Tuan Boo yang Curang

(sudah dimuat di Majalah Bobo)

Di Hutan Pelangi, Tuan Boo Beruang dikenal rajin mengolah kebunnya. Ia punya beberapa kebun bunga, tempat lebah-lebah hinggap untuk menghisap madu. Tuan Boo Beruang sangat suka dengan madu. Karena itu ia membuat rumah-rumah untuk para lebah itu meletakkan madunya. Setiap pagi, Tuan Boo pergi ke rumah-rumah lebah untuk mengambil seember kecil madu.

Tapi, meski rajin, Tuan Boo agak serakah. Ia selalu ingin mendapatkan barang-barang yang terbaik, terbanyak dan terbesar. Sebenarnya hal itu boleh-boleh saja asal Tuan Boo tidak curang. Namun, sayang sekali, Tuan Boo kadang menggunakan cara yang tidak jujur untuk mendapatkan keinginannya.

Suatu hari, Hutan Pelangi keluarga Dodo Beruang pindah ke Hutan Pelangi. Saat itu mereka kebingungan akan tinggal dimana. Mereka juga tidak tahu akan mencari madu dimana. Maklum, masih warga baru. Untung saja mereka bertemu Roro Rubah yang berbaik hati memberi tempat menginap.
Keesokan paginya, Roro Rubah menyarankan agar keluarga Dodo Beruang menemui Tuan Boo. Mungkin Tuan Boo bisa membantu keluarga Dodo. Bukankah Tuan Boo memiliki beberapa kebun bunga. Mana tahu, Tuan Boo berkenan menjual salah satu kebun bunganya.

Akhirnya, pergilah keluarga Dodo Beruang menemui Tuan Boo. Begitu bertemu, mereka langsung menyampaikan maksudnya.

“Wah…!” seru Tuan Boo, “kebun-kebun bungaku harganya mahal, juga rumah-rumah lebah yang ada di dalam setiap kebun. Apa kalian sanggup membelinya?”
“Katakan berapa harganya,” kata Dodo Beruang.

Tuan Boo berpikir. Dilihatnya keluarga Dodo Beruang sepertinya punya cukup banyak uang, mereka pun tampak terdesak untuk punya rumah baru. Ini kesempatannya untuk menjual kebun dengan harga tinggi.
“Harganya 50 koin emas!” ujar Tuan Boo.
50 koin emas itu harga yang sangat mahal. Keluarga Dodo Beruang ingin melihat seperti apa kebun seharga 50 koin emas itu. Dalam bayangan mereka, kebun itu sangat luas dan ditanami ratusan jenis bunga-bunga yang sangat subur. Namun, alangkah kecewanya mereka ketika mengetahui kebun itu ternyata kecil. Bunganya pun tidak terlalu banyak. Hanya ada satu rumah lebah di sana. Madu yang dihasilkan lebah-lebah itu pun kelihatannya tidak banyak.

“Apakah harganya bisa ditawar menjadi 20 koin emas saja?” tanya Dodo Beruang.
“Oh, itu harga yang terlalu rendah untuk kebunku yang indah ini,” jawab Tuan Boo.
“Kalau begitu biarkan kami berpikir semalam,” kata Dodo Beruang, “besok pagi kami beri jawaban.”
“Oh, tidak bisa begitu, keputusannya harus malam ini, dan uangnya sudah harus diterima besok pagi sebelum matahari terbit,” jawab Tuan Boo.

“Tidakkah itu terlalu terburu-buru? Bisakah anda menunggu hingga besok? Setidaknya kami mencoba untuk tinggal semalam di kebun ini dulu. Jika anak-anak merasa bahagia dan nyaman, kami akan membelinya.”

“Kalian aneh sekali, kalau mau beli ya beli saja!” seru Tuan Boo agak marah, “pokoknya keputusannya harus malam ini!” ia pun pergi.
Malam itu keluarga Dodo Beruang berdiskusi di kebun Tuan Boo. Anak-anak beruang tampak tidak terlalu nyaman di sana. Setelah diperhatikan benar, ternyata kebun itu tidak terawat benar. Madu yang ada di kebun itu pun rasanya tidak terlalu enak. Keluarga itu merasa harga kebun bunga yang jelek itu terlalu mahal.

“Besok pagi kita cari kebun yang lain,” ujar Dodo Beruang.
Tapi, menjelang tengah malam Tuan Boo datang menagih jawaban. Ia malah mengancam bila keluarga Dodo Beruang tidak jadi membeli kebun itu, mereka harus pergi malam itu juga.
Keluarga Dodo Beruang menjadi panik. Tak mungkin anak-anak beruang yang sedang tidur dibawa tengah malam begitu. Akhirnya dengan terpaksa Dodo Beruang menyanggupi membeli kebun Tuan Boo. Uangnya dijanjikan besok pagi setelah matahari terbit.

Keesokan paginya, tak lama setelah matahari terbit, tiba-tiba sekeluarga beruang datang ke kebun itu. Ketika melihat keluarga Dodo Beruang tengah membersihkan kebun, mereka menjadi marah.
“Ini kebun kami, mengapa kalian ada di sini?” tanya seorang di antaranya.
“Loh, ini kebun kami, kami sudah membelinya dari Tuan Boo!” jawab Dodo Beruang.
“Bohong, kami yang membelinya kemarin. Kebun ini sudah kami beli seharga 20 koin emas.”
“Tapi kami membelinya seharga 50 koin emas!” jawab Dodo Beruang. Kedua keluarga beruang itu sama-sama kaget. Akhirnya mereka memutuskan pergi ke rumah Tuan Boo.

Akan halnya Tuan Boo sendiri, begitu melihat kedua keluarga beruang itu dari kejauhan, ia segera merasa cemas dan panik. Cepat ia mengambil seember madu, lalu berlari pergi. Rupanya, ia sudah menjual kebun itu sebelumnya. Ketika melihat keluarga Dodo Beruang mau membeli kebunnya dengan harga lebih tinggi, ia pun menjual lagi kebun itu. Dalam pikirannya, jika 50 koin emas itu diterima, ia akan mengembalikan uang pembeli sebelumnya yang hanya 20 koin emas. Artinya ia beruntung 10 koin emas. Namun, malang, karena kecurangan itu, kedua keluarga beruang itu tak mau lagi membeli kebunnya.

 

Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published.