Hari Bohong

(Sudah dimuat di Majalah Bobo)

Ada yang aneh pagi ini di kelas tiga SD Merdeka. Biasanya, setiap pagi, Bu Vivi akan memulai pelajaran dengan bernyanyi. Kali ini berbeda. Ia berdiri saja di depan kelas sambil memandangi murid-muridnya.

“Anak-anakku,” kata Bu Vivi setelah beberapa lama, “tahukah kalian sekarang hari apa?”

“Selasa!” jawab murid-murid serempak.

“Benar, tapi bukan itu yang Ibu maksud,” kata Bu Vivi, “sekarang adalah Hari Bohong.”

Hari Bohong? Murid-murid saling berpandangan.

“Nah, untuk memperingati Hari Bohong ini, kalian semua harus berbohong hingga sekolah usai.”

“Tapi, mana ada hari seperti itu!” Riska protes, “bukankah Ibu selama ini menyuruh kami untuk jujur?”

“Ada!” Bu Vivi mengangguk, “bagaimana ceritanya sampai ada Hari Bohong, nanti akan Ibu ceritakan. Yang jelas, mulai sekarang kalian tidak boleh bicara jujur. Semuanya harus berbohong. Paham?!”

Tak ada murid yang menjawab. Mereka merasa heran. Meski demikian, mereka tidak berani protes lagi.

Maka, mulailah mereka memperingati Hari Bohong, seperti yang diminta Ibu Vivi.

“Ayahku seorang pawang gajah!” Kiki bercerita saat jam istirahat, “ayahku punya seribu gajah. Semua gajah itu kami pelihara di kebun belakang rumah kami!”

“Kau bohong!” seru Nana, “ayahmu pedagang buah, dan kau tidak punya kebun belakang.”

“Tentu saja punya. Kami baru membeli rumah yang halaman belakangnya luaaas sekali. Hampir seluas lapangan sepakbola.”

Nana masih tidak percaya.

“Nanti akan kubawa kau ke rumah baruku,” kata Kiki.

“Tapi, mana mungkin ada seribu gajah di kebunmu.”

“Kau benar, aku salah,” kata Kiki, “sebenarnya kami cuma punya tiga ekor anak gajah yang suka makan daging.”

Teman-temannya tetap tidak percaya. Mana ada gajah makan daging.

“Mungkin itu hebat,” kata Rio tiba-tiba, “tapi yang kumiliki lebih hebat lagi!” serunya, “tanteku kemarin membelikanku sepatu robot. Aku bisa terbang setinggi satu meter dengan sepatu itu.”

“Kau bohong!” seru teman-temannya.

“Kalau begitu kita nanti ke rumahku saja. Aku akan memperlihatkannya.”

“Hei,” Devi berseru, “meski sepatu itu bisa terbang, tapi takkan membuatmu bertemu makhluk luar angkasa berwarna hijau seperti yang kualami setahun lalu.”

“Kau bertemu makhluk luar angkasa?” teman-temannya tidak percaya.

Devi mendekat ke teman-temannya. Ia merendahkan suara.

“Ssst, jangan bilang siapa-siapa. Waktu itu sudah tengah malam, tapi cuaca sangat gerah. Aku membuka jendela, saat itulah aku bertemu makhluk itu. Matanya tiga, besar, hidungnya panjang, dan dia tidak punya telinga. Suaranya iiii…iiii”

“Aaaa!” teriak teman-temannya.

“Tadi pagi aku makan apel rasa stroberi,” Akmal berkata, “rupanya apel aneh itu hasil cangkokan. Jadi pohon apel dibelah dua, trus, di belahannya ditanam pohon stroberi. Hasilnya apel rasa stroberi!”

“Aku punya pensil dari bulu kelinci. Kalau digerak-gerakkan akan keluar suara nguik nguik.”

“Mana ada kelinci bersuara begitu.”

“Kawan-kawan!” seru Rio tiba-tiba, “lihat, di luar pagar sekolah ada anak yang mirip Justin Bieber!”

“Mana mana mana?” anak-anak segera berhamburan ke pagar, namun alangkah kecewanya mereka saat melihat cuma ada satpam sekolah di situ.

Rio tertawa terbahak-bahak.

“Ya udah,” kata Devi, “biarin aja si Rio, kita ke kantin yuk. Aku traktir kue.”

“Horee,” anak-anak itu gembira lagi. Beramai-ramai mereka ke kantin dan memakan kue-kue. Namun, betapa kesalnya mereka saat tahu Devi berbohong.Anak itu malah kabur sambil tertawa-tawa.

Sepanjang hari itu mereka merasa letih. Tidak tahu lagi apa dan siapa yang mesti dipercaya. Setiap orang berbohong dan dibohongi. Mereka ingin marah, tapi tidak tahu marah pada siapa.

Siangnya, begitu pelajaran berakhir, Bu Vivi berdiri di depan kelas. Memandangi wajah murid-muridnya yang lesu.

“Nah, apakah kalian menikmati Hari Bohong?” tanya Bu Vivi.

“Tidaaak!” seru para murid.

Bu Vivi tersenyum.

“Bagaimana rasanya berbohong dan dibohongi?”

“Tidak enak,” kata Devi.

“Aku merasa letih,” ujar Rio.

Bu Vivi tersenyum.

“Sekarang kalian tahu berbohong dan dibohongi itu tidak menyenangkan. Bohong membuat kita letih. Apakah kalian mau berbohong besok-besoknya?”

“Tidaak!” seru anak-anak itu serempak.

“Bagus, anak-anakku. Itulah pelajaran berharga kita hari ini. Jika perbuatan itu tidak menyenangkan dirimu dan orang lain, maka, jangan pernah melakukannya.”

“Ya, Bu.”

Anak-anak itu lalu pulang. Dalam hati mereka berjanji untuk tidak akan berbohong. Kejadian hari ini cukuplah sebagai pelajaran

**

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published.