Lima Karakter yang (Mestinya) Ada Dalam Ceritamu (bag 4)

Kita bisa belajar dari penulis-penulis keren bagaimana mereka meramu cerita sehingga memiliki daya pikat yang susah dilupakan. Kita akan belajar dari empat karya laris, Harry Potter, Lord of the Ring, The Hunger Games dan Twilight. Harry Potter mewakili segmen anak dan remaja, Lord of the Ring mewakili segmen remaja dan pembaca laki-laki (young adult juga), The Hunger Games mewakili segmen young adult sementara Twilight mewakili segmen pembaca perempuan (dewasa).

Ada satu kesamaan diantara keempatnya, yakni, sama-sama memiliki lima karakter yang saling menopang jalannya cerita. Setiap karakter memiliki daya pikat yang susah dilupakan. Dan setiap mereka, memiliki penggemarnya masing-masing. Mari kita bahas satu persatu.

  1. Tokoh utama yang baik (protagonis)

Tokoh utama tidak selalu protagonis, dia bisa juga antagonis seperti halnya Grenouille di novel Perfume karya Patrick Suskind, tetapi, ehem…karena kita berusaha menemukan teori dari keempat novel di atas, mari kita ketepikan dulu novel Perfume. Kita akan membahasnya di kesempatan lain.

Tokoh utama yang protagonis berpotensi menjadi pahlawan di mata pembaca. Jadi, kalau kita ingin membuat sebuah novel perjuangan, kepahlawanan, motivasi dan hal-hal yang sifatnya positif, kita harus menghadirkan tokoh utama protagonis yang sungguh-sungguh kuat. Dia boleh saja tidak hadir di seluruh plot, tapi yang jelas, cerita tidak bisa berjalan baik bila dia tak ada. Cerita Harry Potter tak akan berjalan baik tanpa kehadiran Harry Potter. Hunger Games juga tak akan ada bila Katnis Everdeen absen. Lord of the Ring boleh jadi akan aneh tanpa adanya Frodo, dan Twilight tidak akan menjadi Twilight bila Isabella Swan tak ada. Pendek kata, tokoh utama adalah penyebab cerita itu ada.

2. Antagonis (lawan tokoh utama)

Posisinya dalam cerita sama penting dengan tokoh utama yang protagonis. Misinya hanya satu: menghambat seluruh perjuangan tokoh utama mencapai cita-citanya. Dalam Harry Potter kita menemukan antagonis bernama Voldemort dan Draco Malfoy. Dalam Hunger Games kita menemukan antagonis bernama Presiden Snow. Dalam Lord of the Ring kita menemukan antagonis bernama Saruman, Smeagol dan para orc. Dalam Twilight kita menemukan antagonis (yang sayangnya tidak terolah dengan baik oleh Stephenie Meyer sehingga kurang greget, meski demikian, ia ada) yakni Aro, Caius dan Marcus.

Antagonis berfungsi membuat pembaca menjadi panas dingin. Dia bertugas untuk membuat pembaca serasa ingin nyubit-nyubit dia karena ‘kok tegaaaa banget sama tokoh utama’

3. Peran pembantu

Dia adalah teman setia tokoh utama yang berfungsi menaikkan semangat sang tokoh saat sedang down akibat ulah antagonis. Harry Potter memiliki Ron dan Hermione. Frodo dalam Lord of the Ring memiliki Samwise Gamgee. Katniss memiliki Cinna, penata gaya yang terus mendukungnya. Isabella Swan memiliki Alice yang selalu memantau gerak-geriknya.

4. Penasehat

Tak ada orang yang hebat sendirian, mereka pasti butuh penasehat. Inilah yang membuat mereka tetap terlihat manusiawi, sehebat apapun mereka. Penasehat membantu tokoh utama menunjukkan baik dan benar. Memperlihatkan jalan mana yang sebaiknya ditempuh dan dihindari. Dia adalah tempat tokoh mengadu saat semua terasa buntu. Harry Potter memiliki Albus Dumbledore, Frodo memiliki Gandalf, Katniss memiliki Haymitch. Hanya Isabella Swan yang tidak secara eksplisit memiliki penasehat.

5. Gebetan

Gebetan ini menjadi bumbu lain cerita. Kisah cinta adalah salah satu daya tarik abadi sebuah cerita. Dalam Harry Potter kita dibuat penasaran dengan kelanjutan hubungan Harry dan Hermione (meskipun secara ‘kejam’ kemudian J.K Rowling memilihkan Ron untuk Hermione), dalam Lord of the Ring ada naik turun hubungan Aragorn dengan Arwen,  dalam Hunger Games ada getirnya hubungan Katnis dan Peeta Mellark. Sementara Twilight…ya, namanya juga kisah cinta….pasti berkisah tentang gebetanlah. Pendek kata, meski novel itu tidak berkiah tentang cinta, tapi penulis juga menghadirkan berbagai kemungkinan hubungan percintaan mereka. Hubungan ini nggak mesti jadi sih, pokoknya dihadirkan untuk menambah greget saja.

Nah, bagaimana menghadirkan lima karakter ini supaya ada greget? Bisa disimak di sini

 

 

Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published.