuan yang tega menolak bayi mereka sendiri, padahal bayi itu lahir dari hubungan yang sah. Para lelaki ini hanya tidak tahu, bahwa kondisi psikis perempuan dalam menerima bayi beda dari lelaki. Seorang bayi juga membawa perubahan yang ekstrim dalam hidup perempuan. Benar, bahwa lelaki juga harus menghadapi perubahan yang sama, namun kadar dan bentuknya beda. Dan lagi, karena selama berbulan-bulan sang bayi berada dalam tubuh perempuan, maka ia jauh lebih kenal dengan ibunya sendiri. Ia jauh lebih kenal ritme jantung ibunya, pikiran-pikirannya, perasaannya, kegelisahannya. Wajar, jika kemudian ia lebih ingin lekat dengan sang ibu. Ini membawa konsekuensi yang tidak sedikit bagi sang perempuan. Saya pikir, para suami harus memahami hal ini.

Bagaimana Perempuan Setelah Bayi Lahir

Sebelum bayi hadir, seorang perempuan adalah insan yang merdeka. Ia bebas pergi kemana pun ia mau. Ia tak punya tanggung jawab apapun selain untuk membahagiakan dirinya sendiri. Ia boleh jadi memiliki bentuk tubuh yang langsing, dan itu menyenangkan hatinya. Ia juga tidak harus punya kewajiban harus mengurus orang lain. Ia bebas menentukan jadwal hariannya. Setelah ia jadi istri, ia akan mulai diikat kewajiban tertentu. Misalnya mengurus makan minum suaminya, tapi semua pekerjaan itu boleh jadi adalah pekerjaan yang biasa ia lakukan juga di rumah bersama orang tuanya. Jadi, itu bukan masalah besar.

Namun, ketika seorang bayi mulai hadir di rahimnya, ia harus menghadapi hal-hal berikut:

1. Bentuk tubuhnya berubah, dan ini mulai tak menyenangkan sebagian perempuan

2. Seiring besarnya bayi di rahim, kenyamanan tidurnya mulai berkurang.

3. Ia mulai dilanda kecemasan-kecemasan akan bayinya. Bagaimana jika bayinya tidak cukup gizi?

4. Ia mulai dilanda kecemasan memasuki persalinan. Ia takut menghadapi sakitnya.

Setelah bayi lahir, perempuan harus menghadapi hal seperti ini:

1. Ia masih lelah sehabis melahirkan, namun ia tak boleh menolak jika bayinya menangis. Ia harus mau bangun tiap dua jam sekali untuk menyusuinya. Bahkan, ia harus rela begadang semalam suntuk jika bayi rewel. Ia juga harus mengurus bayi sepanjang waktu. Mulai dari mengganti popoknya (bayi baru bisa pipis tiap setengah jam sekali), sampai menenangkannya jika bayi rewel. Bayangkan ini, si perempuan sangat capek dan masih kesakitan sehabis melahirkan, tapi ia harus mengurus seorang makhluk, tanpa bisa melakukan negosiasi dengannya.

2. Sebelum punya bayi, si perempuan biasa mengatur hidupnya sendiri, namun setelah bayi lahir, ia harus menuruti jadwal bayi. Jadwal laparnya, pipisnya, ngantuknya, dll. Si perempuan harus menghadapi ini semua selama 24 jam tanpa henti.

3. Perubahan hormon di tubuhnya juga membuat perubahan pada psikis si perempuan. Semua ini akhirnya menumpuk dalam dirinya, apalagi jika ia tak dibantu. Akhirnya ia frustasi, bersedih tanpa sebab, dan ekstrimnya, pada beberapa kasus, sang ibu mulai menyalahkan bayinya, dan menyakitinya. Saya pernah mendapat cerita, kalau saudara teman saya sampai membekap wajah bayinya dengan bantal saking frustasinya, untung cepat ketahuan, dan bayinya terselamatkan.

Pengalaman Saya

Mengalami baby blues apalagi sampai depression post partum (baby blues parah) adalah sesuatu yang sangat saya takuti. Saya takut tidak berdaya mengalami perasaan-perasaan macam begitu. Ketika saya mengandung anak kedua, saya mulai merasa ada yang ganjil dengan perasaan-perasaan saya. Suami saya waktu itu sering bepergian yang membuat saya merasa sendirian menghadapi kehamilan. Saya mencoba mengalihkan perhatian ke tugas-tugas kuliah namun sulit, karena kemudian anak pertama saya mengalami tantrum. Konon kata orang, itu karena dia mau punya adik, jadi dia minta perhatian. Saya sedikit merasa stress waktu itu. Saya merasa hal ini tak baik, jadi saya membaca majalah-majalah kehamilan, mencari tahu soal baby blues dan lainnya. Suami saya juga membelikan beberapa buku yang isinya bertujuan memberi ketenangan pada ibu hamil. Namun, saya masih gelisah.

Suatu malam saya mengajak suami saya membicarakan hal ini. Dia mendengarkan dengan baik. Saya mengatakan bahwa saya kadang merasa frustasi. Sedih tanpa sebab. Saya takut kalau mengalami baby blues pasca kelahiran. Saya menunjukkan padanya apa-apa saja yang harus dia lakukan jika terjadi sesuatu pada psikis saya nanti. Pertama, dia harus mau mendengarkan saya. Hanya mendengarkan, tanpa memberi nasehat macam-macam. Kedua, dia harus menaruh simpati empati pada saya. Ketiga, dia harus membantu saya. Keempat, dia harus menyenangkan hati saya. Dia setuju dan memeluk saya, berkata bahwa semua akan baik-baik saja.

Saat saya melahirkan, suami masih di Makassar. Kelahiran itu sebenarnya tak terduga. Saat periksa kehamilan dengan USG 4 dimensi, dokter menemukan bahwa tali pusar sudah mengalami pengapuran, dan ini berbahaya bagi janin. Bayi saya harus segera dikeluarkan. Saya mulai stress, kandungan saya belum lagi cukup 8 bulan. Saya menelepon suami sambil menangis. Dia mendengarkan dan membesarkan hati saya. Hanya selang sehari setelah pemeriksaan USG itu saya pun dioperasi (kelahiran anak pertama saya melalui operasi. Kata dokter, saya bisa melahirkan normal, jika kontraksi terjadi secara alami, namun karena bayi kedua saya belum cukup 9 bulan dan kontraksi alami belum terjadi, riskan jika melahirkan dengan kontraksi buatan). Di meja operasi, mungkin karena saya stres dan segala macamnya, terjadi insiden yang yah…membuat trauma pada saya, yang akhirnya membuat saya makin depresi pasca operasi. Apalagi, kualitas tantrum anak pertama saya menjadi-jadi.

Pagi setelah operasi, saya berjuang membesarkan hati. Susah sebenarnya tetap berpikir sehat dan rasional saat mengalami depresi, tapi saya berjuang dengan banyak berzikir. Saya benar-benar sendirian saat itu. Perawat mengantarkan bayi saya. Betapa kecilnya dia, beratnya cuma 2,3 kg. Saya cium dia. Betapa harum. Dia tak layak menerima depresi saya. Berkali-kali saya berbisik ke telinganya sambil menangis, “Ibu menerimamu dengan sepenuh hati, Nak. Ibu menerimamu masuk ke hati Ibu. Ibu mencintaimu sepenuh-penuh hati.”

Saya menyentuhkan pipi saya ke pipinya, saat itu, saya merasa bayi saya menolong saya. Dia menatap saya. Matanya sangat jernih, ia tampak seperti malaikat. Tiba-tiba saja saya merasa tenang sebagai seorang ibu. Saya dekap dia sepenuh hati.

Esoknya, suami saya mendarat di Padang. Ia langsung ke rumah bersalin. Padanya saya tumpahkan semua perasaan saya. Dia memahami dengan baik. Dia mendengarkan semua keluh kesah saya tanpa menyela sedikit pun, padahal saya tahu dia sangat capek waktu itu setelah penerbangan panjang Makassar-Jakarta-Padang. Saat-saat itu menjadi saat-saat yang sangat intim bagi kami berdua, di mana jiwa kami bertemu dan menjalin, untuk saling menyelami perasaan satu sama lain.

Akhirnya semua menjadi mudah bagi saya ketika kami kembali ke rumah. Suami saya–seperti janjinya–banyak mendengarkan, membantu dan memperhatikan semua kebutuhan saya. Dua minggu pasca persalinan, perasaan saya perlahan membaik. Sebulan setelahnya saya mulai bahagia. Suami saya banyak membelikan buku-buku yang menyenangkan perasaan saya. Anak pertama saya tak lagi tantrum. Mungkin karena perasaan saya sudah membaik, maka hal itu pun menular padanya.

Saya bahagia akhirnya semua persoalan psikis itu teratasi. Kalau bukan berkat suami saya, saya tak yakin bisa melaluinya dengan cepat. Karena itu, saya sering kali berpesan pada para ayah baru, tolonglah istrimu, dengarkanlah dia, banyaklah menaruh simpati-empati padanya. Sebab, badai yang melanda psikisnya pasca kelahiran bayi, akan mampu diredakan oleh perhatian dan kasih sayangmu.

Berdasarkan pengalaman saya, cara-cara melawan baby blues bisa dilihat di sini

 

 

Share Button

6 Replies to “Ketika Aku Terkena Baby Blues”

  1. akbar

    mbak, saat ini kondisi istri saya sangat mirip dgn yg diceritakan mbak Maya…

    baby blues (mungkin)
    anak kedua lahir prematur
    anak pertama tantrum hampir tiap malam
    sementara saya (suami) kerjanya jauh…

    bisa kah saya minta contact number atau email agar istri punya semacam teman berbagi?

    karena kawan2 kami hampir ga ada yg kondisi nya kayak kami, berjauhan…

    saya selalu merasa istri sangat kesepian…

    • Lady

      Baby blues biasanya sampai brp lama?
      Smpe skrng anak saya berumur 4bulan pun entah psikis atau babyblues. Saya sering emosi yg ga stabil.
      Saya merasa kesel dan sebel jika anak saya di bawa orng lain..saya merasa orng2 mengambil hak saya sbg seorang ibu.
      Semua ingin mengatur ttg mengasuh n mengatur anak saya.
      Apakah iTu namanya babyblues??

      • admin

        Itu namanya terlalu protektif pada anak, Bu. Itu perasaan yang wajar saja, lahir dari naluri ingin melindungi anak, hanya saja jangan sampai keterusan hingga ia besar nanti.

  2. Nevia

    Saya juga sempat (dan masih sepertinya) mengalami babyblues mbak. Anak pertama saya bisa lahir di usia kehamilan 36mg, stlh melahirkan kondisi di rumah saya (kebetulan saya satu rumah dgn org tua saya) tdk kondusif karna suami dan ayah saya tdk akur. Setelah usia bayi satu bulan saya pindah rumah ke rumah milik sendiri beserta suami. Lingkungan yg baru, harus beradaptasi lagi dan saya masih panik dlm mengurus bayi karna biasa dibantu oleh ibu skrg hrs benar2 mandiri. Setelah pindah ke rumah baru, anak saya rewel terus setiap hari. Sempat saya bersugesti ke hal2 gaib karna orang bilang bayi itu masih wangi masih bisa melihat hal2 yg kita tdk bisa lihat sbg org dewasa. Karna sugesti itu saya semakin stress. Tapi saya blm menyadari kalau saya sdg mengalami babyblues. Saya baru sadar stlh ibu mertua saya bertanya ke orang pintar dan menurut org pintar tersebut rumah yg kami tempati bersih, tdk ada makhluk halusnya. Dan anak saya rewel karna saya yg sedang mengalami syndrome babyblues. Barulah dari situ saya sadar bahwa memang akhir2 ini saya seperti sedang stress tetapi tdk tau apa penyebabnya. Kalau melihat faktor penyebabnya, saya rasa banyak. Saya yg blm terbiasa mengatur waktu antara melakukan pekerjaan rumah dan mengurus bayi. Kondisi di rumah orang tua saya yg tdk kondusif dan saya beserta suami yg baru pindah rumah. Saya bercerita kepada suami tetapi sayangnya suami saya msh blm paham dan mengerti dgn apa yg saya alami. Pdhl untuk babyblues itu sendiri menurut saya tdk bisa kita atur sesuka hati seperti halnya mengatur mood. Suami saya msh berpikir bahwa babyblues adalah mood yg bisa kita atur dgn mudah. Mohon pencerahannya supaya suami saya mau mengerti kondisi saya saat ini karna saya sendiri merasa sangat frustasi dgn babyblues ini. Terimakasih.

Leave a Reply

Your email address will not be published.