Kotak Sulap Paman Tom

(Sudah dimuat di Majalah Bobo edisi 36, 15 Desember 2011)

Randu suka sekali menonton pertunjukan sulap Paman Tom. Menurutnya, sulap Paman Tom sangat ajaib. Paman Tom bisa mengeluarkan kelinci, pistol-pistolan, sepatu baru dan buku-buku dari kotak sulapnya. Sering, Paman Tom menyuruh seorang anak naik ke panggung. Anak itu dimintanya memasukkan tangan ke dalam kotak sulap. “Kosong!” begitu selalu teriak anak-anak yang ikut bermain sulap. “Kosong lagi!” teriak mereka berulang. Lalu Paman Tom tersenyum. Ia akan menutup kotak tersebut, lalu beberapa detik kemudian membukanya, dan penonton akan berteriak: “Ada kelincinya!!”

Randu dulu pernah pula naik ke panggung. Ia disuruh menarik sapu tangan yang menutupi kotak itu. Begitu kotak terlihat, seekor burung akan melongokkan kepala, dan hup…terbang mengitari panggung. Waktu itu sangat heboh. Semua orang sampai bertepuk tangan lama sekali. Keesokannya semua anak di sekolah menceritakan kejadian itu berulang-ulang. Bahkan, guru kelas Randu sampai ikut memuji pertunjukan itu di depan kelas. Saat itu Randu masih kelas satu SD.
Sekarang, Randu sudah kelas tiga SD. Ia bersama teman-temannya masih tetap suka menonton pertunjukan sulap Paman Tom yang diadakan setiap bulan di perpustakaan daerahnya. Namun, kini ada sesuatu di hati Randu. Rasa kagum terhadap sulap Paman Tom, berganti menjadi penasaran. Ia ingin tahu, mengapa Paman Tom begitu hebat? Darimana Paman Tom mendapatkan kotak ajaibnya yang terkenal itu?

Di suatu Hari Minggu, hanya dua jam menjelang pertunjukan sulap Paman Tom, Randu diam-diam masuk ke ruang pegawai. Biasanya, Paman Tom istirahat dulu di ruangan itu sebelum memulai sulapnya di panggung. Mujur bagi Randu, hari itu, setelah meletakkan peralatan sulapnya, Paman Tom keluar ruangan. Mendapat kesempatan itu, Randu segera menuju ke tas besar Paman Tom yang terbuat dari anyaman pandan. Dibukanya tas itu dengan berdebar. Kotak sulap itu ada di dalamnya. Gemetar, ia mengangkat kotak itu, lalu mengintip apa isinya. Kosong. Dirabanya sisi-sisi dalam kotak. Alangkah kagetnya ia ketika menemukan empat buah laci kecil. Dalam empat laci itu ia menemukan seekor kelinci kecil, burung merpati, bunga dan terompet.

Randu terkejut, kecewa. Kotak itu tak seperti harapannya. Kotak itu tak ajaib sama sekali. Dalam pikirannya, Paman Tom adalah seorang pembohong. Paman Tom penipu, ia sama sekali tidak hebat. Randu kecewa karena merasa tertipu.

Dengan lunglai ia kembali ke ruang pertunjukan. Ketika tak lama kemudian Paman Tom datang dengan kotaknya yang ternyata tidak ajaib, Randu mendadak merasa benci. Ia tidak suka dengan sulap Paman Tom. Paman Tom tidak pandai melakukan yang ajaib. Paman Tom hanya penipu!
“Anak-anak, mari kita lihat ada keajaiban apa di kotak sulap Paman Tom!” seru Paman Tom gembira. Anak-anak bertepuk tangan.
“Apakah ada yang suka terompet?” tanya Paman Tom. Semua anak tunjuk tangan sambil berteriak, “Saya!!”
“Nah, mari kita lihat apakah kotak ajaib Paman Tom bisa mengeluarkan terompet!!”
Anak-anak bersorak gembira.

Tiba-tiba Randu berdiri.
“Tidak benar!!” teriaknya benci, “Paman Tom bohong!!” segera ia berlari ke panggung. Merampas kotak sulap itu, lalu menunjukkan laci-laci rahasia pada semua orang.
“Lihat ‘kan?” kata Randu sambil menarik seekor kelinci, “Paman Tom menipu kita! Tidak ada kotak ajaib! Ia menyembunyikan semua itu dalam laci rahasia!”
Semua orang terkejut. Paman Tom lebih terkejut. Wajahnya tampak memerah pertanda marah.
Randu melemparkan kotak itu ke lantai.
“Aku tak percaya lagi padanya. Paman Tom pembohong!”
Randu lalu lari ke luar. Pulang.
**
Apa yang terjadi di Hari Minggu pagi itu menjadi pembicaraan dimana-mana. Termasuk di sekolah Randu. Teman-teman Randu umumnya kesal karena merasa tertipu. Ternyata, selama ini mereka menyangka Paman Tom punya kekuatan super. Kotak sulapnya, dianggap kotak keramat. Kini, begitu tahu yang sebenarnya, mereka merasa marah.
Bisa ditebak, tak ada lagi anak yang mau datang ke pertunjukan Paman Tom. Ruang sulap itu jadi sepi. Akhirnya, setelah tiga bulan, pihak Perpustakaan Daerah menghentikan acara sulap karena tak ada penonton.
Saat itu entah kenapa, Randu merasa sedikit kehilangan.
**
Suatu hari, saat pergi jalan-jalan dengan para sepupunya, tiba-tiba dari jendela mobil Randu melihat kerumunan anak, di pinggir jalan. Anak-anak itu tampak gembira dan bertepuk tangan. Ia melongokkan kepala karena penasaran. Apakah gerangan yang membuat anak-anak itu senang?
“Lihat, Paman Tom!” teriak salah seorang sepupunya. Randu terkejut. Ketika ia memperhatikan lebih jelas, dari celah kerumunan, ia melihat Paman Tom, duduk di sebuah bangku dengan kotak sulapnya.
“Ih, kok dia jadi kumal, ya!”seru sepupunya lagi.
“Iya, semenjak pekerjaannya dihentikan pihak Perpustakaan Daerah, Paman Tom jadi tak punya pekerjaan,” kata sepupunya yang lain, “akhirnya, untuk mencari uang, terpaksa ia main sulap di jalanan.”
“Sayangnya anak-anak itu tidak tahu kalau mereka kena tipu,” kata sepupunya yang lain, “aku sudah bosan dibohongi Paman Tom!”
Randu terdiam. Diperhatikannya terus Paman Tom hingga celah kerumunan itu menutup. Hatinya terasa tidak nyaman. Terbayang lagi peristiwa ketika ia membongkar semua rahasia sulap Paman Tom di depan para penonton. Terkenang lagi hari ketika ia mencampakkan kotak sulap itu ke lantai. Mendadak ia merasa sangat bersalah.
Seandainya ia tidak melakukan kebodohan itu, tentu Paman Tom masih bekerja untuk Perpustakaan Daerah, dan mendapat penghasilan. Kemarahan telah membuat Randu melakukan hal-hal yang tidak pantas. Ingin rasanya ia turun dari mobil dan berlari menuju Paman Tom untuk minta maaf. Tapi, apakah maafnya bisa membuat Paman Tom dapat pekerjaan lagi? Tidakkah dulu Randu paham, bahwa sulap hanya sebuah permainan. Tak ada kebohongan di sana. Sulap itu seperti teka-teki, yang dilakukan dengan gerakan. Paman Tom tidak pernah menyakiti penontonnya, jadi tidak ada alasan Randu mempermalukannya.
Randu menunduk. Diam-diam air matanya menitik.
**

 

 

Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published.