Empat Hal yang Harus Diingat Sebelum Memutuskan Homeschooling

Belakangan ini makin banyak orangtua yang memutuskan meng-HS-kan anaknya. Ada yang HS karena memang menginginkan model pendidikan yang berbeda untuk anak-anaknya, ada pula yang (sayangnya) cuma ikut tren aja. Setelah dibaca-baca, metode HS ini kayaknya keren, akhirnya di-HS-kanlah si anak. Ini yang harus dihindari. Sebab, HS itu bukan soal keren tidaknya, tapi mengenai butuh atau tidak.
Berikut ini hal-hal yang harus diingat orangtua sebelum memulai HS:

1. HS baru digunakan kalau:
a. Anak tidak mau sekolah. Coba cek dulu, apakah sekolah anak bermasalah? Kalau ya, pindahkan dia ke sekolah lain. Ajak anak masuk ke beberapa sekolah dahulu, kalau sikapnya masih sama, orangtua bisa memutuskan anaknya mengikuti program HS.
b. Satu-satunya sekolah yang ada di dekat rumah tidak memadai untuk anak. Baik kondisi sekolah, pengajarnya, maupun lingkungan pergaulannya. Sekolah lain jaraknya jauh, orangtua memiliki kendala untuk memasukkan anaknya ke sekolah tersebut.
c. Orangtua merasa kurang sreg dengan metode belajar yang ada.

2. Jika lingkungan di sekitar rumah tidak memiliki banyak anak-anak yang sebaya dengan anak kita, maka orangtua harus memikirkan cara agar anak bisa menemukan teman yang sebaya.Memasukkannya ke les atau komunitas anak bisa menjadi alternatif.

3. Poin penting HS adalah: 1) bagaimana anak bisa menikmati masa kanak-kanaknya sebahagia-bahagianya dan 2) Mengenalkannya ke seluas-luasnya dunia serta 3)Mengeksplorasi bakatnya habis-habisan. Maka, orangtua harus bisa merancang program atau kegiatan yang bisa memenuhi tiga hal di atas. HS bukanlah tentang belajar di rumah sepanjang hari. HS itu bergerak. Membawa anak ke berbagai tempat dan dunia untuk memberi sebanyak mungkin pengalaman hidup ke mereka. Kata ‘home’ yang dilekatkan sebelum ‘schooling’ bagi saya memiliki arti bahwa pendidikan anak ditangani dari rumah, bukan ‘memaksa’ mereka di rumah sepanjang hari. Saya pernah menemukan orangtua yang meng-HS-kan anaknya karena malas mengantarnya ke sekolah setiap hari. Menurut saya ini salah besar. Orangtua yang malas kok anak yang jadi korban.

4. Orangtua yang memulai HS untuk anaknya harus mau memaksa diri menjadi diri yang baru. Sebelum anak belajar, orangtua yang harus duluan belajar. Orangtua harus mau membaca sebanyak mungkin buku tentang pendidikan, bahkan, ia harus membaca buku-buku ini terlebih dahulu sebelum mulai berpikir meng-HS-kan anak. Nggak cukup orangtua cuma baca 3-5 buku, trus langsung HS. Minimal baca 15 buku dan puluhan artikel pendidikan dari berbagai sumber. Nggak bisa kita cuma baca buku pendidikan dari ahli pendidikan Eropa atau Amerika saja, kita juga mesti baca dari sudut pandang agama kita bagaimana. Begitu juga sebaliknya. Ilmu itu luas dan diserakkan Tuhan ke kepala orang-orang yang serius mempelajarinya. Jadi, siapa yang serius pasti mendapatkan. Entah yang serius itu para ahli yang sama agamanya dengan kita, atau bukan. Semakin banyak yang dibaca, semakin kaya pengetahuan kita. Itu bisa menjadi modal besar untuk mendidik anak. Ingat, sebagian kita boleh jadi sering mencibiri guru yang kurang wawasan, nah, jangan sampai apa yang kita cibiri itu, terjadi pula pada diri kita.

Bagi orangtua yang mau memulai HS pada anaknya, mungkin pengalaman saya di sini  bisa membantu.

 

Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published.