Al Biruni dalam Sejarah Astronomi Dunia

(Catt. Tulisan ini saya buat untuk menyambut gerhana matahari total yang terjadi di wilayah Indonesia pada 9 Maret 2016)

Sebagai fenomena alam yang luar biasa, wajar kiranya gerhana (baik matahari maupun bulan) mendapat perhatian yang sangat besar. Dalam sejarah keemasan ilmu pengetahuan Islam, kita akan menemukan nama-nama astronom hebat yang mengamati detik-detik terjadinya gerhana dan menuliskannya sebagai sebuah catatan ilmiah yang luar biasa. Satu di antaranya adalah Al Biruni, seorang astronom, matematikawan, fisikawan, filsuf, bahkan juga ahli farmasi, kelahiran Persia 5 September 973 M.

Al Biruni adalah murid Abu Nashir Mansur, seorang matematikawan, penemu hukum sinus, salah satu hukum dalam trigonometri. Selain menyukai matematika, Abu Nashir Mansur juga menyukai astronomi. Bakat ilmuwan dalam diri Al Biruni terasah sejak muda di bawah bimbingan gurunya ini. Tercatat, pada usia 17 tahun, Al Biruni sudah mampu menghitung garis lintang berdasarkan perhitungan ketinggian matahari dan pada usia 22 tahun Al Biruni membuat karya ilmiah berupa proyeksi pembuatan peta, sebuah studi penting dalam ilmu kartografi. Diskusi-diskusi ilmiah yang kerap ia lakukan bersama Ibnu Sina di awal usia 20-an, juga turut memperkaya wawasan keilmuannya.

Salah satu hal yang paling menarik dari Al Biruni adalah, catatan-catatannya berkenaan pengamatan terhadap berbagai fenomena alam seperti gerhana. Dalam peristiwa gerhana matahari yang terjadi pada 8 April 1019 misalnya, ia menuliskan catatan seperti ini: “Saat matahari terbit kami melihat sepertiga matahari terhalang oleh bayangan bulan.” Pengamatan itu ia lakukan di Lamghan, sebuah kota di dekat Kandahar. Ia juga pernah menuliskan semacam nasihat untuk para pemburu gerhana matahari, “Sinar matahari yang sangat terang saat terjadi gerhana bisa membuat terpesona, tapi bila dilihat terlalu lama akan meredupkan pandangan (merusak penglihatan), lebih baik melihatnya melalui gambaran di dalam air. Pengamatan yang saya lakukan di masa muda, telah melemahkan penglihatan saya.”

Berdasarkan berbagai pengamatan yang ia lakukan terhadap pergerakan benda-benda langit, ia bisa dengan tepat menentukan kecepatan pergerakan bumi, bulan dan matahari, serta mengukur kapan terjadi konjungsi antara ketiganya. Semua catatan pengamatannya tentang gerhana matahari dan bulan disebut-sebut sebagai rekaman sejarah astronomi terbesar yang terus menjadi rujukan ilmuwan hingga saat ini.

Al Biruni melahirkan karya-karya monumental dalam bidang astronomi, seperti Mas’udid Canon, sebuah ensiklopedi astronomi  luar biasa yang didalamnya memuat data-data observasi. Dalam ensiklopedi ini ia juga menyangkal teori tata surya Ptolemy. Al Biruni juga menyatakan bumi itu bulat. Al Biruni juga melakukan penelitian tentang India termasuk sistem kalender yang digunakan umat Hindu. Seumur hidupnya ia telah menuliskan semua hasil penelitiannya di berbagai bidang ilmu ke dalam 146 buku. Semua pemikirannya sangat penting dan sebagian besar bahkan menjadi tonggak baru bagi ilmu pengetahuan. Penelitiannya membentang dari sejarah hingga konsep reaksi waktu. Dari gerhana matahari hingga teknik ilmu geodesi. Dari astrologi hingga psikologi eksperimental. Tak mengherankan bila George Sarton, bapak sejarah sains menyebut Al Biruni sebagai ilmuwan terhebat sepanjang zaman. Untuk menghormati dedikasinya yang luar biasa terhadap ilmu pengetahuan, dan terkhusus, astronomi, nama ilmuwan kesayangan Sultan Mahmud ini diabadikan menjadi nama salah satu kawah di bulan.

Al Biruni wafat pada 13 Desember 1048 di Ghazna. Warisannya penelitiannya terus hidup dan terpelihara baik hingga saat ini,

 

 

Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published.