Menuju Generasi ‘Mati’ : Indonesia Darurat Pornografi

Seberapa jauh anda mengetahui kasus pornografi di dunia anak-anak? Beberapa hari lalu saya mengunjungi sahabat saya yang berprofesi sebagai kepala sekolah dasar di salah satu pelosok desa. Ia banyak bercerita tentang dunia pendidikan dan terutama sekolahnya kepada saya. Di satu titik, pembicaraan kami sampai ke satu hal: pornografi. Ia menyodorkan cerita yang (semestinya tidak lagi) mengejutkan (karena makin massifnya berita-berita macam begini saya dengar). Suatu hari, ia mendengar siswa kelas 2 SD bercerita sambil tertawa-tawa geli mengenai “Cerita cantik-cantik.”
“Apa itu cerita cantik-cantik?” tanya teman saya.
“Itu, Buk, cerita yang ada perempuan dan laki-lakinya,” jawab sang murid polos.
“Seperti apa ceritanya?” tanya sahabat saya.

Lalu sang murid yang masih berusia 8 tahun bercerita tentang sebuah film yang membuat sahabat saya ini menggigil. Siswanya ini bercerita dengan begitu detail. A-Z (“awalnya cowok itu meremas ini, Buk.”) Lalu bagaimana kejadian itu berjalan, apa yang terjadi pada si cewek, dan seterusnya hingga selesai. Sahabat saya ini segera menanyai murid-muridnya satu persatu (dengan sangat persuasif dan lembut) siapa saja yang sudah menonton film macam begitu. Jumlah yang ia temukan mengecilkan hatinya: 70 orang! Akhirnya dia segera memanggil orangtua ke 70 siswa ini dan memberitahu mereka. Tak cukup sampai di sana, ia juga menyelidiki pangkal kejadian. Mau tahu apa yang ia temukan? Mula peristiwa ini berasal dari satu orangtua murid, yang karena kasihan pada anaknya yang bertubuh lemah dan tidak bisa main di luar, ia menyediakan televisi ratusan channel untuk ditonton. Suatu hari, setelah melihat-lihat puluhan channel, sang anak sampai di saluran yang isinya ‘itu’ melulu. Ia lalu memanggil teman-temannya untuk nonton bersama. Orangtuanya tidak tahu (dan tidak pula mau mencari tahu akan tontonan anaknya). Seandainya sahabat saya tidak curiga pada pembicaraan anak didiknya, bisa dipastikan tontonan ‘cantik-cantik’ ini masih akan terus mereka nikmati.

Itu baru satu kasus di SD pelosok. Mau tahu kasus lain? Di SD yang berbeda, daerah yang sama (masih cerita sahabat saya) anak kelas 4 SD sudah bermain ‘cantik-cantik’ dengan anak kelas 2 SD. Tak diketahui bagaimana kelanjutan permainan ini, atau apa yang kemudian dilakukan sekolah dan orangtua. Yang pasti, virus pornografi ini sudah menjangkiti otak anak, membuat pikiran mereka ke situ melulu. Jika narkoba mencederai tiga bagian otak anak, pornografi membunuh lima. (Saya mulanya pusing Bu, setelah menontonnya, demikian ucap anak didik sahabat saya). Orangtua memiliki andil besar dalam penyebaran penyakit ini. Mereka tidak mengecek apa saja yang ditonton anak-anaknya, bahkan (terkadang) turut pula menyumbang tontonan itu dengan menyimpan cd-cd porno di rumah. “Anak-anak ini menemukan cd itu, lalu menontonnya bersama teman-teman,” kata sahabat saya.

Kasus-kasus seperti ini sebenarnya marak tapi entah kenapa seperti ada upaya menutup-nutupinya. Sekian tahun lalu, saya membaca, beberapa anak yang melakukan survey kecil-kecilan di sebuah sekolah mengenai seberapa jauh teman-temannya melakukan hal yang ‘cantik-cantik’ bersama pacarnya, di-banned oleh sekolah. Kasus arisan seks anak SMA yang dulu menggegerkan Sumatra Barat dan marak di koran-koran menimbulkan resistensi dari beberapa pihak. Dianggap itu fitnah dan mencederai nama baik Sumatra Barat yang berfalsafahkan adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah. Memangnya mau apa sih semua orang yang mempertahankan ‘nama baik’ itu secara mati-matian?Kasus pornografi ini bukan aib sekolah atau daerah yang perlu disembunyikan. Ini adalah masalah kita bersama, masalah anak-anak kita, dan penting ini dibuka luas ke publik, agar kita bisa menemukan langkah-langkah untuk menanganinya. Bagaimana bisa sebuah penyakit disembuhkan, kalau tidak diketahui benar apa penyakitnya? Yang paling aneh dari semua upaya mempertahankan nama baik ini adalah, orang-orang yang berupaya mengungkapkan hal ini malah dimusuhi, di-banned, bahkan dalam beberapa kasus, diancam dikeluarkan dari sekolah (atau universitas) tempatnya berada. Logikanya, anak-anak yang mengungkapkan ini justru harus dikasi piala dan kalau perlu beasiswa sampai tingkat postdok ke mana pun si anak ini mau belajar, sebab ia sudah berjasa menemukan sebuah penyakit masyarakat, dan ini membantu kita untuk memetakan masalah generasi, sebelum mencari obatnya.

Malu? Mengapa malu? Ini adalah masalah. Kalau pun ada rasa malu, bukankah lebih baik kita malu sekarang, ketimbang menyesal selama-lamanya nanti di masa depan, ketika penyakit ini sudah memasuki stadum akhir yang satu-satu obat adalah mati? Ingin generasi kita menjadi generasi ‘mati?’ Cobalah berpikir jangka panjang. Berpikir untuk masa depan. Anak-anak kita akan hidup lebih lama dari kita. Bagaimana kalau setelah kita mati, anak-anak yang terjangkit virus ‘cantik-cantik’ ini tidak ada lagi pengayom, hilang arah, lalu berujung gagal? Mau nangis bombay di alam kubur sana?

Pornografi adalah masalah kita semua, bukan masalah orang itu, daerah itu atau kelompok itu. Anda yakin sudah menjaga anak-anak anda dengan baik? Bagaimana dengan anak orang lain? Anak-anak anda akan bergaul dengan anak-anak orang lain toh? Yakin anak-anak anda tidak akan tertular virus cantik-cantik ini dari mereka?

Beberapa waktu lalu, anak saya belajar di sebuah sekolah selama beberapa hari. Mau tahu apa yang terjadi saat pertama kali anak saya masuk kelas? Saya lihat sendiri dari jendela, beberapa anak lelaki sebaya dia (umur 9 atau 10 tahun) langsung merapi-rapikan diri dan mendekatinya. Masih 10 tahun lho! Sudah punya insting untuk mendekati seorang anak perempuan. Saya yang stress melihatnya.

Beginikah generasi anak-anak saya?

Sekali lagi, pornografi adalah masalah kita semua. Bukalah masalah ini ke publik, tapi lindungi identitas pelakunya. Sudahilah membodohi diri dengan menganggap tak terjadi apa-apa pada anak. Saya tahu persis apa yang terjadi di kalangan generasi saya ke bawah, karena saya sudah melihat dengan mata kepala saya sendiri apa yang terjadi pada orang-orang yang saya kenal sedari SMP. Ubah paradigma kita terhadap kasus ini. Jangan lagi anggap ia aib yang perlu disembunyikan, tapi penyakit yang perlu diketahui semua orang, agar kita bersama bisa mencari obat untuk menyembuhkannya.

Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published.