Seuntai Kata untuk Pedagang Cimol

Oleh Hesty Gege

Dalam keheningan kutatap wajah tenangmu. Terlelap dan nyenyak, seakan sudah tiga hari lamanya kau tak tidur. Memang tiga hari kemarin kau selalu tidur larut. Menguleni adonan demi adonan, berbelanja bahan cimol beberapa kali karena kadang ada bahan yang lupa  kau beli. Masih sempat mengantarku mencari bahan craft ke kota.

Saat kau hanyut dalam lelap, gurat wajahmu pun tak mampu sembunyikan, ada banyak kata menari-nari di pikiran, ada gambaran kelelahan dan beratnya perjuangan. Tapi tak pernah kau keluhkan. Bagimu yang terpenting kebutuhan kami tercukupi. Dan kau seringkali menomorsekiankan kebutuhanmu sendiri. Hingga sandal sudah lepas pelatnya pun masih kau pertahankan. Baju yang terkadang tampak itu-itu saja, cuci kering pakai pun tak jua membuatmu bergeming untuk membeli yang baru.

Di pundakmu masa depan keluarga teremban. Kita kan menatanya bersama namun kau merasa tanggungjawabmu lebih besar karena kaulah kepala keluarga. Sering kau meminta maaf untuk taraf hidup yang belum mapan, untuk semua yang belum bisa kau berikan. Bagaimana harus kumaafkan karena tak ada kesalahan yang harus dimaafkan. Justru aku harus berterimakasih untuk semua perjuangan, pengorbanan, kesabaran dan kasih sayangmu untuk keluarga. Darimu aku belajar tentang ketulusan, bagaimana tetap bersyukur meski dalam keterbatasan dan bagaimana tetap bertahan, terus melangkah ke depan meski teriring berjuta kendala. Pria yang setiap kali membiarkan hujan mengalir deras dari pelupuk matanya di kala mendengar tangis bayinya pecah pada hari kelahirannya ini tak pernah sedikipun mengabaikan kami.

Wahai pedagang cimol, aku tahu betapa kau sering diremehkan. Dianggap tak mampu menghidupi kami dengan tetes keringatmu. Bahkan kadang kau pun dibandingkan dengan mereka yang memiliki profesi mentereng, dengan mereka yang bisa menghiasi setiap centimeter jari, tangan dan leher istrinya dengan emas berlian, dengan mereka yang sanggup membangunkan rumah mewah dan mengajak keluarganya travelling ke luar negeri.. Ah aku sama sekali tak peduli. Bagiku memiliki seorang imam yang senantiasa menjaga sholat di Masjid, yang selalu menyayangi kami dengan tulus dan mengusahakan nafkah yang halal untuk kami, itu sudah lebih dari cukup.

Tetap berjuang pedagang cimol kesayangan kami. Allah yang akan menghitung setiap langkah kaki yang kau lantunkan untuk memperjuangkan kami. Doa-doa yang kau panjatkan sepanjang hari akan selalu didengarNya dan Allah kan memberi yang terbaik.
Engkau tetap menjadi pahlawan bagi kami, tetap menjadi role model yang baik untuk anak-anak kita.

Share Button

One Reply to “Seuntai Kata untuk Pedagang Cimol”

  1. tanti

    Haru biru bacanya..
    Terbayang wajah pahlawan keluargaku juga.
    Semoga Allah selalu melindunginya dan memudahkan langkahnya. Aamiin

Leave a Reply

Your email address will not be published.