Buyung Sirah dan Belut Besar

 (catatan: kisah yang saya tulis ini satu dari 12 cerita dalam buku cerita rakyat Sumatra Barat yang diterbitkan oleh Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sumatra Barat)

Kisah-kisah hebat seringkali datang dari orang-orang yang tidak terduga. Orang-orang yang sebelumnya dianggap tidak punya kemampuan apa-apa, atau orang-orang yang dianggap remeh karena punya kekurangan di tubuhnya. Satu dari orang-orang itu adalah Buyung Sirah. Ia adalah anak lelaki berusia dua belas tahun yang terlahir pincang. Ia kerap dijadikan bahan ejekan oleh anak-anak di kampungnya. Sering, ketika ia membantu ibunya mengangkut air dari sungai, seseorang membuat jebakan di jalan yang dilaluinya. Jebakan itu berupa lubang yang ditutupi daun dan tanah atau bambu-bambu yang ditaruh bertumpuk dan melintang menghalangi jalan. Semua jebakan itu adalah hambatan berat bagi kakinya yang pincang. Buyung Sirah ingin melawan, tapi, ia tidak tahu kepada siapa harus meminta perhitungan. Sebab, tak satu pun di antara anak-anak itu yang memperlihatkan muka ketika ia terjebak. Yang ia dengar hanya banyak suara tawa dan teriakan mengejek dari balik pepohonan.

Semua perbuatan tidak menyenangkan itu niscaya akan terus ia terima kalau saja tidak terjadi sesuatu yang menggemparkan. Setelahnya, Buyung Sirah akan mengetahui, betapa, keberanian dan keikhlasan hati, bisa membuat orang yang dulu mengejeknya, bisa berbalik menjadi sahabat yang setia.

Inilah ceritanya.

**

Di Luhak Limopuluh ada satu tradisi yang biasa dilakukan setelah panen padi, namanya Pacu Jawi. Dalam Pacu Jawi, sapi-sapi berlomba bersama pengendalinya untuk mencapai garis finish. Biasanya, kegiatan ini dilakukan di tiap-tiap nagari yang ada di Luhak Limopuluh. Hadiah Pacu Jawi beragam. Ada yang menyediakan ayam, kambing bahkan sapi. Semakin besar hadiah, semakin banyak peserta yang mengikutinya.

Suatu kali, muncullah keinginan dari beberapa nagari untuk menyelenggarakan pertandingan yang lebih besar. Sapi-sapi yang memenangkan pertandingan di nagarinya masing-masing, diadu untuk mencari yang terunggul di Luhak Limopuluh. Perlombaan akbar ini diadakan di sebuah petak yang sangat luas di Pulutan. Setelah dua hari, akhirnya perlombaan itu memasuki babak akhir. Tiga sapi siap berlomba untuk menjadi pemenang. Tiga sapi itu berasal dari Pulutan, Tanjung Pati dan Sarilamak.

Sedari siang, tempat itu sudah ramai oleh acara akbar ini. Semua orang ingin menyaksikan peristiwa bersejarah ini, tak terkecuali Buyung Sirah. Ia sengaja datang saat matahari baru melewati puncak kepala agar bisa memilih tempat yang bagus untuk melihat keseluruhan pertandingan. Beruntung ia menemukan sebuah pohon dadap yang tidak terlalu tinggi. Dengan susah payah ia menaiki pohon itu dan menunggu.

Setelah beberapa waktu, perlombaan pun dimulai. Sapi-sapi besar nan gagah memasuki arena. Setiap satu sapi muncul, sorakan dan tepuk tangan bergema. Buyung Sirah ikut bertepuk tangan. Ia mendukung sapi dari desanya, Pulutan. Sapi itu akan dihela oleh Karik, anak kepala Jorong, yang selama ini sering mengejeknya dengan panggilan si Pincang Tele alias si pincang bodoh. Buyung Sirah tidak menyukainya, tapi tentu saja ia mengharapkan Karik menang.

Tabuh dipukul, pertandingan dimulai. Gemuruh sorak memenuhi udara. Semua orang menyemangati sapi jagoannya masing-masing. Namun, di tengah-tengah arena, sesuatu yang aneh tiba-tiba terjadi. Dua sapi yang ada di kiri kanan Karik mendadak berlari tak tentu arah. Sorak sorai segera menjadi keributan. Para penonton yang mulanya berteriak penuh semangat dari atas pematang, lari berhamburan menghindari terjangan.

“Jawi mengamuk! Jawi mengamuk!!” teriak mereka berulang-ulang. Hanya Buyung Sirah yang bisa  melihat apa yang sebenarnya terjadi dari atas pohon.

**

Sapi-sapi berhasil ditenangkan dengan cepat, namun kehebohan yang ditimbulkannya tak kunjung berakhir. Orang-orang dari Sarilamak dan Tanjung Pati marah, mereka menuduh Karik telah melakukan kecurangan. Perdebatan berlangsung ramai dan lama. Semakin sore semakin ribut. Orang-orang Pulutan membela Karik dan balas menuduh orang dari Sarilamak dan Tanjung Pati sebagai orang-orang yang tak bisa menerima kekalahan. Perdebatan itu berakhir menjadi perkelahian.

Keesokan harinya, para datuk berkumpul. Mereka hendak menemukan pemecahan dari masalah ini. Namun, meski telah panjang berbincang hingga petang, tak kunjung ada pemecahan. Orang-orang mulai gelisah. Sore itu, Buyung Sirah menemui Karik dan memintanya jujur.

“Aku melihat kau melempar sesuatu ke mata kedua sapi itu,” kata Buyung Sirah, “kau harus mengakui kesalahanmu.”

“Tidak,” jawab Karik gemetar, “sapi-sapi itu gila sendiri. Aku tidak melakukan apa-apa.”

“Bahkan dalam keadaan begini pun kau masih berbohong,” ujar Buyung Sirah dengan marah, “kau lihatlah akibat dari perbuatanmu sekarang! Kampung kita yang mulanya damai, sekarang menjadi ribut. Orang-orang tidak bisa ke ladang dengan tenang. Setiap saat orang-orang membicarakan soal perkelahian!”

“Ampuun!” Karik menjatuhkan diri, “tolonglah aku, Buyung Sirah. Tolonglah!” ia mulai menangis tersedu-sedu.

“Sekarang nasi sudah menjadi bubur,” kata Buyung Sirah, “besok-besok kau pikirlah berulang-ulang sebelum melakukan sesuatu!”

Keesokan harinya para datuk berkumpul lagi. Mereka memanggil ketiga pengendali sapi. Karik yang sangat ketakutan tidak mampu berbicara apapun, sementara dua pengendali sapi lainnya masih tetap marah dan tidak bisa menerima apa yang terjadi di lapangan Pacu Jawi. Orang-orang dari tiga daerah tersebut berkumpul tak jauh dari balai pertemuan. Membentuk kelompok-kelompok untuk membicarakan kecurangan dan pembalasan.

Suasana makin panas dari hari ke hari. Masyarakat gelisah. Semua pertemuan mencapai jalan buntu. Para pemuda makin sering berkumpul untuk merencanakan pembalasan dendam. Daerah yang mulanya damai menjadi tidak tenteram.

Pada suatu hari, Buyung Sirah bertanya pada ibunya.

“Ibu, bagaimanakah cara orang-orang dahulu menyelesaikan masalah?” tanyanya.

“Mula-mula, dinginkan kepala dengan mengajak mereka semua makan-makan,” kata sang ibu, “lalu, setelah perut kenyang dan pikiran tenang, ajak semua berbicara tentang masalah tersebut.”

“Bukankah para datuk telah mengajukan usul itu, Ibu?”

“Benar, tapi tidak semua sepakat. Tak ada yang mau makan bersama orang-orang yang mereka anggap curang. Jadi, masalah tidak terselesaikan. Anak-anak muda memiliki pemikiran sendiri.”

Buyung Sirah merenungkan kata-kata ibunya. Setelah berpikir sekian lama, ia mendapat suatu ide. Konon, di daerah antara Tanjung Pati dan Katinggian, terdapat sebuah rawa yang dihuni seekor belut yang sangat besar. Saking besarnya, daging belut ini cukup untuk mengenyangkan penduduk satu kampung. Menurut pikir Buyung Sirah, jika ia bisa menangkap belut ini, ia bisa mengajak penduduk dari ketiga nagari untuk memasak belut itu bersama-sama. Ia tahu persis kesukaan orang-orang Luhak Limopuluh terhadap belut. Mereka semua pasti sulit menolak disuguhi hidangan daging belut yang manis dan lezat.

Ia segera menyampaikan rencana itu pada ibunya. Awalnya sang ibu menolak. Ia takut Buyung Sirah celaka. Orang yang sempurna fisiknya saja belum tentu bisa menangkap belut besar itu, apalagi Buyung Sirah yang cacat kakinya. Namun, sang ibu tidak tega menyampaikan hal itu pada putranya. Ia takut putranya menjadi rendah diri. Jadi yang bisa ia lakukan adalah membekali Buyung Sirah dengan sekantong ikan dan nasehat.

“Ingatlah, Nak, belut itu licin, jika ia berada di rawa, sulit bagimu menangkapnya. Jadi kau harus memancingnya untuk keluar dari sana.”

“Baik, Ibu.”

“Ingatlah lagi, belut itu sangat besar, tingginya melebihi tubuhmu dan panjangnya hampir sama dengan panjang kampung kita. Belut itu sangat sombong karena mengira ia adalah hewan terbesar di bumi ini. Perangkap apapun takkan bisa mengurungnya. Kau hanya bisa menangkapnya dengan tipu muslihat.”

“Baik, Ibu,” Buyung Sirah mengangguk lalu ia pun pergi.

Setelah Buyung Sirah pergi, ibunya segera menemui ayah Karik yang merupakan kepala jorong. Diceritakannya maksud kepergian putranya. Karik yang mendengar cerita itu tanpa sengaja, merasa sangat bersalah. Ia merasa malu, orang yang selama ini ia ejek, ternyata mau bersusah payah untuk menyelesaikan masalah yang ditimbulkan oleh Karik. Segera dikumpulkannya anak-anak kampung. Diceritakannya perihal keberanian Buyung Sirah mencari belut besar itu. Mereka menilai tindakan itu tidak masuk akal, tetapi di sisi lain mereka mengagumi keberanian Buyung Sirah. Akhirnya mereka sepakat untuk membantunya. Menjelang siang, mereka sudah pergi ke daerah rawa, tempat yang menurut desas-desus merupakan wilayah hidup si belut besar. Masing-masing membawa sekantong ikan.

Akan halnya Buyung Sirah sendiri, begitu mencapai rawa, segera naik ke pohon paling tinggi dan bersiul. Menurut pengalamannya, belut-belut biasanya tertarik dengan suara siulan, dan akan berenang ke luar sarang untuk mencari sumber suara. Buyung Sirah terus bersiul hingga permukaan rawa beriak dan bergerak. Dengan berdebar ia menunggu kemunculan belut besar yang banyak dikisahkan orang-orang.

Sementara menunggu, anak-anak kampung yang dipimpin Karik telah sampai pula di tempat itu. Mereka tidak melihat Buyung Sirah di mana-mana. Mereka pikir, Buyung Sirah belum sampai. Jadi, mereka menunggu di bawah pohon, persis di pinggiran lumpur rawa yang mulai bergerak.

Di saat menunggu itulah tiba-tiba satu sosok hitam kecoklatan yang sangat besar muncul dari tengah rawa. Anak-anak itu memekik dan lari tunggang langgang. Belum pernah mereka melihat makhluk serupa itu sebelumnya. Badannya lebih besar dari pohon kayu yang sangat besar. Ketika mulutnya membuka, tampaklah barisan geliginya yang tajam.

Di atas pohon, Buyung Sirah tercekat ketakutan. Tapi ia segera teringat satu hal. Belut bukanlah hewan ganas. Belut tidak sama seperti ular yang memiliki bisa dan suka memangsa. Belut adalah hewan jinak. Setahu Buyung Sirah, makanannya adalah kodok atau ikan-ikan kecil. Buyung Sirah tenang kembali. Dipandanginya makhluk yang tengah menegakkan  kepala di tengah rawa. Itu memang belut, pikirnya. Tubuhnya berwarna hitam kecoklatan. Bagian bawah tubuh belut berwarna lebih terang dari punggungnya. Kulitnya licin berlendir. Sorot matanya tenang, tidak mengancam. Seperti sorot mata hewan-hewan jinak lainnya.

Buyung Sirah teringat perkataan ibunya, ia harus mengeluarkan belut itu dari rawa. Segera dilemparkanya seekor ikan dari dalam tasnya. Belut itu tampak tertarik. Didekatinya ikan itu dan dimakannya. Buyung Sirah merasa gembira. Dilemparkannya seekor ikan lagi, lalu ia merosot turun dari pohon.

Ia berupaya berlari secepat mungkin di sepanjang pinggiran rawa. Sambil berlarik ia terus melemparkan ikan. Belut itu makin tertarik. Ia berenang mengambil ikan-ikan yang dilemparkan. Begitu mencapai tepi rawa, si belut ragu sejenak.

Buyung Sirah terus berlari menjauhi rawa. Di satu tempat ia berhenti dan kembali melempar ikan lagi. Belut itu masih ragu, namun kemudian ia bergerak, dan merayap menuju ikan yang dilemparkan Buyung Sirah.

Tanah bergetar kecil ketika belut itu keluar dari rawa. Buyung Sirah mencoba mengukur-ukur panjangnya sambil berlari. Bahkan setelah kepalanya berada jauh di darat pun, bagian ekor belut itu masih terbenam di rawa. Alangkah panjangnya tubuhnya dan betapa berat badannya. Buyung Sirah berlari secepat yang ia bisa, sementara kepala belut itu makin mendekati dirinya. Ia melempar seekor ikan lagi, belut itu dengan sigap menyambar di udara.

Tepat ketika Buyung Sirah hampir kehabisan tenaga menjauhi belut, ia mendengar orang-orang memanggil namanya. Jauh di depannya, ia melihat Karik dan beberapa anak kampungnya melambai. Mereka mengacung-acungkan ikan. Buyung Sirah tak tahu mengapa mereka ada di situ, tapi ia gembira karena merasa mendapat pertolongan. Di depannya, Karik melemparkan seekor ikan. Pehatian belut itu beralih. Dengan cepat ia menuju Karik dan menyambar ikannya. Di belakang Karik, teman-temannya berlari menjauh sambil melempar ikan-ikan yang mereka bawa. Belut itu terus merayap menjauhi rawa. Tanpa ia sadari, ia telah bergerak menuju jalan besar yang biasa dilewati orang.

Buyung Sirah berhenti berlari begitu belut itu telah menjauhi dirinya. Ia menjatuhkan diri di tanah untuk beristirahat. Kakinya terasa  sakit. Tak sanggup lagi dibawa berlari. Ia sangat kecewa pada dirinya. Ia merasa telah gagal menangkap belut itu. Sekarang, entah dengan cara apa lagi mendamaikan masyarakat yang resah akibat peristiwa Pacu Jawi itu.

Karik mendekatinya dan duduk di depannya.

“Mengapa kalian di sini?” tanya Buyung Sirah.

“Ibumu memberitahu kalau kau ke mari untuk menangkap belut besar, jadi kami membantumu.”

Buyung Sirah terkejut mendengarnya.

“Aku akan membantumu pulang,” kata Karik. Dibantunya Buyung Sirah berdiri.

“Tapi kampung kita masih jauh,” kata Buyung Sirah, “aku bisa beristirahat dulu di sini. Kau bisa pulang duluan.”

“Tidak apa-apa,” kata Karik, “aku akan memapahmu sampai ke rumah.”

Buyung Sirah menurut. Ia tahu Karik merasa menyesal atas semua perbuatannya. Beginilah cara ia meminta maaf.

Begitu mereka ke luar dari kawasan rawa, mereka melihat banyak orang sudah berkumpul di area terbuka. Belut besar itu tampak tenang di tengah lapangan kecil, dikelilingi penduduk yang takjub dan penasaran. Sepertinya belut itu kekenyangan. Teman-teman Karik datang menghampiri mereka.

“Kita berhasil menangkapnya,” ujar salah seorang.

“Belut ini akan diapakan, Buyung Sirah?” tanya yang lain.

Buyung Sirah merasa bingung, “kenapa kalian bertanya padaku?”

“Sebab belut ini adalah milikmu. Kamu yang membawanya ke luar dari rawa.”

“Ya, katakanlah,” kata yang lain, “harus kita apakan belut ini.”

Buyung Sirah terharu mendengarnya. Belum pernah anak-anak di kampungnya memperlakukannya dengan hormat seperti itu. Jangankan berlaku hormat, mendengar perkataannya saja mereka tidak mau. Sekarang, mendadak mereka semua merasa butuh dengan pendapatnya. Perasaan kecewa dan gagal yang sebelumnya melekat di dadanya, hilang, berganti dengan rasa bahagia dan kerendahan hati.

“Katakanlah pada para datuk kalau aku membawa belut ini untuk perdamaian kita semua,” ujar Buyung Sirah pelan, “kita akan memasaknya dan memakannya bersama-sama.”

Orang-orang yang mendengar permintaan Buyung Sirah itu bersorak gembira. Kabar segera disampaikan ke setiap penjuru nagari. Orang-orang dari tiga tempat yang sebelumnya berselisih, Pulutan, Tanjung Pati dan Katinggian segera mendatangi tempat itu. Mereka setuju untuk memasak belut itu bersama-sama. Tungku-tungku segera disiapkan. Wajan-wajan besar dibersihkan. Kelapa-kelapa dibelah, diparut dan diambil santannya. Berkarung-karung cabe, bawang, tomat, jahe dan bumbu lainnya digiling. Bergerobak-gerobak minyak kelapa dibawa. Anak-anak, orang dewasa, para datuk, mendatangi tempat itu, menonton semua aktivitas memasak dengan gembira. Perselisihan yang sebelumnya terjadi, perlahan dilupakan. Ketegangan antara penduduk kampung mulai hilang. Semuanya bernyanyi dengan gembira, tertawa-tawa dan bahagia.

Buyung Sirah beroleh kehormatan yang tinggi. Ia didudukkan di antara para datuk, dan disuruh mengulang-ulang ceritanya yang hebat. Orang-orang mendengarkan kisah kecerdikan dan keberaniannya mengeluarkan belut dari rawa.  Kisah itu diulang oleh orang-orang tanpa bosan. Mereka semua bangga padanya.

Keesokan harinya semua persiapan selesai, dan belut itu mulai dimasak. Wangi daging bercampur bau rempah menguar di udara. Ribuan orang memadati lapangan. Mereka ingin mencicipi rasa daging belut raksasa yang selama ini cuma ada dalam cerita.

Buyung Sirah beroleh kehormatan mencicipi daging itu untuk pertama kalinya. Dengan hormat, ia memberikan daging itu kepada ibunya.

“Betapa manisnya,” seru sang Ibu, “ini daging yang sangat lezat.”

Orang-orang bertepuk tangan dan bersorak gembira. Mereka mengambil daging belut itu seiris demi seiris dari wajan. Setiap kali mencicipinya mereka berseru, “Oh, sairih lamak, sairih lamak!” yang artinya, seiris enak, seiris enak.

Pesta makan belut itu berlangsung sampai keesokan harinya. Selama itu pula kata sairih lamak bergema di sana. Semenjak itu, tempat makan-makan tersebut dikenal sebagai Sarilamak, berasal dari kata sairih lamak.

Buyung Sirah diarak pulang ke kampungnya dengan bendi yang dihias warna-warni. Karik duduk di sebelahnya. Sepanjang perjalanan mereka bercakap-cakap dengan gembira. Karik menertawakan kebodohannya yang sempat berlari ketakutan saat melihat belut itu untuk pertama kali. Buyung Sirah menceritakan petuah ibunya sebelum pergi menangkap belut.

“Kenapa kau kembali lagi?” tanya Buyung Sirah kemudian setelah mereka usai tertawa.

Karik terdiam sejenak.

“Karena kau tinggal sendirian di rawa itu. Aku takut belut itu berpikir kau adalah ikan juga. Ikan yang bisa berlari.”

Mereka tertawa lagi. Kali ini lebih lama dan akrab. Buyung Sirah menahan airmatanya. Akhirnya, setelah bertahun-tahun tak memiliki satu teman pun, sepertinya, ia akan segera memilikinya. Bukan sekadar teman, tapi juga sahabat yang setia.

Bendi terus melaju, orang-orang di sepanjang jalan masih terus bersorak. Buyung Sirah merasa bahagia bisa melewati semuanya bersama seorang sahabat.

Persahabatan adalah hadiah terbaik setelah segala kesulitan.

**

 

Kisah tentang asal mula nagari Sarilamak beredar dalam berbagai versi. Kisah Buyung Sirah ini adalah salah satunya. Penulis menulis kisah ini dengan menjadikan Buyung Sirah sebagai sentral cerita.

Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published.