Doki si Keledai Penyelamat (Amazing Fables)

(cerita ini merupakan satu dari 14 fabel yang terdapat di buku cerita anak terbaruku Amazing Fables yang diterbitkan oleh Alkautsar Kids. Aku memposting di sini sebagai teaser. Sila dapatkan buku ini di toko buku untuk membaca kisah lengkapnya ^_^ )

Di Hutan Bunga ada seekor keledai pincang bernama Doki. Ia tinggal sendiri di dalam kebun mawar. DI situ ia membangun pondok kecil untuk tempat tinggal.

Doki hampir tidak punya teman. Satu-satunya temannya adalah seekor siput yang sering memanjat tangkai-tangkai mawarnya. Tidak banyak hewan yang mau bermain bersama Doki. Menurut mereka Doki agak bodoh. Ia juga sedikit bau. Bila Doki mendatangi mereka, para hewan ini berdiri menjauh. Mereka tidak suka bercakap-cakap dengan Doki.

Mungkin karena jarang bermain dengan Doki, para hewan itu tidak tahu satu hal besar yang setiap hari dilakukan Doki. Setiap pagi, sehabis sarapan, Doki akan menyusuri jalan-jalan di Hutan Bunga. Ia akan menyingkirkan batu, duri atau benda-benda lain yang menurut Doki berbahaya. Waktu kecil Doki pernah tersandung sebuah batu di tengah jalan. Tulang kakinya patah. Malang bagi Doki, saat itu tidak ada hewan yang pandai mengobati lukanya. Akibatnya, kaki Doki jadi cacat. Bila berjalan, ia pincang.
Semenjak kejadian itu Doki berjanji di dalam hati, bahwa takkan ada lagi hewan yang menjadi korban. Ia akan berusaha untuk membersihkan jalan di Hutan Bunga agar hewan-hewan bisa berjalan dengan aman dan nyaman. Doki sudah merasakan betapa tidak enaknya memiliki kaki yang pincang. Ia berharap, tak ada lagi hewan yang bernasib sama dengan dia.

Dari seluruh hewan di hutan, hanya siputlah yang mengetahui perbuatannya itu.

“Mengapa kau menyibukkan diri seperti itu?” tanya siput. Sang siput duduk kekenyangan setelah melahap selembar daun mawar di kebun Doki.
“Aku melakukannya untuk keselamatan kita bersama,” jawab Doki.
“Tapi tak satupun hewan di hutan yang menghargai perbuatanmu,” kata siput lagi.
“Aku melakukan ini bukan untuk mendapat pujian,” kata Doki.
“Perbuatanmu memang sangat baik, Doki,” kata siput, “hatimu sungguh mulia karena memikirkan hewan-hewan lain, tapi tak satu pun dari mereka yang memperhatikanmu. Mereka bahkan tidak mengucapkan terima kasih.”

“Aku tidak membutuhkan itu,” kata Doki.

Setiap pagi Doki akan pergi membawa gerobaknya. Dalam gerobak itu ada sekop. Kadang-kadang Doki menemukan batu yang separuhnya terbenam di tanah. Dengan sekop itu ia akan mencungkil batu itu dan menyingkirkannya ke pinggir jalan. Bila Doki menemukan duri, ranting yang ujungnya tajam atau benda-benda berbahaya lain, akan ia taruh di gerobak. Nantinya, semua benda itu akan dibuangnya ke tempat pembuangan sampah.

Pada suatu pagi Doki berangkat untuk membersihkan jalan kembali. Di jalan menuju rumah kelinci ia menemukan sebuah ranting yang patah akibat hujan semalam.

“Aduh, ujung ranting ini begitu tajam. Aku harus menyingkirkannya agar anak-anak kelinci tidak terluka,” kata Doki. Segera ditaruhnya ranting itu di gerobak. Dari balik jendela rumah, anak-anak kelinci melihat perbuatannya.

“Lihat itu si Doki, keledai bodoh,” seru seekor anak kelinci, “dia mengumpulkan ranting patah.”
“Apa gunanya ranting itu buat dia,” kata saudara kelinci itu.
“Mungkin dia sekarang memakan ranting-ranting kayu.”
Anak-anak kelinci itu tertawa-tawa.
Doki terus berjalan. Di sebuah tikungan, tak jauh dari rumah jerapah ia melihat biji-biji salak berserakan.”

“Astaga, siapa yang membuang biji-biji salak ini,” keluh Doki, “anak-anak jerapah bisa tergelincir. Apalagi leher mereka sangat tinggi, mereka takkan memperhatikan biji salak di kaki mereka.”
Doki mengumpulkan biji-biji salak itu dan meletakkannya dalam gerobak.
Di balik jendela rumah, keluarga jerapah memperhatikan perbuatannya.
“Lihat, Doki si keledai bodoh mengumpulkan biji salak!” seru anak jerapah yang paling besar.
“Apa gunanya biji salak itu untuk dia?” tanya adiknya.
“Mungkin sekarang ia memakan biji salak.”
“Astaga, dia memang keledai bodoh!” seru anak jerapah yang paling kecil. Mereka semua tertawa-tawa.

Tak lama kemudian Doki menyelesaikan pekerjaannya. Ia berjalan kembali. Di dekat rumah keluarga rusa, ia menemukan sebuah genangan air. Doki mengambil sekopnya dan menusuk-nusuk genangan itu untuk mencari tahu apakah ada sebuah lubang di dalamnya. Ternyata memang benar. Ada sebuah lubang yang cukup dalam di tengah genangan air. Doki segera mengambil ranting kayu di gerobaknya. Ia memotong ujungnya yang runcing, lalu menancapkan ranting itu ke dalam lubang.
“Nah, sekarang siapa saja yang lewat akan tahu, bahwa dalam genangan ini ada lubang. Jadi, anak-anak tidak akan bermain dalam genangan ini.”
Dari balik jendela rumah keluarga rusa melihat perbuatannya.
“Mengapa Doki si keledai bodoh itu menanam ranting patah di sana?” tanya anak rusa.
“Mungkin dia kira ranting itu bisa tumbuh menjadi pohon yang besar dan kuat di sana,” kata ibu rusa.
Anak-anak rusa tertawa.
“Dasar keledai bodoh,” kata mereka.

Tak lama kemudian Doki berjalan lagi. Ia mengambil batu, ranting, menutup lubang di jalan dan melakukan hal-hal baik lainnya. Ia baru sampai di rumah pada tengah hari. Ia merasa sangat lelah dan lapar. Doki pergi ke kebun mawarnya. Dimakannya beberapa kuntum mawar yang manis, lalu ia masuk ke rumah dan tidur.

Doki tertidur lama sekali. Ia baru bangun besok pagi. Ketika bangun ia merasa matanya berkunang-kunang. Kepalanya pusing sekali. Ia telah bekerja terlalu keras kemarin. Ia bekerja begitu teliti, untuk memastikan jalanan tidak lagi berbahaya bagi para hewan. Akibatnya, hari ini ia merasa lemas.

“Tapi aku harus memeriksa jalan kembali,” kata Doki, “mana tahu kemarin anak-anak hewan bermain batu di tengah jalan, menggali lubang atau melemparkan biji-bijian,” pikirnya. Tapi, Doki merasa lemah untuk bangkit.

“Wajahmu pucat sekali, Doki,” tiba-tiba siput yang selama ini selalu ada di kebun mawarnya muncul di jendela.
“Aku merasa pusing,” kata Doki.
“Kalau begitu istirahatlah,” kata Siput.
**

Karena sakit, Doki tidak bisa pergi ke mana-mana. Akibatnya, jalan yang selama ini bersih menjadi tidak nyaman untuk dilalui. Ranting-ranting berserakan di jalan, begitu juga dengan biji-biji buah dan batu-batu. Pada hari kedua Doki sakit, terjadi hujan lebat, besoknya jalan menjadi becek dan banyak genangan air di mana-mana. Anak-anak jerapah yang asyik bermain air, tidak menyadari ada lubang dalam genangan air. Salah satu dari mereka terperosok. Terbenam hingga ke leher. Mereka semua menjerit-jerit minta tolong.

Untunglah pak gajah lewat. Dengan belalainya ia mengangkat anak jerapah dari lubang. Ia juga memasukkan sebatang ranting di situ sebagai pertanda adanya lubang.
“Hutan kita rasanya kacau sekali,” keluh ibu rusa, “kotor dan banyak lubang. Sungguh berbahaya bagi anak-anak.”

“Rasanya, selama ini hutan kita bersih dan menyenangkan,” kata ibu kelinci, “apa yang sebenarnya terjadi ya.”

Di hari ke empat Doki sakit, hutan itu makin kotor saja. Biji-biji buah dan batu berserakan di jalan. Juga banyak lubang-lubang yang tanpa sengaja tertutup ranting patah, hingga bisa menjebak para hewan. Kemarin sore seekor anak tapir terperangkap dalam lubang. Untung saja kakaknya datang menyelamatkan. Beberapa hewan lalu menghadap kepada raja hutan, sang singa. Ketika singa sedang mendengarkan keluhan para hewan, tiba-tiba si siput datang.

“Yang mulia, izinkan saya bicara,” katanya.
“Apa kau juga punya keluhan, siput?” tanya singa.
“Tidak Yang Mulia, tapi saya akan menceritakan nasib sahabat saya, si Doki.”
Siput lalu menceritakan apa yang telah dilakukan Doki selama ini untuk membuat Hutan Bunga nyaman. Para hewan mendengar ceritanya, lalu merasa malu. Ternyata selama ini mereka sudah salah sangka.

“Sungguh hewan yang sangat baik,” kata singa, “aku belum pernah mendengar ada hewan yang bekerja sekeras dia untuk keselamatan kita. Aku kira kita semua harus menjenguk dan merawatnya hingga sembuh.”

Akhirnya mereka beramai-ramai menemui Doki. Mereka membawa makanan, selimut dan obat untuk Doki. Para hewan itu juga membantu membersihkan rumah dan kebunnya.
Doki merasa sangat bahagia. Ia jadi cepat sembuh. Semenjak itu ia tidak lagi sendirian. Sekarang para hewan menyebutnya Doki si Keledai Penyelamat.
**

Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published.