Tips Menulis (bag 1): Sebuah Dunia Bernama Novel

Sebuah novel pada hakikatnya adalah sebuah dunia baru yang dibangun oleh seorang penulis. Seluruh karakter di dalamnya bukanlah sekadar rekaan semata. Di dalam dunia baru itu, seluruh karakternya hidup, tumbuh, bernapas, berpikir, bertindak. Mereka semua memiliki masa lalu, masa kini dan masa depan yang direncanakan. Mereka semua memiliki latar kehidupan, sifat, kebaikan dan keburukan masing-masing. Ada di antara mereka yang relijius, ada pula yang tidak. Ada di antaranya yang memiliki kemampuan intelektual tinggi, ada pula yang biasa-biasa saja. Ada di antaranya yang licik dan pengkhianat, ada pula yang jujur dan setia. Ada pula yang jatuh cinta dengan seluruh perasaannya tanpa mempertimbangkan logika, ada pula yang jatuh cinta dengan seluruh perangkat rasionalitas. Ada yang suka rendang dan ayam goreng, ada pula yang vegetarian. Ada yang punya pandangan politik tertentu, ada pula yang sama sekali ogah memikirkan politik. Pendek kata, seluruh karakter di dunia itu sama dengan seluruh karkater yang ada di dunia nyata. Mereka hanya tahu nasib masa depannya setelah penulis menuliskan lanjutan cerita. Sama seperti kita di dunia nyata yang baru tahu lanjutan cerita hidup kita setelah menjalani cerita yang dituliskan Sang Pencipta. Karena mereka sama seperti kita, maka sudah selayaknya kita memperlakukan para tokoh cerita sebagaimana kita memperlakukan manusia nyata. Kenali emosi mereka, cintai seluruh kebaikan mereka dan bencilah pada semua keburukan yang mereka lakukan. Meskipun…sebenarnya kita yang menciptakan semua kebaikan dan keburukan itu. Jika kita sudah mampu mengenali mereka luar dalam, maka seluruh cerita itu akan sarat emosi. Seluruh hubungan yang terjadi di dalamnya akan menguras perasaan, dan cerita yang dibuat akan menjadi kuat.

Mengapa emosi itu penting? Sebab, menulis itu adalah sebuah pekerjaan seni. Seni digerakkan oleh intuisi. Intuisi membuat seorang penulis bisa memilih diksi yang baik untuk menggambarkan setiap peristiwa dan ungkapan perasaan. Intuisi seni lahir dari hati dan pikiran yang terus menerus tergerak untuk melihat, mengamati, merasakan dan memikirkan setiap hal, sekecil apapun itu, di sekitar kita. Jika kemampuan ini dipadukan dengan keterampilan mengolah fakta dan logika, cerita yang dihasilkan akan kuat.

Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published.