Mandeh, Keping Surga yang Tercampak ke Bumi (bagian kelima-selesai)

Bagian sebelumnya bisa dibaca di sini

Bagian Kelima (selesai)

Pagi menjelang di pesisir. Hawa pagi cukup dingin. Sepagi itu aku sudah bersiap dengan perjalananku hari ini. Batu Kalang dan Langkisau. Aku sangat tertarik dengan kata ‘langkisau’. Terdengar kuat dan sangat heroik di telingaku. Nama yang sangat khas minang. Aku menduga-duga, apakah pada suatu masa dahulu, ada seorang pesilat bernama Pendekar Bukit Langkisau? Dan apakah ia hidup semasa dengan Cindua Mato?

langkisaud
Teluk Mandeh dilihat dari puncak Mandeh

Batu-batu besar di Pantai Batu Kalang
Batu-batu besar di Pantai Batu Kalang
Ketika air surut, di ceruk-ceruk  Pantai Batu Kalang berenang ikan-ikan cantik yang dibawa pasang dan terperangkap. Di kejauhan terlihat garis dinding karang Pantai Batu Kalang. Pantainya sangat dangkal
Ketika air surut, di ceruk-ceruk Pantai Batu Kalang berenang ikan-ikan cantik yang dibawa pasang dan terperangkap. Di kejauhan terlihat garis dinding karang Pantai Batu Kalang. Pantainya sangat dangkal

 

Mobil yang kutumpangi membawaku ke Pantai Batu Kalang. Jalan menuju pantai ini bersimpang dua dengan jalan ke puncak Mandeh. Terserah jalan mana saja yang ingin diikuti, keduanya akan membawaku ke tempat-tempat yang tidak terlupakan. Di puncak Mandeh aku bisa melihat pulau-pulau di sekitar Teluk Mandeh, merekah dalam cahaya matahari pagi, bak bunga-bunga yang mekar. Di Batu Kalang aku  akan bermain dengan air laut yang sedangkal mata kaki. Area dangkal itu sangat luas, lebarnya hingga 100 meter ke tengah laut, panjangnya nyaris sepanjang pantai Batu Kalang. Di pantai itu, ada sebuah sungai jernih dan dangkal bermuara. Arusnya lunak. Di situ, anak-anak dan orang dewasa leluasa bermain dengan ban.

mangrove di satu bagian pantai
mangrove di satu bagian pantai
Bunga karang yang dibawa pasang
Bunga karang yang dibawa pasang

Aku memutuskan ke Pantai Batu Kalang. Pantai ini disebut demikian karena memiliki ‘pagar’ karang yang panjang, yang membuat pantai itu nyaris tak berombak, dan dangkal. Karang itu menjadi kalang, dalam bahasa minang, kalang berarti pembatas. Dari sinilah nama pantai berasal.

Setelah melewati rumah-rumah nelayan dan jejeran bilah penjemur ikan kering, aku turun. Berjalan kaki ke pantai yang sangat landai dan bersih tanpa alas kaki memberi sensasi yang menyenangkan. Aku menghampiri tiga nelayan remaja yang tengah menarik jala. Apa kira-kira tangkapan mereka pagi ini? Aku berdebar-debar, mungkin mereka juga. Perlahan jala naik ke darat.

pantai yang dangkal
pantai yang dangkal
Nelayan di bagian lain Pantai Batu Kalang. Mereka tengah menarik jala ikan
Nelayan di bagian lain Pantai Batu Kalang. Mereka tengah menarik jala ikan

“Buntal landak!” seorang nelayan yang kemudian kuketahui bernama Yusril berkata, “ini ikan beracun,” ia memberitahu.

Seorang di antara mereka menyodorkan batu karang berbentuk ranting ke mulut ikan, hendak menguji kekuatannya. Dalam gerakan yang sangat cepat, kurang dari sedetik, ikan itu menyambar ujung karang dan menghancurkannya. Bukan main kekuatannya. Ikan itu segera dikembalikan ke laut. Para nelayan ini hanya ingin menangkap ikan untuk dikonsumsi, dan kalau ada yang cantik, untuk menghiasi akuarium atau dijual. Setelah ikan buntal landak kembali ke air, mereka mengumpulkan ikan-ikan kecil yang tergeletak di dalam jala. Aku tidak tahu nama ikannya, tapi aku sering melihat ikan-ikan itu dijual dalam bentuk ikan kering tawar di pasar-pasar tradisional Padang. Tiga remaja yang menjala ikan itu sedikit senang dengan hasil tangkapan.

“Apakah kalian selalu menangkap ikan saat pagi begini?” tanyaku, sebab, setahu para nelayan Mandeh menjala kala malam.

“Ini hanya untuk senang-senang saja,” kata seorang di antaranya. Mereka suka laut, tapi belum akan menjadi nelayan. Anak-anak itu lebih memikirkan sekolah, dan kalau nanti jadi nelayan, akan menjala dengan peralatan yang lebih modern. Sekarang ini laut hanya menjadi hiburan, sebelum nanti menjadi mata pencaharian.

Memeriksa tangkapan
Memeriksa tangkapan
Pantai Batu Kalang sangat landai dan indah
Pantai Batu Kalang sangat landai dan indah

“Pergilah ke Teluk Sikulo,” kata Yusril, “sebagai nelayan saya sudah mengunjungi sangat banyak pantai di sini. Semua pantai pulau-pulau yang ada sudah saya jelajahi, tapi tak ada yang lebih indah dari pantai Teluk Sikulo, bahkan, mungkin itulah pantai terindah di Indonesia,” katanya.

Betapa aku penasaran. Mudah-mudahan ada kesempatanku untuk mengunjunginya.

Aku lanjut ke Pantai Batu Kalang yang berada dekat muara sungai. Di pantainya, bunga-bunga karang berserak di mana-mana.

“Dibawa air pasang,” kata seorang bapak tua kepadaku. Kuambil satu, kuraba permukaannya yang halus dan berlendir. Teringat dengan terumbu karang yang kulihat kemarin di perairan Cubadak dan Sironjong. Apakah bunga ini bagian dari terumbu itu?

Beberapa batang mangrove tumbuh subur, tak jauh dari dinding karang pantai. Di dekat mangrove-mangrove itu, batu-batu besar berserakan, mengingatkan aku pada gambar pantai di Belitung, yang sering kulihat dalam iklan film Laskar Pelangi. Di balik batu-batu besar itu, laut tenang terhampar seluas alam. Maha Suci Tuhan. Betapa mudahnya Dia menciptakan keindahan.

Langkisau

langkisau5

Inilah dia Langkisau yang sering dibicarakan orang. Langkisau adalah satu dari sekian puncak bukit yang memagari Teluk Mandeh. Jalan ke puncaknya aspal mulus dan lebar. Di sepanjang jalan, pohon-pohon merimbun memberi kesejukan. Di sela-selanya laut terbentang seluas pandangan. Aku berdecak kagum, nyaris tanpa berhenti.

langkisau6

“Masih ada yang lebih indah, Riko?” tanyaku pada teman seperjalanan. Mestinya aku tak perlu bertanya, setidaknya, sampai aku tiba di puncak Langkisau yang terkenal.

Sehabis jalan raya, aku menaiki tangga-tangga batu yang akan membawa ke puncak. Cuaca sangat baik. Langit biru bersahabat. Tak kan ada hujan, sepertinya. Waktu yang tepat mungkin, untuk menyaksikan paralayang.

langkisau4langkisau3langkisau

 

 

 

 

 

 

 

 

Cukup ramai pengunjung Langkisau. Aku memasuki gerbang puncaknya. Tertulis, ‘Dilarang Merokok’ di sana. Di lapangan kecil puncak Langkisau, beberapa remaja mempersiapkan parasutnya. Aku menanti di bawah pohon yang teduh, untuk menemukan momen bagus menjepret mereka. Puncak Langkisau adalah salah satu tempat terbaik untuk paralayang. Di Indonesia, diketahui baru ada tiga tempat paralayang yang lokasi pendaratannya di tepi pantai landai, yakni Mantar (Nusa Tenggara), Timbis (Bali) dan di Langkisau, Pesisir Selatan. Langkisau mulai booming sejak diadakannya Festival Paralayang Internasional tahun 2013. Kondisi alamnya sangat mendukung untuk olah raga udara ini. Mulai dari ketinggian, lapangan untuk take off, kondisi angin, lokasi pendaratan, sampai spot pemandangan luar biasa indah yang disajikan alam. Satu yang turut memperjuangkan puncak Langkisau ini sebagai spot paralayang adalah Iqbal Rama Dipayana, ketua Federasi Air Sport Pesisir Selatan yang kebetulan aku temui di lokasi. Ia membina para remaja seputar Langkisau untuk menjadi atlet paralayang. Kerja kerasnya bertahun-tahun berhasil melahirkan atlet-atlet paralayang yang meraih juara satu dan dua dalam kejuaraan nasional. “Yang itu juara satu dalam kompetisi kemarin,” ia menunjuk seorang perempuan berjilbab bertubuh ramping yang membantu rekannya mempersiapkan parasut, “mereka senang di sini, karena memiliki kebanggaan.”

Bangga, ya itu kata kuncinya. Bangga memiliki sesuatu yang berharga, lalu bersama-sama merawatnya. Itulah kesan yang kulihat sepanjang perjalananku di Mandeh hingga sampai ke puncak Langkisau. Aku tidak mengalami satu kali pun hal yang tidak menyenangkan, mulai dari pedagang sampai tukang parkir. Nelayan sampai atlet paralayang. Mereka semua memiliki sesuatu yang lembut dan menyenangkan, kontras dengan perkataan orang selama ini kepadaku bahwa orang Pesisir Selatan itu keras.

“Mereka hanya keras pada orang yang tidak beretika,” demikian Riko berkata, “terhadap orang-orang yang jelas tampak memiliki iktikad baik, orang-orang Pesisir Selatan bahkan bisa dua kali lebih baik lagi.”

Aku mengerti. Respek adalah bahasa yang dipahami semua umat manusia.

Aku terus berjalan ke tubir puncak Langkisau. Subhanallah. Aku ternganga di pinggirnya. Seolah aku bisa melihat seperempat luas Samudera Hindia dari sini. Aku terpaku di situ, nyaris tak ingat mengangkat ponsel untuk memotret. Apakah ini yang ada di hadapanku? Samudera berwarna aqua. Langit biru cerminan laut. Nun di tepi cakrawala mereka berdua menyatu. Pulau-pulau kecil dan besar mekar dalam campuran warna hijau, biru dan ungu muda. Cahaya matahari berpendar-pendar, dipantulkan setiap riak gelombang.

Aku duduk di pinggirnya. Melepaskan pandang ke sejauh-jauh jarak yang mampu ditempuh mata. Aku ingin sendiri di sini. Tidak bicara, tidak memotret, tidak melakukan apa-apa selain memandang saja. Ada hal-hal yang selalu kucari dan tak kutemui di keriuhan Padang sana. Di sini, di tempat di mana suara seolah menempuh jarak yang sangat jauh untuk mencapai telinga, kutemukan semuanya. Cinta, harapan, impian, kenangan, kerinduan, kepedihan, penderitaan, kebahagiaan, masa depan. Betapa uniknya cara alam mengembalikan manusia pada sesuatu yang paling subtil dalam hidupnya.

Sekali terjerat, kau akan terperangkap, tutur seseorang. Dia benar. Di sini, Mandeh mengikatku terlalu dalam. Mungkin seperti luka, atau seperti cinta.

**

Pesisir Selatan, 13 Januari 2016

Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published.