10 Hal yang Tak Diketahui Penulis Tentang Hutan

Oke, judul ini memang provokatif, seprovokatif judul aslinya. Artikel ini memang terjemahan bebas dari artikel berjudul sama dalam bahasa Inggris yang tayang di situs dankoboldt[dot]com. Kupikir baik juga kalau kuposting di sini.

Nah inilah dia 10 hal yang tak diketahui itu menurut situs tersebut:

  1. Hutan itu bukan sekadar pohon. Yep. Jadi, kalau kamu mau ngambil hutan sebagai lokasi cerita, kamu harus survei dulu. Kamu jangan cuma fokus ke pohon-pohon dan ragam jenisnya. Sebab, sesungguh hutan itu punya empat bagian. Pertama, bagian kanopi, merupakan area hutan yang ditumbuhi pepohonan sangat tinggi.Kedua, yaitu bagian bawah kanopi. aku nggak tahu ini bahasa indonesianya apa, pokoke versi inggrisnya disebut second canopy. Merupakan area hutan yang pohonnya tidak terlalu tinggi. Ketiga, ada bagian hutan yang versi inggrisnya disebut understory. Artinya dalam bahasa Indonesia apa neh. Bagian bawah cerita ya ^_^. Area ini umumnya ditumbuhi semak. Dan terakhir, bagian hutan yang disebut ground cover, nah area ini biasanya ditumbuhi bunga-bunga liar.
  2. Hampir nggak mungkin berlari di hutan. Nah, ini dia. Jadi jangan sampai kamu menulis kalau sepasang kekasih dalam ceritamu lari-larian di hutan ala film India. Kecuali kalau salah satu tokohnya adalah Edward Cullen yang spesialisasinya memang berlari di hutan seperti dalam novel Twilight, sebaiknya bagian berlari ini kamu skip aja. Ada banyak sesemakan, kayu-kayu rebah, pohon-pohon besar di dalam hutan. Jelas bukan tempat yang cocok buat lari-larian. Beda kalau kamu mengisahkan tokohmu dikejar musuh trus berlari masuk hutan. Sila aja tulis, tapi jangan lupa bahwa hutan itu medan yang berat. Sulit untuk berlari. Jadi, jika kamu menulis si tokoh ini berlari di dalam hutan untuk menyelamatkan diri, mungkin bisa diganti menjadi, dia mencari tempat sembunyi di balik pohon, di ceruk pohon dan yang sejenisnya.
  3. Sulit untuk bergerak cepat. Yah, kukira ini setali tiga uang lah ya dengan poin nomor dua.Sebagai informasi, hewan-hewan di hutan itu sangat pendiam, ini penting untuk bertahan. Nah, para pemburu biasanya kalau masuk hutan itu melangkah sangat pelan, nyaris tidak bercakap dan mencari tempat yang baik untuk menanti hewan buruan. Berlari atau berkuda di dalam hutan (bukan di jalan di tengah hutan ya) sangat sulit, kalau pun dilakukan kadang menimbulkan cedera karena tersandung.
  4. Penglihatan tidak terlalu baik. Biasanya faktor ini dipengaruhi cuaca. Bila hujan atau cuaca lagi lembab, biasanya hutan berkabut. Selain itu, biasanya dalam area pohon-pohon tinggi, melihat langit pun susah karena dahan-dahan pohon merentang lebar membentuk kanopi
  5. Sangat mudah tersesat. Sangat mudah untuk sasar di hutan karena sulit untuk berjalan lurus oleh banyaknya semak dan pepohonan. Kalau kita berada di daerah berpohon tinggi, agak sulit menghitung hari karena sulit melihat langit. Satu lagi, di kedalaman hutan segalanya terlihat sama.
  6. Cara terbaik untuk bersembunyi. Manusia, hewan predator dan beberapa jenis burung punya penglihatan yang baik sehingga mereka bisa melihat pergerakan makhluk-makhluk lain di hutan. Cara terbaik untuk bersembunyi adalah dengan memakai pakaian dengan warna yang sama dengan sekeliling. Warna merah, biru, oranye tidak umum di hutan, jadi jika tokohmu mengenakan pakaian berwarna ini ia akan mudah kelihatan. Untuk bersembunyi, kita bisa belajar dari para pemburu. Biasanya mereka bersembunyi di bawah pohon yang lebar, warna pakaian pun tidak mencolok
  7. Tentang mencari jejak. Permukaan tanah hutan biasanya keras dan penuh dedaunan, jadi, sulit sebenarnya untuk menemukan jejak orang-orang yang lewat sebelumnya. Tapi, ada beberapa cara untuk meninggalkan jejak, seperti: ceceran darah. Darah berbekas di ‘lantai’ hutan, bisa menjadi penanda yang baik, atau meninggalkan jejak di pepohonan. Untuk diketahui, makhluk hidup entah manusia atau hewan punya kecenderungan sama. Mereka lebih suka jalan menurun. Jika merasa terancam, mereka akan lari dalam satu arah dan menghindari area terbuka sejauh dimungkinkan.
  8. Suara Asing.  Ada banyak suara hewan di hutan, kepak burung, pelatuk, suara auman, daun-daun, dahan jatuh, arus air, dan lainnya. Kadang, ada juga suara yang mirip bayi menangis. Kalau diolah bisa menjadi cerita horor ini
  9. Pepohonan itu cantik jika kamu mengamatinya. Serius, cobalah asah sense of nature kamu dengan mengamati kisi-kisi pepohonan. Ada keindahan di situ.
  10. Selalu ada pengecualian. Ya, pada akhirnya, selalu ada pengecualian untuk banyak kasus. Kamu bisa menulis tokohmu berlari di hutan, mampu melihat jejak kaki tiga hari sebelumnya di dedaunan kering dst, selama kamu bisa menyusun logika yang masuk akal.

Nah, selamat mencoba. 🙂

Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published.