Bagaimana Cara Menulis Setting Berdasarkan Imajinasi?

 Bagaimana cara nulis setting cerita berdasarkan imajinasi kita. 
 Misalnya kita mau bikin setting tempat karangan bukan setting asli). 
 Bagusnya mulai darimana bikinnya Kak. Atau gimana bikin deskripsi yang bagus  buat tempat khayalan kita tadi. Apa aja yang perlu diperhatikan, Kak?
(pertanyaan Ade)
Kk menjawab berdasarkan pengalaman kk saja ya:
1. Terlebih dahulu kk membayangkannya dalam pikiran kk. Biasanya kk mengingat tempat-tempat yang mengesankan, yang pernah kk kunjungi atau yang dilihat di internet. Semua tempat itu lalu dielaborasikan, digabung sehingga menjadi satu tempat imajiner yang ‘kongkrit’. Misal: kk ingin membuat setting sebuah lembah gurun yang menjadi arena peperangan, maka kk mungkin akan membuat tempat yang merupakan gabungan antara: Grand Canyon, bukit-bukit karang China, gurun pasir Sahara, kaktus-kaktus raksasa di gurun pasir, kadal, ular derik dan oase di gurun Arab.
Mulai dari mana? tergantung. Bisa dari pikiran tokoh atau langsung menggambarkan tempat. Yang penting hindari mendeskripsikan seperti cara agen rumah mendeskripsikan rumahnya. Gali kenangan-kenangan yang ada di tempat itu supaya emosinya masuk. Misal begini. Taruhlah kk ingin menggambarkan lokasi peperangan kk tadi, maka mungkin kk akan menggambarkannya dengan cara begini:
____________________
Debu mengepul ketika kaki kuda Arad berderap di atas lautan pasir. Matahari tepat di puncak kepala. Pelipis Arad sudah dipenuhi peluh. Ditariknya tali kekang kuda. Seekor ular derik merayap ke balik bebatuan.
‘Ini tempatnya,’ pikir Arad. Siluet kaktus-kaktus raksasa tergambar di kejauhan, di balik bayang-bayang bebatuan besar dan gundukan pasir. Di sekelilingnya, pegunungan karang Bark bersusun melingkar seperti cincin. Puncaknya yang tertinggi, Arouk Bark sendirian menantang langit di ujung barat sana. Pernah dulu ada seorang lelaki dari Suku Kom yang berhasil menancapkan bendera sukunya di situ, tapi kemudian ia mati disengat kalajengking.
“Berhati-hatilah pada kalajengking Bark,” demikian dulu Shoto memperingatkan, “mereka seperti fitnah, merayap diam-diam, lalu membunuh siapa pun yang tercapit.”
“Hitam?” ia bertanya.
“Ada juga yang coklat pasir, seperti warna karang-karang Bark. Yang coklat lebih berbahaya.”
Kuda Arad berhenti, namun tak benar-benar diam. Ia gelisah, sama seperti Arad. Siapa yang tahu apa saja rahasia yang disembunyikan karang-karang Bark? Boleh jadi seribuan mata panah dari Suku Gallup saat ini mengintai dirinya dari jajaran pagar-pagar karang yang kuat dan menipu. Seolah tak ada apa-apa di situ, namun sesungguhnya,  bayang-bayang karang siaga melindungi racun-racun prajurit Gallup.
“Jangan mati, jangan tertangkap,” bisik Yuma padanya, “kalau kau mati, aku mati.”
“Kalau aku mati, kau akan menuntut balas,” balas Arad ke telinga kekasihnya tiga hari lalu. Tapi, Arad tak benar-benar yakin dengan itu. Bila ia mati, biarkan Yuma melanjutkan hidupnya, menikah dengan lelaki mana pun yang ia mau, asal bukan dengan lelaki dari Suku Gallup. Mereka sarang semua keburukan dunia. Kanibal, penipu, perampok.
Angin gurun yang panas dan kering bersiul melewati telinganya. Sejumput rumput kering bergulung di tempat seekor salamander berdiam. Kuda Arad meringkik. Gelisah. Dataran ini seluas Danau Peas yang mungil. Diameternya tak sampai dua kilometer. Mungkin dulu di sini ada danau dengan bukit-bukit karang yang memagarinya. Lalu sesuatu terjadi dan semua air itu terhisap masuk bumi. Dosa apa yang dibuat orang-orang yang dulu tinggal di sini?
Kudanya berjalan dua langkah. Nun di depan mereka, sejarak satu kilometer jauhnya membayang celah di antara dua perbukitan, seolah-olah dua perbukitan itu sebenarnya diciptakan saling bersambung, namun karena kurang bahan, akhirnya tidak berhasil disatukan.
‘Dua jalan masuk dan ke luar’. Arad mencatat itu baik-baik di kepalanya.
_________
2. Bagaimana membuat deskripsi yang bagus?

Yaitu dengan memasukkan emosi di dalamnya. Cara menghadirkan emosi adalah dengan menggali kenangan-kenangan dan pikiran orang-orang tentang tempat itu
3. Apa saja yang perlu diperhatikan?
Pertama-tama, yang umum saja dulu:bentuk. Cari analogi yang mudah dibayangkan pembaca. Misal: Rumahku seperti rumah orang-orang Indonesia pada tahun 1950-an. Atapnya limas, bertumpuk dua, dan memiliki paviliun kecil di samping. Terasnya berpagar tembok, dipenuhi pot-pot tanaman dari beragam sanseviera. Dindingnya berwarna vanila, tiang-tiangnya coklat bata, sewarna dengan atap. 
Kedua, hidupkan deksripsinya dengan suara dan aroma. Misal, di terasnya yang beraroma getah senseviera aku kerap membayangkan bagaimana ibu sewaktu seusiaku. Apakah ia juga suka duduk di sini, mendengarkan siulan angin tengah hari sambil menikmati sejuk udara yang dihela setiap daun mahoni di ujung halaman?

Ketiga, setelahnya masukkan rasa dan kenangan.
Usahakan menulis deskripsi yang melibatkan minimal tiga indra kita, mata, telinga dan penciuman
Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published.