Menjadi Istri dan Ibu Bahagia

12969285_10201272398888241_1007409315_n
Setiap wanita yang telah menikah pasti menginginkan kebahagiaan menjadi seorang istri. Lalu ketika dia memiliki anak, dia pun menginginkan kebahagiaan sebagai seorang ibu. Namun dalam perjalanan mencari kebahagiaan itu, mereka harus menghadapi permasalahan hidup yang menyadarkan mereka bahwa kata-kata and they live happily ever after bukanlah ending dari cerita cinta yang membawa pangeran dan putri duduk bersanding di pelaminan. Hidup ini bukanlah tentang merajut kisah di negeri dongeng. Banyak sekali ombak yang datang entah sekedar memercikkan setetes air ke kapal atau bahkan mengguncang kapal dan menenggelamkannya. Mereka seperti bangun dari mimpi lalu mereka pun mulai bertanya, kenapa cinta yang dulu bergelora di hari pernikahan sekarang terasa hambar. Mengapa kebahagiaan mengetahui ada dua garis merah di test pack, sekarang seperti bencana kala mendengar kegaduhan dan teriakan melengking dari makhluk kecil. Dari dia yang dulu selalu dibelai lembut meski masih menghuni rahim nan gelap. Lalu muncul pertanyaan lain tentang mengapa dan mengapa? Hingga tahu bahwa kebahagiaan itu kita sendirilah yang menciptakannya. Tak ada kehidupan yang sempurna, namun kita punya kesempatan untuk menjadikannya sempurna menurut versi kita sendiri.

Kadang ada pertanyaan yang singgah. Bagaimana bisa kamu hidup tanpa mengeluh di tengah kondisi yang sebenarnya punya seribu alasan untuk mengeluh? Kenapa harus fokus pada hal-hal yang yang tidak kita miliki dan mengeluhkannya sedang banyak hal lain yang luput dari rasa syukur kita. Sering-seringlah menengok pada orang-orang yang tidak lebih beruntung dari kita. Terkadang orang-orang ini justru mampu memaknai kehidupan yang mereka jalani dengan ilmu ikhlas yang tinggi.

Pada tulisan kali ini saya ingin membahas lebih dalam tentang pengalaman saya menjadi seorang istri dan ibu, bagaimana saya berusaha menciptakan kebahagiaan ada dalam kehidupan saya yang mungkin belumlah mapan secara finansial. Tanpa bermaksud menggurui karena saya hanya bercerita berdasar pengalaman sendiri bukan dari perspektif psikologi atau ilmu-ilmu yang lain karena saya tak memiliki background psikologi. Saya hanya ibu rumahtangga yang fakir ilmu dan senang belajar. Dibanding pasangan yang sudah menikah puluhan tahun tentu kami ini hanyalah anak kemarin sore, keluarga muda yang tengah menata masa depan, membangun semua dari nol tanpa memiliki banyak harta, hanya kedua anak kami yang menjadi harta paling berharga.

Sebagai seorang istri tanpa kita sadari mungkin kita pernah membandingkan sosok suami kita di masa sekarang dengan sosoknya di masa awal menikah. Sering saya mendengar curhatan seorang istri yang mengeluhkan kenapa suaminya sekarang tidak semanis dulu, kurang romantis dan cuek, dan lain-lain. Lebih berat lagi ketika mereka sudah melirik rumput tetangga dan membandingkannya dengan rumput di halaman sendiri. Suami si A begini, suami si B begitu, kok kamu nggak kayak mereka bla bla bla. Kalau sudah ada kebiasaan membandingkan suami sendiri dengan suami orang lain maka cita-cita menjadi istri bahagia hanya tinggal kulit kosong tanpa isi karena kebahagiaan itu sejatinya adalah menerima apa adanya pasangan kita, mencintainya dengan segala kelebihan dan kekurangannya dan mendukung suami dalam kebaikan apapun kondisinya. Ketika ada karakter atau sifat suami yang tidak kita sukai maka sebelumnya bercermin terlebih dahulu dan lihatlah sebagai istri kita pun punya cela. Belajar untuk bersama-sama memperbaiki diri itu terasa lebih menyejukkan dibanding menuntut pasangan untuk menjelma menjadi sosok sempurna di mata kita. Bukankah sebagai istri kita wajib taat pada suami selama suami selalu membimbing kita berjalan di jalan yang diridhoi olehNya?

Menjalani peran sebagai istri selama enam tahun ini memberikan banyak pelajaran berharga untuk saya. Kalau kata teman-teman saya: “Hesty yang dulu dengan sekarang begitu berbeda”. Dulu saya dikenal sebagai anak bungsu yang manja, tomboy, childish, cuek, sekarang menjelma menjadi sosok yang dewasa. Padahal sejatinya saya pun masih belajar untuk menjadi benar-benar dewasa dalam menyikapi setiap persoalan hidup. Jatuh bangun mendampingi suami dalam karirnya hingga sekarang banting setir menjadi pedagang keliling mengajari saya untuk selalu bersyukur di segala kondisi. Tinggal tutup kuping saja ketika orang-orang meremehkannya atau membandingkannya dengan orang lain yang dipandang lebih sukses dan mapan. Suaminya si A gajinya tinggi, bisa bikinin rumah gedong buat istrinya, suaminya si B diterima kerja di tempat yang bagus, atau suami si C bisa beliin bermacam perhiasan, atau menyindir halus, “si X beruntung ya punya suami yang bisa memberinya perhiasan mahal, membangunkan rumah mewah, memiliki mobil, pekerjaannya bagus, duh makmur banget deh hidupnya, ayem..” Seolah memberi kesan jika suaminya belum mampu seperti itu berarti belum bisa memberi kemakmuran dan ketentraman. Padahal materi bukan jaminan kebahagiaan. Memang benar dengan materi kebutuhan hidup tercukupi. Tapi ada banyak hal yang juga tak bisa dibeli dengan harta sebanyak apapun. Untuk teman-teman sesama istri yang mungkin masih ngontrak seperti saya, belum punya rumah, tak punya perhiasan mewah, jangan pernah berkecil hati. Jangan ikut terpancing membandingkan suami sendiri dengan suami orang lain. Percaya saja bahwa rizqi sudah diatur. Selama suami bertanggungjawab menafkahi keluarga, memberikan kasih sayang yang berlimpah untuk kita, tidak berbuat kemaksiatan, selalu memberikan contoh yang baik selayaknya seorang kepala keluarga yang bertanggungjawab, maka syukurilah. Itulah harta yang sebenarnya.

Terkadang istri sulit menghindari untuk tidak membandingkan suami sendiri dengan suami orang. Bukan cuma soal kemapanan, karakter, fisik dan segala hal yang ada di diri suami seolah tidak berarti dibanding sesuatu yang nampak dari luar. Sekeren-kerennya lelaki lain, tetaplah bukan mereka yang bertanggungjawab atas keluarga kita. Bukan mereka yang berjuang untuk membahagiakan. Selalu mengingat kebaikan-kebaikan suami akan membantu kita menjadikan diri sebagai istri yang bahagia.

Jika suami membutuhkan seorang istri yang bahagia dan ikhlas mendampinginya dalam suka maupun duka maka anak-anak juga membutuhkan sosok ibu yang bahagia. Menurut saya salah satu cara untuk berbahagia sebagai ibu itu tak jauh berbeda dengan upaya untuk menjadi istri yang bahagia. Hargai anak-anakmu, terima mereka apa adanya serta jangan terpancing untuk membandingkan anak sendiri dengan anak lain. Menerima kondisi anak apa adanya adalah pencapaian tertinggi akan cinta tanpa syarat seorang ibu.

Every child is unique and special. Sometimes parents think that raising children is a competition and they want their children reach the best rank in every aspect of life. Mungkin inilah yang mengurangi rasa bahagia sebagai ibu, selalu menuntut kesempurnaan dari seorang anak.
Saya tahu memang sulit untuk tetap mengulas senyum kala melihat ruang yang selalu berantakan, anak-anak berebut mainan dan saling berteriak, mereka menangis, menumpahkan air, mencoreti dinding dan membuat gaduh. Tapi saya selalu berpikir hal-hal seperti ini tak akan lama. Mereka kan tumbuh besar dan suatu saat kita kan merindukan masa-masa di mana makanan belepotan di wajah mereka dan kita mengusapnya perlahan. Ketika mereka dewasa nanti mereka sudah bisa membersihkan sendiri sisa makanan itu dan tidak lagi bergantung pada kita untuk melakukan banyak hal karena mereka sudah bisa melakukannya sendiri. Mensyukuri kehadiran mereka mampu tumbuhkan kasih sayang yang lebih dalam untuk mereka.

Bahagia itu tak harus berada di kondisi yang selalu sempurna. Bahagia itu ada di hati tak peduli begitu banyak keterbatasan yang kita miliki. Bahagia bukan untuk dicari tapi diciptakan. Selamat berbahagia 

Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published.