Hari Ini Ayesha Ulang Tahun

Hari ini Ayesha ulang tahun, tapi cerita ini bukan tentang bagaimana ketakjuban saya saat pertama kali ia hadir di pangkuan saya sepuluh tahun lalu, bukan pula tentang bagaimana dia mengajari saya tentang komitmen menjadi ibu. Ini hanya cerita sederhana tentang suatu peristiwa yang diwarnai tangis, lalu secara tak terduga berakhir bahagia.
 
Hari ini dia menemani saya untuk menyelesaikan beberapa urusan. Setelah semuanya selesai dia mengingatkan saya satu hal. Kue ulang tahunnya. “Oh, baiklah, mari kita pulang untuk membuatnya,” goda saya. Dia pura-pura merengut. Saya tahu dia ingin kue ulang tahun spesial. Kue ulang tahun sangat lezat yang dijual di sebuah swalayan kue terkenal di Padang. Dia tahu saya hanya bercanda, tapi dia juga tahu saya bisa saja mewujudkan candaan itu kalau ia tak bersikeras. Maka ia memilih menunjukkan sikapnya. Ditambah rentetan cerita bagaimana ia dan teman-temannya merancang kegiatan menyenangkan sore nanti, persis setelah potongan kue terakhir dihabiskan.
“Baiklah,” saya menyerah. Kami lalu pergi ke swalayan itu dan membeli kue yang dia inginkan.
 
Sesi membeli kue memakan waktu lama. Tentu saja. Dia ingin yang terbaik toh? Saya memilih bersabar. Ini hari ulang tahunnya. Tak setiap hari dia bisa mendapatkannya. Dia terus memilih, saya lanjut bersabar. Orangtua adalah sebuah sekolah yang tak pernah henti memberimu ujian. Jika hari ini kamu menyelesaikan ujian dengan nilai baik, belum tentu hal yang sama terjadi esok hari. Jika kamu terus berupaya belajar agar tak keluar jadi pecundang, maka bisa dikatakan kamu sudah berkomitmen. Dan komitmen…mengutip Karlina Supelli, adalah ukuran kedewasaan, dalam hal ini, kedewasaan menjadi orangtua.
 
Dia selesai memilih, giliran saya membayar. Semuanya terlihat sempurna. Kami pun pulang. Di rumah, dengan berseri-seri dia menunjukkan kue itu ke ayah dan adik-adiknya. Semua memuji pilihannya. Dia mengulang rencana ulang tahun itu kembali.
“Baiklah,” ujar say akemudian, “sekarang kita tunggu pukul lima.” Itu waktu yang ia sepakati bersama teman-temannya.
Pukul 16.30 WIB dia keluar, pukul 18.00 WIB dia pulang dengan wajah sembab. Apa pasal? saya kaget. Dia terus ke kamar dan tersedu-sedu di situ. Saya berada pada posisi antara ingin bertanya dan meninggalkannya sendiri. Tapi keinginan pertama yang menang. Mulanya dia bertahan untuk tidak menjawab, tapi setelah beberapa kali dibujuk (maafkan saya yang cerewet dan terlalu ingin tahu ini) akhirnya dia bilang kalau tak ada satu pun teman-temannya yang mau datang ke acara ulang tahunnya.
What?! kenapa? Dia menjawab begini begitu, dengan tersendat. Saya bilang sabar, mungkin mereka lagi nggak mood. Dia terus menangis. Ayesha anaknya sangat berkomitmen. Jika dia menjanjikan ini itu ke orang, biasanya selalu ditepati, jadi ketika ada orang yang tidak menepati janji, dia bisa menjadi sangat marah dan kecewa.
“Aku tak mau lagi bermain bersama mereka,” ujarnya kemudian.
Waduh, gawat ini. Bagi anak usia sepuluh tahun yang sudah sekian hari merancang kegiatan ulang tahunnya, kejadian macam begini bisa dimaknai sebagai penolakan. Ayesha tidak pernah ditolak sebelumnya. Setiap sore, teman-temannya selalu datang ke rumah mengajaknya bermain bersama. Terkadang mereka bermain di arena outbond yang saya kami buat di halaman rumah. Saya berupaya membesarkan hatinya, tapi tidak mempan. Dia terlanjur sakit hati.
Apa daya, tamat di dunia nyata, saya pun beralih ke dunia maya. Saya membuka Whatsapp grup ibu-ibu komplek perumahan saya. Saya jelaskan keadaan yang sebenarnya di situ. Muncul keprihatinan, terutama dari ibu-ibu yang anak-anaknya adalah teman sepermainan Ayesha. Mungkin yang terjadi adalah miskomunikasi. Entahlah. Para ibu itu lalu berembug di WA, mereka akan datang malam ini bersama anak-anak mereka, dengan kado dan ucapan selamat ulang tahun. Wah, saya surprise. Jika memang terjadi, ini akan menjadi kejutan yang menyenangkan di tengah badai yang berkecamuk di hati Ayesha.
Mereka semua bersepakat datang pukul tujuh, setelah salat Magrib. Ayesha masih sedih, tapi dia berupaya menghilangkan kesedihannya dengan nonton beberapa video di gadget. Saya tak bilang apa-apa padanya. Saya membereskan rumah, menanti kejutan untuk Ayesha. Lima menit menjelang pukul tujuh say amengeluarkan kue yang ia beli dari kulkas.
Yang terjadi kemudian sungguh menyenangkan. Pukul tujuh mereka semua betul-betul datang lengkap dengan pasukan cilik mereka. Rumah mendadak ramai oleh anak-anak yang berlarian hilir mudik dan memanjat-manjat arena outbond. Ayesha terbengong-bengong sejenak, lalu sembunyi di balik gorden. Memang begitu dia. Kalau ia berada di situasi yang sangat ekstrim, entah bahagia atau sedih, dia ingin bersembunyi, seakan ia tak ingin dunia tahu perasaannya secara eksplisit. Saya mengajak dia keluar dari balik gorden dan menyambut semua teman-temannya. Dan coba tebak…dia menerima hadiah! Sesuatu yang tak pernah dia pikirkan akan ia terima di hari ulang tahunnya. Teman-temannya memakan habis kue ulang tahunnya. Mereka lalu bermain bersama. Bercerita ini itu. Memanjat, melompat dan melakukan segala macam yang mampu mereka pikirkan saat itu. Dalam kebahagiaan, waktu selalu enggan kompromi. Tiba-tiba saja jam menunjukkan pukul sembilan malam. Aduhai, bagaimana bisa? Bukankah pukul tujuh rasanya baru terjadi lima menit lalu? Anak-anak itu terpaksa membubarkan permainan.
“Besok sekolah,” kata ibu-ibu mereka. Anak-anak itu patuh. Ada janji untuk bermain lagi esok hari. ‘Nah, lihat, Ayesha,’ saya ingin berkata, ‘teman-temanmu bukannya tidak melupakanmu. Mereka semua menyayangimu’. Tapi tentu saja saya tidak mengatakan itu, sebab, secara implisit Ayesha telah belajar bahwa jika pada saat itu orang belum memenuhi keinginanmu, bukan berarti mereka menolakmu di seluruh kehidupan mereka. Orang lain toh sama seperti kita. Mereka juga dikuasai mood negatif dan positif. Kita tidak bisa mengubah itu, kita hanya bisa mengubah sikap kita dan cara pandang kita dalam menghadapinya.
Tetapi, tentu saya juga tidak mesti merasa bahwa Ayesha sudah mempelajari hal-hal seperti ini. Dia tetaplah anak-anak. Dia bukan orang dewasa di tubuh anak-anak, meski untuk beberapa hal pemikirannya bahkan lebih jauh dari saya. Sebagai manusia, pengalaman hidupnya masih sepuluh tahun. Terlalu muda bahkan untuk disebut remaja. Jadi, saya cuma bertanya, “kamu bahagia?”
Dia menjawab, “seandainya malam ini bisa kuulang sekali lagi…”
Jawaban itu cukuplah menjadi penutup hari yang indah ini.
 
~30 Maret 2016~
*sebuah catatan parenting
Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published.