Mandeh, Keping Surga yang Tercampak ke Bumi (bag. 1)

Mungkin begini cara Tuhan menciptakan Mandeh: ia mematahkan satu sudut surga, lalu melemparkannya ke bumi. Terhampar di area seluas 18 ribu hektar, Mandeh menjadi satu dari sangat sedikit kawasan wisata bahari yang membuatmu betah berlama-lama hanya dengan memandanginya saja.

“Marilah lihat dari puncak Langkisau,” ajak Riko, teman seperjalananku selama di Pesisir Selatan.

“Langkisau?” aku mengenal daerah ini hanya dalam dua kegiatan yang banyak diulas media, pertama, Kejuaraan Internasional Paralayang pada tahun 2013, dan kedua, Festival Langkisau yang rutin diadakan setiap kali Tour de Singkarak hadir.

Alih-alih menjelaskan, Riko malah langsung mengajakku naik ke Puncak Langkisau. Jalan mendaki dan berliku. Di beberapa tempat sedikit curam, namun jalannya mulus. Sepanjang jalan, dari sela-sela pepohonan, laut terhampar seluas mata memandang. Biru, hijau, aqua. Ada yang lebih indah dari ini, Riko? Aku bertanya.

Tentu saja ada. Pertanyaan tolol, pikirku. Dan sebaiknya aku menahan diri untuk tidak bicara, setidaknya sampai aku menyaksikan apa yang selama ini hanya ada dalam pembicaraan orang saja.

Oh, Tuhan. Betapa mudahnya Kau menciptakan surga

**

Bagian Pertama

‘Aku akan ke Mandeh’, pikirku saat mengepak barang. Dan aku merasa berdebar. Selama empat tahun ini cerita tentang Mandeh bergulir dari mulut ke mulut, sebelum sampai ke telingaku. Aku cuma bisa mendengarkan sambil mencoba membayangkan. Aku belum pernah mendengar atau melihat serupa yang dibicarakan orang-orang. Birunya tak terkatakan. Kilau airnya seperti kuarsa. Pulau-pulaunya berserak dan wangi seperti durian masak. Udaranya embun sebelum siang. Ikan-ikannya lebih besar dari tempayan. Serius? Kau harus melihat sendiri, kata seseorang padaku, “tapi sekali kau terjerat, akan terperangkap selamanya.”

Sahih sudah. Aku harus ke Mandeh.

Perjalanan kumulai pada hari Jumat, 9 Januari 2016. Ini adalah perjalanan pertamaku di tahun ini. Mengawali tahun dengan sebuah perjalanan mungkin menandakan bahwa tahun ini akan menjadi tahun perjalananku. Entahlah. Tuhan punya rencana, dan kupikir, sejauh yang bisa aku lakukan dalam semua rencana-rencanaNya adalah, belajar untuk bersikap sebagai sebaik-baik manusia. Ketika aku diperjalankan, sebenarnya aku diperintahkan untuk belajar. Melihat kehidupan, memahami ragam kebudayaan, melihat sesuatu dari perspektif berbeda, merenungkan apa-apa yang dilihat dan ditemui. Betapa percuma perjalanan jika yang dibawa hanya beberapa lembar petikan kamera. Sebuah potret hanya pelengkap, bukanlah tujuan sebuah perjalanan.

Aku berangkat dari Padang pukul lima sore. Jarak Padang-Pesisir Selatan sekitar 60 km. Tidak terlalu jauh dan terutama, tidak membosankan. Mobil yang kutumpangi menyusuri jalan beraspal mulus di sepanjang pesisir Sumatra. Kapal-kapal berserak seperti remah. Langit dan laut bersatu nun jauh di ujung dunia sana. Cuaca cerah. Lamat-lamat di kepalaku mengalun lagu merdu biduan Ernie Djohan. Lambaian tanganmu, kurasakan pilu di dada, kasih sayangku bertambah padamu, airmata berlinang, tak terasakan olehku, nantikanlah aku di Teluk Bayur . Ini Teluk Bayur, pikirku, ketika melewati dermaga Teluk Bayur. Di situlah kapal-kapal ikan datang dan berangkat, termasuk kapal feri yang siap mengantar jemput orang yang hendak ke Mentawai. Mendadak perasaan melankolik menyusup ke dalam hati. Lebih 20 tahun lalu aku dan ibu mengantar ayahku ke Teluk Bayur. Aku ingat betul pada kapal sangat besar yang berayun lembut di atas air yang hijau gelap itu. Kapal itulah yang akan membawa ayahku pergi. Kapal itulah yang akan membuatku tidak bertemu dengan ayahku selama setahun.

Teluk Bayur
Teluk Bayur dari balik jendela mobil

Jangan mendekat. Dalam!Teriak ibuku. Aku berdiri sejauh satu meter dari pinggir lantai pelabuhan. Penuh dengan khayalan petualangan khas anak-anak. Bagaimana jika aku jadi pelaut, Ibu? Aku akan melayari tujuh lautan untuk melihat semua kehidupan yang dibentangkan Tuhan di dunia. Aku akan ke Afrika, Eropa, Amerika. Aku akan berlayar sampai kerinduan memanggilku pulang. Aku memandang ibu. Wajahnya yang cantik seperti daun kena penyakit. Seperti layu. Dia hanya sedih, pikirku saat itu. Sebab ia akan tidak bertemu ayahku  dalam waktu lama. Tetapi saat itu aku tidak terlalu peduli. Aku hanya berpikir tentang kapal dan ombak. Angin dan samudera. Ikan dan burung laut. Itulah masa-masa di mana aku tidak perlu memikirkan beban apa-apa. Masa aku bisa melihat dunia dengan langit dan awannya, laut dan kapalnya, dengan cara berbeda. Dan saat itu, betapa anehnya, perasaan yang kurasakan puluhan tahun lalu di pelabuhan Teluk Bayur menelusup hatiku. Mungkin karena aku akan ke Mandeh, mungkin karena lagu Teluk Bayur, mungkin karena suara luar biasa Ernie Djohan. Atau mungkin karena ketiganya.

Entahlah. Aku menyandarkan kepala dan merasa bahagia.

Betapa menyenangkannya, hanya dengan membayangkan Mandeh, Teluk Bayur dan mendengarkan suara Ernie Djohan di kepala, aku bisa kembali ke masa kanak-kanakku. Mungkin aku dan kita semua harus ke laut, untuk kembali ke masa paling bahagia dalam hidup kita.

(bersambung…)

 

 

 

Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published.