Khanza

catt. Ini adalah cerpen Ayesha yang menjadi juara pertama Lomba Menulis Cerita Anak tingkat Provinsi Sumatra Barat yang diadakan Badan Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Sumbar tahun 2016.

Penulis: Ayesha Sophie Sayyida

 

Khanza menarik napas panjang. Lalu mengusap peluhnya. Ia kepanasan karena duduk di dekat tungku sedari tadi. 

“Jenaa! Tolong ambilkan kakak garam,” serunya kepada adik semata wayangnya, Jena.
Perkenalkan, ini Khanza dan Jena. Khanza sang kakak dan Jena sang adik. Mereka anak yatim piatu.
“Ini, Kak,” Jena datang bergegas-gegas membawa setoples garam. Khanza membuka stoples, lalu menyendok garam dan menaburkannya di atas ikannya.
Khanza dan Jena, meskipun yatim piatu, mereka menolak tinggal di panti asuhan.
Mereka merasa lebih nyaman hidup sendiri. Mereka tinggal tak jauh dari sungai, karena di situ lebih teduh. Setiap hari, Khanza berlari-berlari menuju sungai dan mengisi pancinya dengan air, lalu merebusnya. Apakah mereka menggunakan kompor? Tentu tidak. Mereka membuat api dari kayu mereka sendiri.

Setiap hari Senin sampai Rabu, Khanza pergi ke pasar untuk berjualan onde-ondenya. Onde-onde buatan Khanza lezat sekali. Percaya atau tidak, setiap kali Khanza baru melangkahkan kakinya ke area pasar, ia langsung diserbu pembeli dan onde-ondenya yang banyak itu langsung habis dalam waktu setengah jam.
Sehari hari, mereka hanya makan ikan bakar, yang dibuat Khanza tentu saja. Ikannya mereka tangkap dari sungai. Jena yang masih berumur empat tahun, kadang ikut membantu menangkap ikannya dengan tangannya sendiri.
Kadang, ketika Khanza berjualan onde-onde lebih banyak, ia dapat membeli sebungkus nasi, lauknya ayam bumbu. Kadang, ia dapat pula membelikan Jena kue.
Suatu kali, ketika Khanza pulang mengambil air, ia mendapati Jena duduk lesu sambil memainkan ikan mainannya yang tinggal dua karena yang lainnya hilang entah ke mana.
“Lho, Jena kenapa?” tanyanya bingung. Jena diam saja. Khanza merangkulnya dan merasakan dahi Jena panas.
Khanza cepat-cepat menarik tangannya dan merebus air. Setelah matang dan cukup hangat, dituangkannya ke dalam gelas-satu-satunya.
Dibawanya ke Jena. “Jena demam ya?” tanyanya. Jena diam saja. Diteguknya air minumnya.

Khanza meraba dahi Jena lagi. Masih panas. Khanza mulai cemas.
Ia berlari ke tempat tidurnya. Ia menyimpan uangnya di situ. Ia menghitungnya. Cukup banyak. Ada 234.700 rupiah.
Diambilnya jaket Jena. Dipasangkannya ke Jena. “Yuk, Jen, kita ke puskesmas.”
Jena memandangnya. Lalu berdiri dan memakai sandalnya. Mereka keluar rumah lalu Khanza menggembok pintu pondok kayu mereka. Mereka mulai berjalan. Tapi, di dekat sungai, Jena duduk karena capek. Khanza berbalik menghadapnya. “Jena capek ya? Ya sudah, sini kakak gendong,” ujarnya.
Jena naik ke punggung Khanza. Setelah meyakinkan Jena baik-baik saja posisinya, Khanza berjalan lagi. Jena cukup berat, tapi tidak bagi Khanza.
**
Mereka sudah sampai di puskesmas terdekat yang jaraknya dua kilometer dari rumah Khanza dan Jena. Khanza beberapa kali berhenti karena capek.
Khanza masuk ke dalam dan seorang ibu memintanya menunggu dulu. Khanza duduk di kursi bersama Jena.
Ketika sampai gilirannya, Bu Bidan menanyakan apa masalahnya. Khanza berkata, “Ini adik saya, tubuhnya panas.”

Bu bidan mengambil termometer dan mengukur suhu tubuh Jena.
“38,4.”

***
Khanza menggandeng tangan Jena. Kata Bu Bidan tadi, nggak apa-apa, nanti di rumah dia banyak minum saja. Kalau dalam tiga hari nggak sembuh, bawa ke rumah sakit.
Kepala Khanza pusing tujuh keliling. Bagaimana nanti Jena nggak sembuh dalam tiga hari? Rumah sakit kan, mahal. Trus,dia bayar pakai apa dong? Onde-onde? Huuuf…
Kata Bu Bidan tadi juga, Jena demam karena kelelahan. Khanza mencoba mengingat-ingat, apa yang Jena lakukan sebelum dia demam.

“Ooh, ya, kamu lari-lari ke kakak ngasih garam, bantuin nangkap ikan, ikut jalan ke pasar… Ooh, pantas saja…” gumam Khanza pada dirinya sendiri. Lalu ia ingat sesuatu.
Digendongnya Jena sampai rumah. Lama-lama, Khanza berpikir lagi. “Kalau gini terus, nanti malah aku yang sakit.”
***
“Periuknya mana ya?” gumam Khanza. Ia hendak memasak air. Setelah mencari-cari lama, periuknya nggak ketemu-ketemu, akhirnya Khanza mengambil gelas satu-satunya mereka yang terbuat dari kaleng dan berukuran cukup besar.
Diambilnya air dari sungai sampai gelasnya penuh, lalu dimasaknya. Ia berusaha tidak melepaskan pegangannya, karena tangannya mulai kepanasan dan berkeringat.
Setelah matang, dibawanya ke Jena. Dikipas-kipasnya air itu dengan buku supaya panasnya cepat berkurang.
Jena meminum air hingga tinggal seperempat gelas. Khanza lalu pergi ke dapur, membuat onde-onde cukup banyak. Begitu selesai ia berkata pada Jena.
“Kakak pergi dulu, Jena minum air yang banyak ya, terus tidur,” kata Khanza pada Jena. Jena mengangguk.

Khanza keluar dan berteriak, “Kunci pintunya, Jen!” Jena sudah tahu caranya, diajarkan Khanza. Terdengar langkah Jena mendekati pintu dan bunyi ‘klik’ pelan.
***
“Eh, itu Khanza. Khanzaaa! Sini!”

Hari itu onde-onde Khanza hanya terjual separuhnya dalam waktu dua jam. Rupanya, orang sudah bosan dengan onde-onde Khanza yang itu-itu saja. Khanza menghitung uangnya, ada 18 ribu.
Khanza lalu pergi ke warung dan membeli sebungkus nasi dengan lauk ayam bumbu, kesukaan Jena. Sekarang uangnya tinggal tiga ribu. Ia pulang dengan tidak membawa uang, karena sisa uangnya dibelikan meses.
***
Esoknya, Khanza membuat onde-onde isi meses, dengan harapan banyak orang akan mau. Jena masih demam, tapi syukurlah ia tetap mau makan. Menjelang siang, Khanza berjualan onde-onde lagi. Ia meninggalkan beberapa onde-onde untuk Jena dengan harapan Jena akan memakannya. Bukankah orang sakit harus banyak makan biar cepat sembuh? Demikian Khanza pikir.
Hari itu jualannya laris manis dalam waktu dua jam, mungkin karena Khanza gigih menawarkan onde-ondenya ke orang-orang. Ia hanya berharap bisa mengumpulkan lebih banyak uang lagi supaya bisa membelikan makanan enak untuk Jena. Keinginan Khanza hanya satu, melihat Jena sembuh. Hanya Jena yang ia miliki semenjak orangtua mereka meninggal dalam sebuah kecelakaan dua tahun lalu. Saat itu Khanza masih berumur 11 tahun. Mereka tidak punya keluarga dekat. Kakek nenek mereka sudah tidak ada lagi. Waktu itu orang-orang ingin membawa mereka ke panti asuhan, tapi Khanza menolak. Kalau mereka di panti asuhan, bagaimana rumah mereka? Biar pun rumah mereka kecil, sederhana dan terbuat dari kayu, tapi itu adalah rumah mereka sendiri. Ayah sendiri dulu yang membeli tanah dan membangun rumah itu dengan jerih payahnya. Khanza tak mungkin meninggalkannya. Ini tempat berlindung mereka satu-satunya. Lagi pula, Khanza bisa menanam sayur di kebun belakang. Mereka pun punya tetangga yang cukup baik Beberapa kali mereka mendapat santunan beras, minyak bahkan selimut. Nek Dijah yang tinggal di depan rumah mereka juga sering memberi makanan, bahkan kadang-kadang membantu membersihkan rumah. Kalau mereka tinggal di panti asuhan, mereka akan kehilangan itu semua.
***
Hari ketiga, ketika Khanza pulang menjual onde-onde, ia mendapati Jena sudah menunggu di depan pintu dengan wajah berseri-seri. Khanza yang sebelumnya sudah cemas adiknya belum sembuh meraba kening, tangan, leher dan kaki Jena. Suhu tubuh Jena sudah tidak panas lagi.
Alhamdullilah, Jena sembuh! Berkat Khanza yang mau kepanasan memasak air, capek ke pasar untuk menjual onde-ondenya, dan rela berlari-lari ke warung untuk membeli nasi bungkus untuk Jena.
Dan tentu saja, Onde-onde Khanza masih laris manis, dengan variasi rasa barunya.

Share Button

2 Replies to “Khanza”

Leave a Reply

Your email address will not be published.