Saya Sekolah, tapi Saya Memilih Mendidik Anak-anak Sendiri di Rumah

Bisa dikatakan, nyaris seluruh hidup saya berhubungan dengan sekolah. 12 tahun pertama dalam hidup saya diisi berbagai prestasi akademik di sekolah. Saat kuliah nilai-nilai nyaris selalu A, membuat saya tamat dengan IPK nyaris sempurna. Saya juga pernah mengajar di sebuah taman kanak-kanak dan hingga sekarang terus melakukan hal-hal yang berhubungan dengan sekolah. Tetapi, saya memilih mengajar anak-anak saya secara mandiri. Selama tiga tahun, saya memang pernah mengantar anak saya ke sekolah (diselingi satu semester off karena keengganan anak), sampai akhirnya saya memutuskan berhenti.
Saya tidak membenci sekolah, sebaliknya, saya sangat menyukainya. Saya selalu mendorong upaya-upaya perbaikan sistem persekolahan, dan lewat komunitas saya, Kelas Kreatif Indonesia, saya membantu mewujudkan atmosfer literasi di sekolah. Tapi, saya punya beberapa alasan mengapa memutuskan
mendidik anak-anak sendiri.
1. Saya ingin anak-anak saya menjadi manusia pembelajar sepanjang hayat.
Di sekolah saya disuapi mengenai apa-apa yang harus saya pelajari, dan bukan diajarkan bagaimana cara mempelajari sesuatu. Keberhasilan saya tergantung dari seberapa baik saya menjawab soal tentang jenis-jenis hewan atau siapa nama presiden negara-negara yang tergabung dalam Blok Barat. Padahal, apa yang dipelajari, seharusnya sekadar alat untuk menyampaikan substansi pelajaran itu sendiri. Jawaban bukan poinnya. Saya toh bisa saja mengetahui semua itu dari bacaan, bahkan, sebenarnya, seluruh materi pelajaran bisa saya ketahui hanya dengan membaca buku. Yang jadi poin penting belajar seharusnya, bagaimana membuat anak-anak mengerti cara menemukan sesuatu. Belajar itu soal how, bukan apa. Belajar adalah soal metode. Dan, pemahaman akan metode inilah kunci keberhasilan anak ketika ia dewasa nanti, bukan hapalannya tentang nama-nama menteri. Apalagi di masa sekarang, kalau belajar sebatas transfer informasi, semua guru akan kalah dari Google.
2. Saya ingin anak saya melakukan sesuatu karena passion, bukan keterpaksaan
Tahun-tahun belakangan ini, perguruan-perguruan tinggi terbaik di dunia macam Harvard, sangat suka menerima anak-anak yang belajar mandiri di rumah, sebabnya satu, mereka adalah orang-orang yang memiliki passion tinggi dalam belajar. Ini membuat mereka selalu berusaha menemukan dan menemukan sesuatu. Orang yang punya hasrat tinggi akan sesuatu, selalu bereksplorasi. Mereka menjadi inovatif, kreatif, kritis. Belakangan, beberapa universitas terbaik Indonesia seperti UI dan UGM juga punya pemikiran serupa, dan mereka membuka kran selebarnya untuk anak-anak homeschooling. Memiliki passion itu penting, dan sekolah, sayangnya banyak yang tidak memperhatikan hal ini. Karena fokus mereka kebanyakan soal nilai, mereka jadi terluput menumbuhkan passion siswa. Akibatnya, banyak anak-anak yang tamat sekolah gak tahu mau ngapain. Mau masuk kuliah, bingung pilih jurusan, akhirnya setelah ambil, baru sadar kalau nggak punya minat di situ. Ini kan kecelakaan besar dalam pendidikan.
3. Saya ingin menyiapkan anak saya menghadapi dunia nyata
Sekolah, saya rasakan seperti sebuah dunia yang terpisah dari kehidupan sekitar. Apa yang dipelajari seringnya tidak terkait kondisi real masyarakat tempat si anak hidup. Anak-anak saya, misalnya. Mereka hidup di sebuah kota yang berada di tubir Samudra Hindia, di atas wilayah cincin api, di tengah masyarakat multi kultur, di wilayah urban yang kehidupannya bergerak secepat angin berhembus, tetapi, pelajaran sekolah tidak menyiapkan anak-anak saya menghadapi dunia tempat mereka hidup. Akan mengenaskan sekali, misalnya, begitu seorang anak tamat sekolah, dia tidak tahu bagaimana cara berhubungan dengan kota atau desanya sendiri. Dia tidak merasa terhubung dengan itu semua, karena bertahun-tahun ia belajar tentang sesuatu yang asing bagi kehidupan nyatanya. Banyak saya lihat, setamat SMA, anak-anak gamang dengan kehidupannya sendiri. Kok bisa begitu? Bukankah seharusnya sekolah preparing them for life?, menyiapkan mereka untuk menempuh kehidupan. Dengan mendidik sendiri, saya akan cepat merespon setiap dinamika zaman, dan menyiapkan anak untuk menghadapinya.
 Saya bukan orang hebat atau ibu super jenius sehingga berani mendidik anak sendiri, saya hanya seorang ibu yang berusaha merespon zaman, dan berusaha mempersiapkan anak-anak saya untuk menghadapinya. Tak perlu menjadi jenius dan si segala tahu untuk mengajar anak sendiri di rumah. Banyak pertanyaan anak-anak yang saya tidak tahu jawabannya. Merasa tidak tahu itu baik, dengan demikian, anak-anak belajar bahwa tidak tahu itu bukan sebuah kesalahan, tapi keadaan, dan itu bisa berubah dengan banyak belajar. Banyak orang di berbagai pelosok Indonesia, berbekal pendidikan SMA saja, bahkan ada yang SD, berani mengajar anak-anak. Lah, mengapa orang tua yang berpendidikan tinggi malah tidak berani, merasa tidak mampu dan tidak layak mengajar anaknya sendiri? Silakan memasukkan anak ke sekolah, tapi, ajar juga mereka di rumah. Sebab, jika sekolah tidak mengajarkan metode, orang tualah yang harus melakukannya
Share Button

2 Replies to “Saya Sekolah, tapi Saya Memilih Mendidik Anak-anak Sendiri di Rumah”

Leave a Reply

Your email address will not be published.