Mandeh, Keping Surga yang Tercampak ke Bumi (bag. 3)

(bagian sebelumnya bisa dibaca di sini)

Bagian Ketiga

Laut terhampar dalam aneka warna di sekelilingku. Hijau muda, hijau tua, teal, toska, biru dan aqua. Zul, pengemudi perahu motor yang akan membawaku berkeliling, mengemudi dengan tenang. Dua lelaki duduk bersamanya. Sebelah kaki mereka terjulur menyentuh air laut. Ketika perahu bergerak, air bergemuruh di kiri kanan kapal. Penumpang anak-anak bersorak gembira. Berebutan mereka merentangkan tangan, mencoba mengambil gemercik air asin yang dikibaskan perahu. Orang-orang tertawa. Kusauk air yang sehangat cahaya matahari. Mungkin inilah satu dari sekian alasan yang membuat orang selalu merindukan Mandeh. Airnya yang hangat berkilau. Kilapnya bergulir dari satu riak ke riak lain. Nun di kejauhan, sekelompok anak berenang. Anak laut! Pikirku. Tiba-tiba aku ingin sekali membuat novel tentang lelaki yang menyerahkan cintanya pada laut. Mungkin ia memiliki kekasih yang kemudian ditinggalkan, karena laut telah membuat hatinya terpagut.

Laut Mandeh sangat tenang, tempat yang baik untuk pelayaran wisata
Laut Mandeh sangat tenang, tempat yang baik untuk pelayaran wisata

Pelayaran sangat tenang. Perahu mulai mendekati pulau-pulau yang terserak, satu demi satu.

“Itu Pulau Setan Besar,” Zul menunjuk. Sebuah pulau berbentuk bukit batu, tanpa pantai, mencuat di bagian kananku. Dinding-dindingnya yang sewarna zaitun mengingatkan aku pada dinding Lembah Harau, sebuah tempat yang kerap dijuluki Green Grand Canyon, nun jauh di Kabupaten 50 Kota sana, 120 km dari Pesisir Selatan. Pulau Setan diselimuti pepohonan, dari kaki ke puncaknya. Bentuknya seperti tempurung terbalik. Seolah-olah, pada suatu masa, di zaman antah berantah, sebuah tangan raksasa sudah mengambil sebongkah batu besar dari gunung lalu melemparkannya ke Mandeh. Aku memotretnya. “Cantik,” gumamku. Memang tak bisa didarati, karena sejauh yang kulihat, pulau itu tak memiliki pantai. Terkadang keindahan cukup dinikmati saja dengan mata, telinga dan hati. Tak mesti kita mendaratinya untuk kesenangan pribadi.

Pulau Setan
Pulau Setan
pulau
Pulau-pulau terhampar sepanjang pelayaran. Penumpang perahu tinggal memilih mau singgah di pulau mana, dan selama apa. Semua pulau yang memiliki pantai menawarkan keindahan yang sama

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Perahu bergerak menjauh. Di hadapanku, pulau-pulau lain menyongsong seperti tuan rumah menyambut tamu yang paling diharapkan. Pulau Setan Kecil, Pulau Sironjong, Pulau Cubadak. Kini aku tahu mengapa perairan ini sangat tenang. Pulau-pulau ini seperti sebuah benteng alam, melindungi Pesisir Selatan dari ganasnya ombak Samudera Hindia. Nun jauh di kananku, sebuah teluk yang mengingatkan aku pada tempurung penyu, menjorok menantang samudera. Di kakinya, ombak Samudera Hindia yang sudah lebih dulu tersaring pulau-pulau kecil, berdebur tenang. Ini tempat yang baik untuk jatuh cinta, pikirku. Mungkin kapan-kapan aku akan membawa kekasihku ke sini.

Mungkin duduk di haluan kapal asyik juga, kapan-kapan aku akan duduk di situ menikmati laut ^_^
Sepertinya duduk di haluan kapal asyik juga, kapan-kapan aku akan duduk di situ menikmati laut ^_^

Perahu mendarat di Pulau Setan Kecil. Pasirnya sehalus adonan mentega. Airnya sehangat air yang tadi kusauk. Airnya begitu jernih sehingga aku bisa melihat pasir, serpih karang dan kerang dari permukaannya. Di tengah pulau, bergerumbul puluhan jenis pepohonan. Udaranya hangat dan lembab. Khas udara tropikal. Kesunyian menangkupi udara begitu melangkah ke balik pepohonan. Seandainya tidak ada deru perahu motor dan orang-orang, pasti ini akan menjadi salah satu tempat tersunyi di dunia. Udara bau daun dan laut. Bau garam dan kerang. Betapa menyenangkannya duduk sendiri di batang pohon rebah, lalu memandang keceriaan orang-orang bermain air. Perahu-perahu digoyang gelombang dan kegembiraan. Kuhirup udara dalam-dalam. Feromon berpendar di udara. Melayang di antara pepohonan. Dibawa berputar oleh angin. Dideburkan ombak ke setiap garis pantai. Bagaimana mungkin aku tidak akan jatuh cinta sementara Mandeh menawariku ketenangan yang sedemikian sunyi. Ini bukan hanya tempat yang baik untuk merindukan seseorang, tapi juga tempat yang tepat untuk menggali arti kebahagiaan, yang mungkin selama ini hilang ditelan deru kota.

Pasirnya sangat putih dan halus. Bila kita memasukkan kaki ke air, ikan-ikan kecil akan datang mengrubungi dan mengelitiki kaki. Sangat menyenangkan
Pasirnya sangat putih dan halus. Bila kita memasukkan kaki ke air, ikan-ikan kecil akan datang mengerubungi dan menggelitiki kaki. Sangat menyenangkan

Di sini waktu berhenti. Ketergesaan tak punya arti. Aku memejamkan mata. Sekali lagi, laut membuatku jatuh cinta, tanpa bisa berhenti.

(Bersambung…)

Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published.