Anak Gadis Keempat

(Cerpen ini sudah dimuat di Majalah Annida)

“Dengar-dengar, di rumah sebelah ada seorang lagi anak gadisnya.”
Kutolehkan kepala sejenak ke arah yang berbicara. Lalu kembali menekuni bahan-bahan makalahku. Gadis? Tetangga sebelah? Ah, di kampus juga bertebaran begitu banyak.

“Hmm,” aku hanya menggumam, pikiranku lebih fokus ke bahan-bahan makalah. Dua hari lagi harus dikumpulkan dengan panjang tulisan minimal 28 halaman tak termasuk cover dan kata pengantar. Ini tugas kuliah paling gila yang pernah aku terima. Bukan Cuma gila karena jumlah halaman yang kelewat banyak tapi juga karena tugas itu datang di tengah menumpuknya berbagai macam tugas yang terpaksa dipending sana-sini.

“Kata orang anaknya cantik.”
Cantik? Berapa banyak gadis cantik bertebaran di kampus? Setiap hari aku melihat mereka bergantungan di bus –lengkap dengan aroma parfum– dengan tas super feminin di bahu. Aku tak tertarik. Gadis-gadis cantik sudah terlalu banyak. Tak terhitung.
“Tapi dia nggak pernah keluar rumah.”

Juga bukan berita luar biasa. Berapa banyak gadis yang dipingit orangtuanya di rumah karena takut si anak akan terbawa arus zaman yang kian menggila? Aku tak tertarik mendengarnya. Zaman memang sudah terlampau edan. Para orangtua tak ingin anak-anaknya ikutan edan.
“Dia tak pernah pergi ke sekolah. Semenjak kecil dia selalu belajar pada guru privat. Kasihan.”
Nah, ini dia….
Aku mengangkat kepala. Ternyata ada juga cerita aneh macam begini.

“Secantik apa anaknya?” tanyaku heran, “Secantik bidadari? Secantik bulan? Bintang? Sampai-sampai orang-orang tak diperkenankan melihat dia?”
Prapto, yang memberi informasi mengangkat bahu.
“Nggak tahu. Aku cuma dengar cerita orang-orang.”
“Kamu pernah melihat anak itu?”
“Nggak.”
“Sekilas saja?”
“Nggak.”
“Siapa yang kasih tahu kamu?”
“Didi.”
Didi itu satpam rumah sebelah.
“Didi pernah melihat anak itu?”
“Nggak.”
Lho?
“Trus, dari mana dia tahu?”
“Siti.”
“Siapa Siti ini?”
“Tukang masak rumah sebelah.”
“Dia pernah lihat anak itu?”
“Tiap hari malah. Dia yang melayani anak itu makan minum.”

Nah, ini dia baru berita. Mendadak aku tertarik. Seorang gadis kaya. Cantik. Terkurung di rumah besar nan mewah. Kenapa?
“Kenapa dia dipingit begitu?”
“Tak ada yang tahu.”
“Siti?”
“Entah. Dia tak cerita.”
“Didi?”
“Apalagi. Ngeliat gadis itu aja dia belum pernah.”

Ini baru betul-betul berita. Bahan-bahan makalahku terlupa. Sejenak. Dua jenak. Tiga jenak.
“Sekali pun si gadis ini tak pernah keluar rumah?”
“Kalau keluar si Didi pasti tahu.”
“Sopirnya? Pak Bram?”
“Kurang tahu ya. Aku nggak kenal betul dengan Pak Bram.”
“Orangtuanya?”
“Kayaknya nggak pernah cerita tuh.”
“Kenapa?”
Prapto terdiam. Kali ini agak lama. Keningnya berkerut-kerut sejenak.
“Oh, kamu nggak tahu, ya?” ku jawab sendiri pertanyaan itu.
“Bukan. Sepertinya, orangtuanya tak ingin keberadaan anaknya diketahui orang.”
**

Semenjak percakapanku malam itu dengan Prapto. Tanpa sadar aku mulai memperhatikan rumah besar itu dari balkon terasku di lantai dua. Balkon terasku ini tepat-tepat menghadap ke sebuah jendela besar rumah itu. Baru aku sadar kalau jendela itu tak pernah terbuka. Kalaupun terbuka, maka tirai besar akan menutupi pandangan. Berbeda dengan jendela-jendela lainnya yang juga menghadap ke arah rumah kostku ini.

Aku mulai pasang sikap. Mulai mengamati. Mulai mencurigai. Kenapa dari sekian banyak jendela hanya satu jendela itu yang tak pernah terbuka?
“Aku sudah tanya lagi ke Didi.”
Suatu waktu Prapto membuka cerita. Topiknya mengenai gadis misterius di rumah sebelah yang tak pernah terlihat sekalipun bayangannya.

“Apa?” tanyaku. Kami duduk-duduk di balkon kamarku. Prapto nyandar di pagar besi sedang aku lurus menghadap ke rumah besar itu.Tepat dari sini, mataku bisa melihat jendela besar yang aneh itu. Kenapa selama ini tidak pernah terperhatikan?
“Gadis itu memang tak pernah keluar. Namun dia jelas ada.”
Aku sungguh-sungguh ingin tahu kini. Semakin lama kasus ini terasa semakin menarik. Seorang gadis misterius. Sebuah jendela yang tak pernah terbuka. Sebuah rumah besar yang dihuni orang kaya. Apa hubungannya? Mengesankan karena sepertinya semua itu tak berhubungan sama sekali. Pemilik rumah itu Pak Sundjaya. Pengusaha sangat sukses. Juga seorang anggota dewan yang terhormat.
Kalau aku tak salah mereka punya empat orang anak. Kecuali yang sulung, semua anaknya pernah aku lihat meski tidak kenal secara pribadi. Tiga perempuan dan satu laki-laki. Belum satupun yang menikah. Yang sulung, perempuan sekarang ada di Inggris. Kuliah disana. Yang kedua dan ketiga kuliah di sebuah universitas swasta terkenal di pulau Jawa, sedang yang bungsu, masih SMA.
Jika memang ada seorang lagi penghuni di rumah keluarga itu, seorang gadis. Siapa dia?

Aku memandang Prapto sejenak. Ya, siapa dia?
“Mungkin dia orang lain yang masih anggota keluarga juga.
“Anggota keluarga?”
“Keluarga-keluarga kaya umumnya individual. Jarang yang mau mengurusi orang di luar keluarga inti mereka.”
Aku merasa kalimat Prapto agak kurang ajar. Tapi aku diam saja.
“Mungkin dia anak gadis yang keempat,” pelan ucap Prapto
“Anak gadis yang keempat? yang cantik?”
“Dia cantik atau tidak itu lain soal,” Prapto mencondongkan badan ke arahku, “Yang penting adalah, kenapa ia sampai disembunyikan dari pandangan orang ramai oleh orangtuanya.”

**
Bisa ditebak. Tugas-tugas makalahku akhirnya berantakan sama sekali. Setiap kali aku membuka lembaran buku acuan yang terpikir adalah : siapa anak gadis keempat dalam rumah besar itu? Kenapa ia disembunyikan? Kenapa ia tak pernah kelihatan? Kenapa salah satu jendela di rumah itu hampir selalu tertutup? Itukah kamarnya?

Pertanyaan-pertanyaan itu silih berganti mampir di kepalaku. Jawaban-jawaban yang datang tak pernah pasti. Prapto hanya sibuk menduga-duga.
“Mungkin gadis itu dulu pernah melakukan suatu kejahatan dan orangtuanya menyembunyikannya karena takut ketahuan.”
Menurutku ini tak masuk akal. Sebab setahuku, trade mark keluarga Sundjaya cukup bersih.
“Menurutku..” Prapto mulai lagi dengan segala macam dugaan-dugaannya. Aku hanya mendengarkan, “Mungkin gadis itu anak yang tak dikehendaki kehadirannya.”
“Maksudmu?” tanyaku.
“Mungkin anak hasil di luar perkawinan.”
“Perkawinan siapa?” mataku melotot, “Kalau memang demikian, tak mungkin Nyonya Sundjaya memperbolehkan anak itu tinggal di rumahnya. Pakai dilayani segala.”
“Aku kan hanya menduga.”
“Dugaanmu yang masuk akal dong.”
“Loh, semuanya masuk akal.”
Terserahlah. Aku tak mendengarkan lagi. Tapi kata-kata anak yang tak dikehendaki kehadirannya itu terus menggelayut di benakku. Siapakah orangtua yang tak menghendaki kehadiran anaknya sendiri? Berikutnya, di hari berikutnya, dan selanjutnya, aku semakin sering memperhatikan jendela yang tepat menghadap ke balkon kamarku. Jendela yang hampir selalu tertutup itu semakin menarik perhatianku dari hari ke hari. Siapakah orang dibalik jendela itu?
Ah, mungkin jendela itu rusak, bantah hatiku kemudian, karena itulah ia selalu tertutup.
Tapi rasanya aku pernah melihatnya terbuka, dengan tirai yang menutupinya.
Kali ini pikiranku buntu. Ingin tahu tapi tak mampu. Aku mencoba melupakan perkara itu kemudian. Ujian semester mulai menghadang dan aku tak mau persoalan-persoalan remeh semacam ini mengangguku terus menerus. Hidupku sudah cukup tenang sebelum aku mengetahui informasi aneh dari Prapto itu dan aku yakin, kehidupanku akan mulai normal tak berapa lama lagi.

Namun ternyata dugaanku salah.
Suatu malam. Entah kenapa aku iseng mengintip dari balik tirai kamarku. Melihat ke arah jendela yang selalu tertutup itu. Dan apa yang kulihat sungguh mencengangkan. Jendela itu terbuka. Tirainya terbuka! Terbuka! Lampu kamar itu tidak terlalu terang namun aku bisa melihat buku-buku yang terpajang manis di dalam kamar itu. Aku memperhatikan. Terus. Semakin penasaran. Bila jendela itu terbuka tentu ada yang membukakannya. Siapa? Anak gadis keempat di dalam rumah itu? Tengah aku memikir-mikir, tiba-tiba satu sosok bayangan kecil melintas di jendela itu. Aku terkesiap. Jantungku hampir melompat saking tegang. Sosok perempuan! Perempuan!
Tanpa sadar aku berlari menuju pintu. Kubuka. Aku berlari ke balkon.
‘Ada perempuan!’

Tiba-tiba terdengar sebuah pekikan. Kecil namun jelas kudengar. Lalu tirai jendela tertutup dan di detik berikutnya jendela pun tertutup. Keras dan cepat. Aku tersentak. Kaget. Heran. Dalam sekejap aku tak bisa berkata apa-apa. Lalu bingung. Diam.
Angin malam berkesiur pelan. Lampu kamar itu mati.
“Aneh,” desisku. Aku semakin penasaran. Memang benar ada anak gadis keempat di dalam rumah itu. Siapakah? Kenapa disembunyikan?
**

Kejadian malam itu tak kuceritakan pada Prapto. Aku tak mau di malam-malam berikutnya kamarku menjadi tempat mangkalnya. Cukuplah dia mengetahui sebatas yang diketahuinya. Tak perlu ia tahu bahwa aku sudah melihat anak gadis keempat itu. Meski tidak jelas betul. Itupun cuma sekelebat.
Anak yang tak dikehendaki kehadirannya
Kalimat itukah yang membuat aku terus tergugah untuk menyelidiki keberadaan gadis itu? Siapakah yang tak menghendaki kehadiran anaknya sendiri? Siapakah yang telah mengunci gadis ini dari kehidupan bebasnya? Apa sebabnya?

Lagi pula, dia kelihatan masih kecil, setidaknya kesimpulan ini aku tarik dari sekilas bayangan yang tertangkap. Ah, gadis kecil, apakah yang telah terjadi padamu?

**

Kupandangi koran di tanganku. Salah satu gambar di halamannya berisi foto keluarga Sundjaya lengkap dengan keempat anaknya. Tiga perempuan dan satu yang terkecil laki-laki. Tak ada anak gadis keempat di sana. Mulai aku ragu dengan dugaanku sendiri. Benarkah ada anak gadis lain dalam keluarga Sundjaya? Rumah itu begitu tertutup, sampai-sampai peluang untuk menyelidikinya nyaris tak ada.

Jendela di depan balkon kamarku itu tetap tertutup. Tirainya tetap tak tersibak. Misterinya tetap tak terungkap. Tapi aku tak hendak melupakannya. Siapakah anak gadis keempat di keluarga Sundjaya itu? Siapakah yang kulihat malam itu? Diakah? Gadis yang disembunyikan itukah?
Di koran itu tertulis profil pak Sundjaya. Salah satu perusahaannya memasang iklan pariwara di koran itu dan menampilkan profil diri dan keluarganya sebagai berita pelengkap. Kubaca. Terus kubaca. Tiba-tiba ketika sampai di suatu paragraf aku mengernyitkan kening. Di situ tertulis bahwa sebenarnya Ibu Sundjaya melahirkan lima orang anak. Namun yang satu –perempuan- meninggal di waktu kecil. Anak itu disebutkan memiliki kelainan. Kaki kanannya tumbuh tak sempurna. Mengecil, pendek dan agak bengkok. Tangannya juga bengkok dan beberapa jarinya melekat. Ketika berusia empat belas bulan bayi malang itu meninggal. Bayi itu merupakan anak keluarga Sundjaya yang ketiga. Bila masih hidup tentulah sudah berusia 17 tahun.
Aku tercenung sejenak. Lima anak keluarga Sundjaya? Perempuan? 17 tahun? Cacat?
Kalimat-kalimat itu berkelebat di benakku. Kian cepat. Kian cepat. Itukah dia? Anak gadis misterius yang diceritakan Prapto? Anak gadis yang merupakan bayi malang itu? Bayi yang sebenarnya tidak mati. Tidak meninggal. Ia hidup. Tumbuh dewasa secara tersembunyi dalam kecacatannya.

Aku menggigit bbir. Pantaslah bayangan gadis itu kulihat pendek. Setinggi anak gadis tanggung berusia awal angka belasan. Ternyata salah satu kakinya bengkok. Itulah yang membuat ia terlihat pendek. Itukah alasan kenapa ia disembunyikan?

Kulihat lagi foto keluarga Sundjaya. Anak-anaknya cantik-cantik, gagah. Tumbuh sempurna. Menjadi primadona. Tak ada yang mengira ada seorang lagi yang menyelip diantara mereka. Seorang yang  tak sempurna.

Entahlah. Semua ini membingungkan. Aku sendiri tak tahu pasti benarkah gadis yang kulihat itu adalah sang bayi cacat. Semua perkara ini memusingkan kepalaku. Bagaimanakah rasanya hidup dalam persembunyian? Bagaimanakah rasanya menjadi aib keluarga yang perlu disimpan? Aku tak percaya. Pasti aku salah. Pasti koran ini salah.

Tapi jendela itu masih tertutup dan tirainya masih tak terbuka.
Entah kenapa teringat lagi bayangan gadis malam itu. Pendek. Aneh. Tersembunyi.
Aku harap aku salah. Aku ingin sekali tahu bahwa aku ini salah. Mungkin gadis itu bukan siapa-siapa. Mungkin bayi itu memang meninggal ketika berusia 14 bulan. Mungkin gadis itu cuma salah satu pelayan.

“Dia tak pernah pergi ke sekolah. Semenjak kecil dia selalu belajar pada guru privat. Kasihan.”
“Mungkin dia anak yang tak dikehendaki.”
Malam itu kupasang sebuah karton di pagar besi balkon kamarku yang tepat menghadap ke jendela besar yang hampir selalu tertutup itu. Kutulis ; KAMU ITU CANTIK SEKALI. PERLIHATKANLAH DIRIMU PADA DUNIA.
Selepas itu aku menangis. Entah karena apa.
**
Padang, 27 April 2004

 

Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published.