(Mari) Memukul Murid

Saya tak mengerti. Beberapa kali di timeline fb saya berseliweran postingan yang berisi pembenaran terhadap pukulan yang dilakukan guru terhadap murid. Bahkan, para penulis artikel ini tak sungkan-sungkan mengambil contoh pejuang Islam hebat masa dulu yang di waktu kecilnya pernah mendapat kekasaran dari guru. Bahkan, sering juga mencontohkan diri sendiri yang dulu pernah dipukul guru ngaji/sekolah umum saat masih kecil. Semua kisah pro kekasaran itu rata-rata diakhiri kalimat: “pukulan itu bentuk kasih sayang guru. Suatu tindakan yang mengajarkan kedisiplinan pada anak.” 

Terus terang saya tidak mengerti dengan betapa paradoksnya sebagian kita. Di satu sisi kita rajin berkampanye tentang hebatnya metode pendidikan Rasulullah, di sisi lain, kita juga pro pada metode pendidikan yang tidak dicontohkan Rasulullah. Di satu sisi kita mengkampanyekan nasehat Dorothy Law Nolte yang terkenal itu. Membagi-baginya di laman sosial kita. (Anak belajar dari kehidupan. Jika mereka dibesarkan dengan ketakutan, mereka akan belajar untuk memusuhi, dst…), tapi di sisi lain kita merasa oke jika anak-anak dipukul dalam pelajarannya. Anak-anak yang dipukul akan disiplin? Coba periksa baik-baik. Benarkah mereka disiplin atas kesadaran sendiri atau justru takut akan dimarahi? Dari luar, hasilnya tampak sama, tapi motivasi beda. Sebagian kita pernah dipukul guru waktu kecil? apa hasilnya kira-kira? Sudah disiplinkah kita di jalan raya? Sudah disiplinkah kita membuang sampah di tempatnya? Sudahkah kita benar-benar disiplin dalam banyak hal seperti alasan para pro pukulan? Maaf, hanya karena anda pernah dipukul waktu kecil, bukan berarti tindakan ini wajar dilakukan. Rasulullah tidak pernah memukul murid-muridnya. Beliau adalah orang yang sangat lembut, yang setiap perkataan beliau langsung menyentuh hati murid-muridnya. Apakah kelembutan beliau ini membuat murid-muridnya tidak disiplin? Sebaliknya, justru generasi didikan beliau adalah generasi terbaik Islam. Beliau penyayang, suka bercanda, tidak mudah marah, sangat bijaksana, tidak mudah melarang (buktinya, ada orang Badui yang kencing di sudut masjid dibiarkan saja oleh Rasulullah karena beliau tahu sang Badui belum mengerti akibat perbuatannya). Pendek kata, kekerasan bukan bagian dari metode pendidikan Rasulullah.

Sekarang mari kita lihat negara-negara yang pendidikannya maju seperti Norwegia, Finlandia dan Inggris. Memukul pun bukan salah satu metode pendidikan guru-guru di sana. Di Inggris, guru yang melakukan kekerasan terhadap murid langsung dipecat dari sekolah. Sederhana saja, pendidikan itu berjalan bila hati tersentuh toh? mungkinkah menyentuh hati murid dengan memukul mereka?

Saya pernah dipukul guru saya, dan saya tahu betapa pahitnya itu. Adalah tidak mungkin saya membiarkan anak-anak merasakan kepahitan yang sama. Pukulan membuat mereka merasa tidak dihargai. Apakah jika mereka dewasa, berusia 25 tahun, anda tetap mau memukul mereka? Saya tidak yakin. Lalu mengapa anda merasa anak-anak yang pengalaman hidup di dunia baru beberapa tahun sudah selayaknya dipukul kalau mereka sedikit nakal? Anak-anak bukan subtitut kehidupan. Mereka adalah manusia yang sama berhak mendapat penghargaan seperti orang dewasa. Anda pro kekerasan? Coba bayangkan dulu jika hal yang sama terjadi pada anda. Menerima tidak?

**

Sebuah catatan, terutama untuk diri sendiri

 

 

 

Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published.