Lima Buku Terbaik 2015

Well, setelah kemarin memposting artikel Lima Buku Anak/Remaja Favorit (Versi Ayesha), sekarang saya mau memposting lima buku yang saya anggap terbaik pada tahun 2015. Seperti halnya daftar buku Ayesha, buku di sini pun tidak semuanya terbit tahun 2015, ada yang terbit tahun 2014 akhir, dan edar 2015 awal. Saya memberi batas tahun terbit 2014 untuk memudahkan. O ya, daftar ini tentu berasal dari buku-buku yang saya baca saja.

5. Fortunately, the Milk karya Neil Gaiman

Saya adalah penggemar karya-karya Gaiman, meski begitu tidak semua karyanya saya suka. Beberapa yang masuk daftar ‘must read’ saya adalah Samudera di Ujung Jalan Setapak (oh, Tuhan, aku jatuh cinta berat dengan buku itu), Coraline dan Stardust. Setelah datang Fortunately, the Milk, saya masukkan ini ke dalam daftar. Buku ini bukan untuk pembaca young adult, seperti buku-buku sebelumnya. Ini adalah buku anak-anak dan sangat menganak-anak. Saya cantumkan ini sebagai satu di antara yang terbaik karena: a. Penyajiannya sangat imajinatif, (b). Ceritanya anti mainstream. Imajinasi memang tidak ada batasnya

4. Looking For Alaska karya John Green

Buku ini termasuk novel remaja terbaik John Green. Mengisahkan pencarian jati diri yang dilakukan Miles Halter, seorang yang digambarkan sebagai pecundang di sekolah lamanya. Pencariannya ini membawanya ke Culver Creek, sebuah sekolah asrama. Di sini ia bertemu Alaska Young, cewek urakan yang filosofi hidupnya memukau Halter

Bentuk penceritaan novel ini menarik, satu lagi, John Green tidak bertele-tele di sini. Beat-nya cepat, tapi tidak bikin ngos-ngosan. Beda dengan novel remajanya semacam Will Grayson, Will Grayson (ia tulis bersama David Levithan), yang agak longgar. Novelnya yang lain, An Abundance of Catherine juga menarik, tapi penuturannya tidak semenarik Looking For Alaska. Saya belum membaca novelnya yang sangat tenar itu ‘The Fault of Our Stars’, sebabnya satu: saya tidak sanggup membaca kisah sedih. Kisah-kisah seperti ini membuat saya terluka, sembuhnya lama sekali. Bahkan, dalam beberapa kasus, kisah-kisah seperti itu menjelma mimpi buruk dalam tidur saya. Salah satu buku yang sangat melukai saya adalah buku perjalanan Agustinus Wibowo, Titik Nol. Saya cuma sanggup membaca sepertiga buku saja, setelahnya saya taruh di rak. Sudah bertahun-tahun, bahkan membuka kembali buku itu saja saya tidak sanggup. Saya yang membacanya saja sampai begitu, apalagi penulisnya.


3.Menggali Sumur dengan Ujung Jarum, penerjemah Tia Setiadi

Buku ini merupakan kumpulan esai dan cerita pendek beberapa pengarang penerima nobel seperti Gabriel Garcia Marquez dan Orhan Pamuk. Tulisan-tulisan mereka sangat bernas. Yang paling saya suka adalah pidato ceramah nobel Orhan Pamuk berjudul “Koper Ayah Saya”. Sangat mengagumkan bagi saya, dari cerita sebuah koper saja, Pamuk bisa menuliskan segala macam, mulai dari riwayat keluarganya sampai kepengarangannya. Saya sudah membaca beberapa karya Orhan Pamuk. Dulu saya pikir, saya paling suka “My Name is Red”, tapi setelah membaca pidatonya, saya berubah pikiran. He is a maestro.

2. Surga di Andalusia karya Maria Rosa Menocal

Ini adalah buku yang sangat penting dibaca. Menocal menggambarkan bagaimana Andalusia tumbuh menjadi kerajaan yang sangat penting, di bawah kerja keras Abdul Rahman, pewaris terakhir Dinasti Umayyah yang menyelamatkan diri ke kampung ibunya, dari upaya pembunuhan. Banyak sekali hal baru yang saya dapat di sini, yang berkaitan dengan jatuh bangun dua dinasti kekhalifahan yang pernah berjaya dalam peradaban Islam, yakni Umayyah dan Abbasiyah. Yang paling menarik di sini adalah upaya harmonisasi yang dilakukan Abdul Rahman terhadap semua pemeluk agama di Andalusia. Harmonisasi inilah yang membuat Andalusia tumbuh menjadi kerajaan yang sangat disegani. Bisa dikatakan, peradaban Andalusia mengekspansi kebudayaan-kebudayaan lain di sekitarnya. Sampai-sampai, para pemuda di daerah-daerah sekitar Andalusia merasa bangga kalau sudah bisa bicara bahasa Arab, karena pada waktu itu, bahasa Arab adalah bahasa pengetahuan. (Mungkin seperti status bahasa Inggris pada masa sekarang ya). Hal ini bisa terjadi karena khalifah memberi peluang sebesar-besarnya untuk mengembangkan ilmu pengetahuan.

1. Contextual Teaching and Learning (CTL) karya Elaine B. Johnson, Ph.D

‘Jika kau ingin hidup 100 tahun, tanamlah pohon, jika ingin hidup selamanya, didiklah manusia’, begitu kata pepatah negeri Tiongkok, maka tanpa ragu saya menobatkan karya Elaine B. Johnson ini sebagai buku terbaik pada 2015. Melalui buku ini Elaine memaparkan apa itu CTL mulai dari filosofinya sampai metode praktisnya. Ini buku yang sangat kaya dan wajib dimiliki, mulai dari orangtua sampai menteri pendidikan Indonesia. Cara belajar yang kering dari pemaknaan bukan cuma melanda Indonesia, tapi juga negara-negara maju. Itulah sebabnya kenapa para ahli pendidikan berupaya mencari metode mendidik yang pas, agar tujuan pendidikan tercapai. Mendidik bukanlah perkara remeh alias gampangan, mendidik itu mencakup masa depan sebuah bangsa, jadi, naif sekali jika upaya mendidik dilakukan asal jadi, asal memenuhi target ajar, asal memenuhi absensi, atau dilakukan asal sembarang orang. Mendidik, mesti dimulai dari filosofinya, agar jelas pijakan pendidikannya.

Nah, demikianlah lima buku terbaik 2015 versi saya. Semua buku di atas masih tersedia di toko buku. Sila cari untuk hadiah pengetahuan bagi diri maupun orang-orang yang kita cintai

Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published.