Bagaimana Seharusnya Kisah Draco Malfoy Diakhiri

Dari sekian bagian yang mengganjal dalam serial Harry Potter, ada satu yang terus menerus meneror saya, dan itu menyangkut musuh nomor dua abadi Harry Potter, Draco Malfoy.

Kenapa Draco Malfoy? saya juga tidak tahu. Mungkin karena dia sebenarnya anak pintar, namun karena terlalu dimanja, kepintarannya tidak bersua daya juang, sehingga ‘karir’nya dalam novel Harry Potter hanya berhenti sampai jadi tukang rusuh sekolahan saja. Atau mungkin karena sebenarnya dia punya potensi menjadi protagonis, namun karena J.K Rowling keukeuh tidak membawa dia ke mana-mana dalam ceritanya, maka dia stuck di situ. Beda dengan Neville Longbottom yang secara mengejutkan ditampilkan sebagai pahlawan oleh Rowling di seri terakhir, hal yang sebenarnya ‘kurang nyambung’ dengan sosok Neville di seri-seri sebelumnya. Jika Rowling memang ingin menjadikannya pahlawan di akhir cerita, mestinya dia sudah mempersiapkan Neville dari seri pertama, sebagaimana ia menyiapkan Hermione Granger untuk Harry Potter (yang ternyata rencana itu dia khianati sendiri di seri terakhir). Tidak ada pahlawan yang terlahir dari bungkus mi instan, nyatanya, Neville adalah anomali dari semua itu. Tiba-tiba saja kita diberitahu bahwa sebenarnya, tuah kekuatan Voldemort bisa saja untuk Neville, jika tidak keduluan terpantul pada Harry saat ia masih bayi. What a

Oke, kita lupakan anomali Neville ini, mari melihat lagi sosok Draco Malfoy, yang seharusnya kita benci, namun, sampai akhir cerita tak juga mampu melahirkan rasa benci (setidaknya bagi saya), karena kenakalan yang ia lakukan sebenarnya masih dalam taraf ‘wajar’. Jenis kenakalan anak sekolahan yang belum menyentuh taraf kriminal. Justru, sebenarnya, jika Rowling ingin menyiapkan pahlawan baru, Malfoylah orang yang tepat, karena ia sudah memenuhi persyaratan untuk menjadi pahlawan kedua. Pertama, ia kreatif dan bisa merancang aneka kenakalan untuk menganggu Harry Potter. Kedua, ia bisa menaklukkan orang dengan sifat marah atau ngebossy. Setidaknya dia punya kemampuan menguasai. Kalau ia memerintahkan sesuatu, teman-temannya mengikuti. Dan yang penting, dia melindungi Harry saat menjadi tawanan kaki tangan Voldemort (dengan mengatakan tidak mengenal orang yang ditangkap itu sebagai Harry Potter). Di situ, kelihatan kalau ia mulai bisa memilah mana yang baik dan tidak. Ia mulai merasa Voldemort sebagai beban, dan dia berani mengambil risiko dengan melindungi Harry Potter. Keinginan untuk memberontak dari Voldemort ini juga terlihat saat ia harus menyiapkan kedatangan Voldemort di Hogwarts melalui kamar rahasia. Namun, saat itu ia tak punya pilihan karena orangtuanya berada di barisan Voldemort. Hal-hal ini tidak ada dalam diri Neville. Dan sebenarnya, jika ingin lebih greget, Rowling harus memasukkan musuh Harry ke dalam barisannya di detik-detik terakhir. Perubahan lawan menjadi kawan adalah hal yang tak akan terlupakan dalam cerita mana saja. Bila dibandingkan dengan perubahan instan Neville, jauh lebih mengguncang perubahan yang (seharusnya) terjadi pada Draco Malfoy.

Jika saya J.K Rowling, maka inilah yang akan saya lakukan untuk seteru sekolah Harry itu.

Di pertarungan terakhir, saat pasukan Harry Potter berhadap-hadapan dengan barisan Hogwarts, Malfoy menemui dilema maha luar biasa dalam hidupnya ketika sang ayah, Lucius Malfoy, memanggilnya, agar pindah dari barisan Hogwarts ke pasukan Voldemort. Ia berdiri gemetar di dekat gurunya, Mc Gonagal. Seluruh orang memandangnya. Ke mana ia harus pergi? Di sana ada orangtuanya yang begitu mencintainya. Di sini ada guru-guru dan teman-temannya. Dia mencintai orangtuanya, namun dia tahu mereka berada di pihak yang salah. Jika ia tetap bertahan di Hogwarts, ia bisa mati, dan ia tak mau mati. Tapi, jika ia pindah ke barisan Voldemort, ia akan selamanya bergetah kejahatan.

Dia ragu, lalu memutuskan melangkah. Dia berjalan tertatih-tatih menuju orangtuanya yang menunggu dengan gembira dan harapan meluap. Dia merasakan lenguh kesedihan semua teman-temannya. Dan ya…itu Harry Potter. Anak yang selama ini dibencinya karena mendapat popularitas luar biasa dari maha kebetulan tuah Voldemort. Tapi Harry Potter sudah menyelamatkannya di kamar rahasia dari terjangan api, dan ia pun sudah menyelamatkan Harry saat menjadi tawanan anak buah Voldemort. Mereka seharusnya impas.

Dan bukankah saat ini Harry Potter sudah mati atau kelihatannya begitu.Ia lunglai tak berdaya di gendongan Hagrid.

Malfoy sudah berjalan sebelas langkah. Lalu tiba-tiba ia berhenti.

Baiklah, jika memang harus mati, biarlah dia mati. Dia sudah dewasa dan dia bisa memilih sendiri jalannya. Maafkanlah dirinya, ayah, ibu. Dia tak bisa memenuhi harapan orangtuanya, tapi siapa pun tahu, dia akan selamanya mencintai mereka.

Tapi, cinta tidak akan membuatnya ikut pada kegelapan.

Jadi, ia berhenti. Lalu berbalik. Di situ ia melihat wajah Harry Potter yang pucat. Dia memang membenci anak dengan tanda sambaran petir di dahi itu, tapi dia tak bisa mengingkari kenyataan, kalau Harry benar. Hogwarts benar. Dumbledore benar. Jika ia mengikuti Voldemort, ia mungkin akan tetap hidup, tapi selamanya akan bertahan dalam dunia gelap. Jika ia bersama Hogwarts, mungkin ia akan mati, tapi ia akan mati dalam kebebasannya.

Ia melangkah. Satu, dua, tiga. Ia mendengar ibunya memanggil di belakangnya. Mengiba-iba. Gumaman tak percaya mendengung. Inilah dia, si Draco Malfoy. Anak tunggal Lucius Malfoy. Orang pilihan Voldemort untuk membantu membuka jalan bagi pasukannya di kamar rahasia. Ternyata, hari ini dia berkhianat. Dia berbalik ke Hogwarts. Ke tempat ia diajarkan bagaimana membedakan kebenaran dan kesalahan oleh Dumbledore.

Ia terus berjalan sampai ke depan Hagrid. Harry sudah mati. Hogwarts mungkin tak punya kesempatan lagi. Tapi, itulah kesalahan mereka, menganggap Harry-lah kesempatan itu. Padahal, kesempatan ada di tangan semua orang. Dia yakin, ia dan Harry masih musuh. Tapi, mulai hari ini, setidaknya, ia bisa memandang permusuhan itu dengan cara baru. Ia kembali melangkah, kali ini ke samping Hagrid. Berdiri tegak di situ seolah pengawalnya. Biar dunia tahu bahwa kini ia bersama Harry Potter. Bahkan bukan cuma Harry, ia bersama Hogwarts, Dumbledore dan semua pemberani yang menguatkan hati untuk bertarung melawan kejahatan.

Nun di depan sana ibunya terisak.

Mungkin dia akan mati, tapi dia akan mati dengan terhormat. Seperti Dumbledore.

**

Seperti inilah saya ingin drama Draco Malfoy diakhiri, agar kita bisa mengambil pelajaran, bahwa setiap orang selalu punya kesempatan menjadi pahlawan. Bertarung untuk kebenaran dan kebaikan. Meski sebelumnya, ia berkubang lumpur kejahatan.

Selalu ada kesempatan kedua bagi semua orang, bukan?

 

Share Button

One Reply to “Bagaimana Seharusnya Kisah Draco Malfoy Diakhiri”

  1. Annast

    SETUJU BANGETTT!!!!!!
    agak bingung ko tiba tiba pedangnya ke Neville, maksudnya selama buku-buku sebelumnya peran dia tuh kurang greget gimana gituu tapi ternyata dia yang menjadi ‘pahlawan terakhir’ ituuuuuu😑

Leave a Reply

Your email address will not be published.