Dodi yang Mudah Kesal

Cerpen ini sudah dimuat di Majalah Bobo

Kata orang, Dodi anak yang nakal. Tapi, dia tak pernah merasa dirinya nakal. Menurutnya, menunjukkan sikap tak senang terhadap sesuatu yang tak ia sukai boleh-boleh saja. Toh ia sudah besar. Anak yang sudah besar, boleh melakukan apa pun sekehendaknya.

Seperti sore ini. Ada seorang anak yang tinggal di ujung gang bernama Rudi. Badan Rudi besar, begitu pula suaranya. Kalau ia berteriak, Dodi yang tinggal di ujung lain dari gang itu, bisa mendengarnya. Namun, meski badannya besar, Rudi kerap dipanggil si Loyo. Soalnya dia memang selalu terlihat loyo. Kata orang dia penyakitan. Kalau berjalan, sebelah kakinya bengkok, hingga jalannya seperti tersandung-sandung. Kadang, setiap kali berjalan, ia mengences banyak sekali, hingga orang juga memanggilnya si Ngences.
Dodi tidak menyukai Rudi. Menurutnya anak itu sangat menyebalkan dan menjijikkan. Ia heran juga kesal, kenapa harus bertetangga dengan manusia aneh seperti itu. Ia tidak suka sering-sering melihatnya.
Sering, setiap kali Rudi duduk di dekat tempat Dodi bermain, Dodi melemparinya dengan batu-batu kerikil. Ia akan terus melempari hingga Rudi pergi. Kadang Rudi pergi sambil menangis, tapi lebih sering ia diam saja. Dodi berani melakukannya karena tahu Rudi pasti takkan mengadu pada ayah ibunya. Ya, soalnya Rudi tidak bisa bicara. Ia hanya bisa berteriak-teriak ‘aaa’ atau ‘uuu’.
Pernah suatu kali Rudi membuntuti Dodi yang asyik bermain sepeda. Begitu mengetahuinya, Dodi marah bukan main. Diambilnya kayu kecil lalu dilemparnya ke Rudi. Setelah itu ia mengayuh sepedanya kencang-kencang. Ia sungguh tidak suka dengan Rudi, dan tidak mau bertemu dengan anak itu. Menurutnya, yah…Rudi itu menyebalkan dan menjijikkan.
Sebenarnya bukan pada Rudi saja Dodi berlaku demikian. Pada hewan pun juga begitu. Suatu kali, karena kesal mendengar si Guguk menyalak terus menerus, ia melemparinya dengan batu besar hingga kepala Guguk berdarah. Guguk adalah anjing peliharaan Siska, tetangga depan rumah Dodi. Pernah pula suatu kali, sepulang sekolah Dodi melempari rumah Jarot. Ia kesal karena waktu ulangan di sekolah Jarot tidak mau menunjukkan jawaban soal. Lemparan Dodi tepat mengenai kaca rumah jarot. Tau sendiri apa yang terjadi. Jendela kaca itu pecah. Untung saja tak seorang pun yang terluka.
Kata orang Dodi anak nakal, tapi Dodi tak merasa ia nakal. Menurutnya menunjukkan sikap tak senang itu boleh saja. Toh ia sudah besar.
**
Suatu sore, Dodi mengambil sepedanya dan mulai bermain. Ia suka bermain sepeda setiap sore. Ia mengayuh sepedanya sampai ke warung Ibu Mar yang terletak di ujung komplek perumahannya. Pernah pula ia pergi sampai ke jalan besar. Menurut Dodi, bersepeda itu menyenangkan.
Sambil bersepeda Dodi teringat dengan kakeknya di kampung. Kemarin malam kakek menelepon. Kata kakek ia rindu sekali dengan Dodi. Kakek ingin supaya Dodi liburan di kampung seusai menerima raport. Kakek akan membawa Dodi memanen padi dan menangkap ikan di sungai. Membayangkannya Dodi jadi bersemangat. Ia suka sekali dengan kakeknya. Ia tak sabar menunggu masa liburannya.
Saking asyiknya melamunkan kakek, Dodi tidak melihat arah sepedanya. Ia tidak memperhatikan ketika ban depan sepedanya mulai mengarah ke got komplek. Ia terus melamun, melamun dan melamun hingga akhirnya…byuurrr…ia tercebur.
“Waaaa!” teriak Dodi kaget. Ia terjepit antara dua dinding got yang sempit serta sepedanya. Arah ban depan sepedanya berputar hampir 180 derajat.
Dodi mencoba bergerak, tapi tak bisa. Sepeda itu menghimpit tubuhnya, dan ia juga terjepit. Ia berupaya menggeser sepeda itu tapi sulit. Ia butuh bantuan! Tapi tak seorang pun nampak di jalan yang dilaluinya. Sepi.
Ia mencoba bergerak lagi. Sulit. Mencoba lagi, sulit. Dodi berteriak, tapi entah kenapa tenggorokannya terasa perih. Ia tak ingat apakah tadi lehernya terantuk saat jatuh atau tidak. Ketika berteriak, suara yang keluar terdengar kecil. Dodi mulai menangis.
Tiba-tiba dari ujung gang ia melihat sesosok tubuh berjalan tersandung-sandung. Diperhatikannya lebih jelas. Ternyata Rudi, si Loyo atau si Ngences. Satu tangannya memegang sebuah kayu kecil.
‘Oh, tidak,’ mendadak Dodi ketakutan. Di jalanan yang sepi ini, dan di saat ia tak berdaya, sungguh mudah bagi Rudi untuk membalas semua perlakuan Dodi selama ini.
Rudi kian mendekat, lalu berhenti di dekat Dodi. Dodi tak berani berkata-kata, bahkan untuk sekadar menatap Rudi. Dalam ketakutannya, ia lupa menangis.
Rudi membungkuk.
“Aaa…uuu?” gumamnya tak jelas. Dodi memandangnya. Lalu tiba-tiba Rudi melemparkan kayu di tangannya. Secara tak terduga, ia memegang sepeda Dodi lalu mencoba mengangkatnya. Sepeda Dodi cukup berat, dan bagi orang seperti Rudi yang tubuhnya lemah, sepeda itu terasa sangat berat sekali.
Rudi terus mencoba mengangkat sepeda itu. Ia mencari akal untuk mengeluarkannya dari got. Diputarnya ban depan sepeda Dodi ke arah yang benar, lalu diangkatnya sepeda itu sedikit demi sedikit. Tak lama kemudian, ia berhasil mengangkat sepeda itu ke jalan.
Diulurkannya tangannya untuk membantu Dodi keluar dari got.
Dengan ragu Dodi menyambut uluran tangan itu. Dalam hati ia merasa gamang.
“Aaa…uuuu,” kata Rudi begitu Dodi berhasil keluar dari got.
Dodi berdiri di depan Rudi dengan wajah malu. Untuk beberapa lama ia tak tahu harus bersikap apa.
“Terima kasih,” katanya setelah tiga menit berpikir, lalu katanya, “ayo pulang.”
Ia mengambil sepedanya dan memberi isyarat pada Rudi untuk duduk di boncengannya. Ia mengayuh sepeda perlahan-lahan ke arah rumah.
Sore itu, orang-orang sepanjang gang rumah Dodi heran, mengapa Dodi sore itu, dan di sore-sore berikutnya, mau memboncengkan Rudi kemana-mana dengan sepedanya. Memang itu agak aneh, tapi kalian semua pasti tahu sebabnya.
**

Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published.