Ketika Orang Dewasa Mencemari Pikiran Polos Anak-anak

Apakah kegiatan merangkai manik-manik atau menempel-nempel stiker adalah kegiatan anak perempuan sehingga anak lelaki jarang yang tertarik melakukannya? Pertanyaan ini menggelayuti saya selama beberapa tahun terakhir, tepatnya sejak saya mulai menangani kelas menulis kreatif di Padang, Sumatra Barat. Saya suka membagi-bagi stiker dan gambar-gambar untuk digunting anak-anak sebagai salah satu metode belajar saya. Dan selalu, saya mendapati anak-anak lelaki kesulitan membuka stikernya, sementara masalah serupa jarang saya temukan pada anak perempuan. Bahkan, bisa dibilang 95% siswa perempuan saya tidak pernah mengalami kesulitan membuka stiker, sementara lebih 75% siswa laki-laki mengalaminya. Mengapa? Apakah karena anak perempuan terbiasa main boneka-bonekaan sedari kecil, sementara anak lelaki cenderung lebih suka bermain bola? Memang, perkembangan anak lelaki paling awal ada pada motorik kasarnya yang membuat mereka lebih suka kegiatan mengayun, melompat, menendang, berlari, memanjat dan yang sejenisnya. Tetapi, itu bukan alasan untuk mengabaikan perkembangan motorik halusnya. Perkembangan kedua motorik ini sangat penting, dan karenanya harus diberi perhatian yang sama. Mari lihat bagaimana pemerintah Jepang mewajibkan pelajaran yubi ami (tenun Jepang) untuk anak-anak sekolah di semua tingkatan pendidikan (SD-SMA) tak peduli jenis kelaminnya. Pelajaran menenun penting untuk melatih motorik halus. Dan bagi pemerintah Jepang yang salah satu kekuatan ekonominya ada pada teknologi, menjadi penting bagi mereka memiliki sumber daya manusia yang mampu merangkai komponen-komponen halus di produk teknologinya. Arah pendidikan mereka sejalan dengan arah pembangunan ekonomi. Ini menarik untuk dibahas, mungkin saya akan menulis tentang ini di lain kesempatan.

Saya kerap menemukan komentar berikut dari orangtua setiap kali saya mengajak bocah-bocah lelaki bermain stiker, menggunting kain, menganyam dan menjalin tali temali, “ah, ini kan kegiatannya anak cewek, Bunda Maya.” Anak cewek? Saya baru sadar kalau kegiatan melatih motorik pun ada jenis kelaminnya. Padahal, seorang anak, entah lelaki atau perempuan, tidak pernah memikirkan apakah permainan ini itu khusus untuk jenis kelamin tertentu. Masyarakatlah dan dalam hal ini, orangtua, yang membentuk pola pikir seperti itu, sehingga, ketika anak lelaki sudah berusia di atas delapan tahun, pikiran seperti ini mulai menetap, dan menyebabkan mereka anti terhadap kegiatan-kegiatan yang ‘berbau’ perempuan ini. Saya pernah menemukan kasus, ketika saya mengajak beberapa anak lelaki membentuk sesuatu dari kain flanel, seorang anak menolak dan bilang, “ini kegiatan anak perempuan. Aku nggak mau.” Astaganaga, bagaimana kalau sekiranya dia pindah ke Jepang? Di sekolah, mau tak mau, dia harus membuat tenun yubi ami yang menjadi kegiatan wajib setiap siswa di situ. Bisa menderita lahir batin itu anak. Apalagi yubi ami sejenis kerajinan tangan yang rumit dan membutuhkan konsentrasi tinggi.

Pentingnya melatih motorik halus anak-anak saya sadari ketika bertemu seorang lelaki dewasa seusia saya (kita panggil saja Mr. X) yang berminat pada dunia perbengkelan, tapi cenderung gagap ketika memasang komponen-komponen kendaraan yang kecil. Ini saya mengalami sendiri. Dua kali dia memperbaiki motor saya, dua kali pula dia teledor. Selalu dia bermasalah menangani komponen-komponen kecil. Dan ini bukan hanya motor. Di kehidupan keseharian pun, dia mengakui sendiri kalau sering gagap bila sudah berurusan dengan benda-benda kecil. Apa yang dia inginkan, seperti tak dipatuhi oleh jari-jarinya.

Saya pikir tak perlu jauh-jauh mungkin kita mencari contoh. Mari perhatikan ayah, suami, abang atau teman-teman cowok kita. Coba lihat berapa banyak dari mereka yang telaten dan sabar ketika berurusan dengan kegiatan yang membutuhkan keterampilan jemari tangan dalam waktu lama. Hitung persentasenya dengan perempuan. Rata-rata perempuan yang saya tahu, jarang punya masalah dengan motorik halusnya. Mungkin karena sedari kecil mereka sudah terbiasa menjalin rambut boneka, menjahit, membantu ibu di dapur, dan yang semacamnya, hingga ketika dewasa, mudah saja bagi mereka mempelajari keterampilan yang melibatkan jari jemari. Tapi, coba lihat kaum cowok, sebagiannya tidak merasa itu mudah. Jika pun mereka mampu melakukannya, hal itu biasanya membutuhkan waktu yang lebih lama dari perempuan. Dalam dunia kerja, hal ini tentu tidak menguntungkan.

Sampai hari ini, saya tetap saja yakin, sebuah kegiatan pendidikan usia dini tidak ada jenis kelaminnya. Anak-anak tak pernah berpikir begitu, orang dewasalah yang mencemari pikiran polos mereka. Jadi, mari ajak anak-anak kita, entah lelaki atau perempuan, belajar menjahit (bukankah Rasulullah bisa menjahit pakaian dan sepatunya sendiri?), meronce manik, menjalin tali temali, dan menempel-nempel stiker lucu. Ada saatnya nanti, mereka membutuhkan semua keterampilan ini. Jika saat itu tiba, dan ternyata mereka tidak mampu atau tidak bisa maksimal, akan sulit menjemput keterampilan itu lagi. Karena masa emas membangun motorik halus sudah terlewat jauh sekian tahun sebelumnya.

**

Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published.