Qona’ah: Tingkat Kebahagiaan Tertinggi

Oleh Hesty Gege
Beberapa waktu yang lalu saya sempat membaca tulisan tentang nafkah suami, yang harus dibedakan antara nafkah untuk belanja kebutuhan, tetek bengek urusan rumah dan segala biaya, sampai nafkah untuk keperluan istri pribadi. Beramai-ramai istri menshare tulisan ini, ada pula yang mencolek nama suaminya agar mau membacanya. Ya mungkin memang benar realita di lapangan itu masih banyak istri yang belum mendapat nafkah pribadi yang cukup.
“Boro-boro nafkah untuk keperluan pribadi lha untuk biaya sehari-hari saja ngepas banget,” kata-kata yang kadang sering terdengar kala istri-istri berbagi cerita tentang nafkah. Bahkan banyak juga keluarga yang hidupnya harus gali tutup lobang, hutang di mana-mana, jadi nggak sempat mikirin keperluan pribadi, bisa nglunasin hutang saja sudah bernapas lega. Percayalah gambaran istri-istri yang tiap bulan selalu dijatah dana perawatan di salon, bisa jalan-jalan liburan dan shopping segala keperluan pribadi untuk menambah lagi koleksi tas dan sepatu branded yang sudah memenuhi lemari atau menata kosmetik mentereng di meja riasnya, yang lipstiknya saja seharga 500k bahkan jutaan, itu hanya secuil, bukan gambaran mayoritas istri-istri di Indonesia, negara yang masih harus berperang dengan kemiskinan dan pengangguran. Jadi tak usah baper melihat rumput nan selalu hijau di halaman tetangga, kita tak pernah tahu berapa banyak ulat yang tersembunyi di balik hehijauan itu. Jangan pula kebanyakan menonton sinetron yang menggambarkan kehidupan istri yang glamour dengan perhiasan memenuhi tangan dan leher, baju-baju yang kece badai, wajah yang selalu full make up, mau apa-apa tinggal nyuruh asistennya, percayalah semua perhiasan itu hanya properti dan apa yang ditampilkan bukan menggambarkan mayoritas masyarakat Indonesia. Karena terlalu banyak terpapar kehidupan yang hedonis inilah yang pada akhirnya membuat para istri jauh dari sikap qona’ah. Selalu menggerutu dengan pemberian suami, merasa tak ada cukupnya, merasa haknya tidak dipenuhi, membanding-bandingkan suami dengan suami-suami orang yang begini begitu.

Saya rasa semua suami yang baik tahu dengan benar tentang tanggungjawabnya pada keluarga. Kalau memang ada dana lebih pasti tak akan pelit memberi lebih untuk keperluan pribadi istri. Persoalannya, bagaimana seharusnya sikap istri menyikapi penghasilan suami yang hanya cukup untuk kebutuhan pokok atau tak bisa memberi banyak untuk keperluan pribadi istri? Bagaimana jika seorang istri harus berjuang bersama-sama suami demi menyambung hidup, menata masa depan untuk taraf hidup yang lebih baik? Saya ingin berbagi sedikit tentang cara belajar agar kita bisa qona’ah. Namun bukan berarti saya sudah berhasil atau lebih baik, saya pun masih belajar. Berbagi tips hanyalah wadah untuk sharing tanpa maksud menggurui dan sok tahu.

Pertama, mari kita resapi apa itu qona’ah? Qona’ah itu sikap menerima apapun hasil dari apa yang diusahakan, merasa cukup dan berprinsip apa yang diperolehnya adalah kehendak Allah. Di sini ada dua kekuatan pokok, tentang berusaha lalu menerima apa yang sudah ditentukan Allah atas hasil usahanya. Qona’ah merupakan bagian dari sikap tawakal. Bagi saya belajar untuk bersikap qona’ah adalah jembatan untuk menghindarkan diri dari sikap kufur terhadap kebaikan-kebaikan suami. Satu kelemahan wanita, terkadang satu hal yang kurang baik ada pada suami bisa membuatnya lupa akan kebaikan-kebaikan yang sudah dilakukan suami, padahal kebaikan-kebaikan yang ada pada suaminya jauh lebih banyak dibanding keburukannya.

Berikut adalah cara saya untuk belajar menjadi istri yang qona’ah :
1. Membuat skala prioritas kebutuhan.
Mengatur skala prioritas kebutuhan itu penting sekali untuk menjaga stabilitas perekonomian keluarga, lebih-lebih untuk keluarga yang kondisi perekonomiannya belum stabil, seperti keluarga kami. Pekerjaan suami sebagai pedagang keliling merangkap pedagang online menuntut saya untuk belajar lebih bagaimana mengatur keuangan karena penghasilan suami tak menentu, tak ada gaji tetap tiap bulannya. Dengan kondisi seperti ini, jangan sampai besar pasak daripada tiang. Memilih untuk tinggal di kontrakan jauh dari kampung halaman dengan pekerjaan yang dianggap kurang menjanjikan, dengan segala cibiran bahwa pendapatan suami tak akan mampu mencukupi, memotivasi saya untuk belajar qona’ah. Merasa cukup dengan pendapatan yang ada, merasa cukup dengan skala prioritas kebutuhan yang dibuat. Yang mungkin beberapa kebutuhan seperti travelling, baju baru, rekreasi ke objek wisata, kosmetik adalah kebutuhan pokok bagi orang lain, bagi saya kebutuhan tersebut menjadi kebutuhan sekunder, bahkan travelling maupun kosmetik bisa saja keluar dari list kebutuhan karena kadang saya berpikir, daripada mengeluarkan uang untuk kosmetik yang hanya bermanfaat untuk sesuatu yg fana, tak bisa dibawa mati, karena ketika raga sudah menyatu dengan tanah, cantik itu tak ada arti lagi, maka lebih baik digunakan untuk hal-hal yang lebih pokok. Jika kondisi memungkinkan untuk membeli barang-barang tersebut, belilah secara wajar, tidak berlebihan dan hanya diniatkan untuk berhias di depan suami, tetap hindari tabarujj (berhias)┬ádi depan non mahram.

2. Merasa cukup dengan apa yang ada.
Cara lain untuk belajar qona’ah adalah merasa cukup dengan apa yang dimiliki. Saya merasa cukup dengan perabotan minimalis yang ada di kontrakan mungil kami. Saya merasa cukup dengan sandal dan tas satu-satunya, dengan pakaian dan jilbab yang secukupnya, dengan penghasilan suami yang jumlahnya tak menentu tergantung ramai/tidaknya penjualan, saya merasa cukup dengan tak ada satu pun perhiasan yang menempel di badan saya. Saya merasa cukup dengan perawatan sederhana yang saya lakukan di rumah dengan bahan-bahan alami nan terjangkau. Tidak berangan-angan atau merengek minta perawatan di salon yang biayanya saja cukup untuk bayar kontrakan atau biaya hidup sebulan. Mungkin ada yang berpikir, kasihan amat ya hidupnya, emang nggak pingin hidup berkecukupan seperti yang lain. Ya kasihan jika saya tipikal yang materi oriented, kasihan jika saya tipe orang yang mengukur kebahagiaan dari materi. Alhamdulillah saya belajar dari pengalaman hidup, bahwa kebahagiaan adalah sesuatu yang bisa kita ciptakan, apapun keadaannya. Mau berlimpah materi atau tidak, kebahagiaan ada di hatimu. Kamu yang berhak menciptakan kebahagiaanmu sendiri dan berdamai dengan kondisi yang kau jalani.

3. Tidak membandingkan kehidupan sendiri dengan orang lain.
Hidup itu memang sawang-sinawang. Terkadang sayur lodeh buatan tetangga tampak lebih menggoda. Aromanya mengalahkan sayur lodeh di meja sendiri. Padahal kita belum merasakannya, hanya membayangkannya saja dan menerka-nerka dari aroma yang tercium. Bisa saja kau membayangkan ada di posisinya. Dia terlihat memukau dengan barang yang serba branded, sampai sepatu yang dipakai untuk menginjak tanah berbonus kotoran ayam pun harganya melebihi biaya hidup tiga bulan. Atau kau ingin makan di restaurant besar, menginap di hotel mewah, perawatan dan spa di salon ternama, menaiki luxury car, tinggal di rumah bertingkat yang halamannya bisa dipakai bermain bola warga sekampung. Tapi kau tak pernah tahu berapa harga yang dia bayar untuk semua itu. Bisa saja ia harus menebusnya dengan bekerja berangkat pagi pulang malam, suami yang mampu memberi segala materi tapi tidak mampu menjaga hatinya untuknya seorang, anak-anak yang kurang dekat dengannya karena merasa kurang diperhatikan, atau jauhnya dia dari ilmu agama karena dunia menjadi prioritasnya. Berbahagialah dan bersyukurlah untuk kehidupanmu saat ini. Bersyukurlah meski kau tak memiliki dunia, tapi kau memiliki anak-anak yang lucu, suami yang baik dan setia, keluarga dan sahabat yang selalu support dan mendoakan, merekalah hartamu yang sebenarnya.

4. Banyak-banyak mengingat kebaikan suami.
Dengan mengingat kebaikan suami kita pun akan dipermudah untuk belajar qona’ah. Tak perlu mencari cela suami apalagi yang berkaitan dengan penghasilan. Allah sudah menakar rizqi yang pas untuk hambaNya. Lain halnya jika suamimu seorang yang pemalas dan tidak mau berusaha, kau boleh mengingatkannya akan kelalaiannya menafkahi keluarga. Tapi jika dia sudah giat bekerja, berusaha semaksimal yang dia bisa, tetaplah mendukungnya dan mendoakannya. Suami lebih membutuhkan support dan sikap manis istri dibanding harus dicerewetin panjang lebar tentang segala tanggung jawabnya. Suami yang baik pasti akan melakukan tanggung jawabnya dengan baik tanpa harus disuruh dan dicecar. Satu hal yang saya pegang, mungkin saat ini suami belum mampu membawa kami ke kehidupan yang mapan, mungkin saat ini dia sedang tertatih berjuang. Tapi saya selalu melihat sisi kebaikannya. Di luar sana banyak istri mengharapkan sosok suami yang bisa mengayomi, menjadi sahabat terbaik tuk saling berbagi, menjadi imam yang pantas dan memperhatikan bagaimana mengaplikasikan kehidupan yang bernapaskan religi dalam keluarganya, seorang partner terbaik dalam mendidik anak, yang juga mau membantu pekerjaan domestik rumah tangga dan mengasuh anak bersama-sama.. Dan, alhamdulillah saya mendapatkan semua itu darinya. Jadi tak ada alasan untuk risau karena keterbatasan materi sementara saya tahu ada banyak hal di luar materi yang jauh lebih membahagiakan dan harus disyukuri.

Demikian tips sederhana dari saya. Cocok dan sesuai untuk kehidupan saya, belum tentu cocok diterapkan oleh orang lain. Setidaknya saya hanya berbagi cerita dari kesederhanaan keluarga kami. Semoga ada manfaat yang bisa diambil:)

Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published.