Berwisata ke Perpustakaan? Kenapa Tidak?

Kemana selama ini anda berwisata di Kota Padang? Ke Pantai Air Manis? Ke air terjun Lubuk Minturun? Ke Pulau Pasumpahan? Saya akan mengajukan opsi berikut untuk anda: ke perpustakaan. Perpustakaan? Becanda nih? Tidak. Saya serius. Perpustakaan Daerah Sumatra Barat kini sudah menjelma jadi tempat rekreasi intelektual paling keren di Kota Padang. Gedung barunya yang diresmikan pada akhir 2014 lalu sangat representatif untuk tempat pertemuan atau sekadar nongkrong. Gedungnya bertingkat lima, sejuk berkat aliran udara dingin AC sentral di segenap penjuru ruangan, kamar mandinya ada di nyaris semua lantai, bersih dan wangi. Ruang baca anak-anaknya seperti taman bermain. Lantainya ditutup karpet hijau bak rumput. Asyik buat tiduran. Meja kursinya berwarna-warni. Sebuah pohon buatan berdiri gagak di tengahnya. Kadang jadi tempat anak-anak bermain sembunyi-sembunyi. Wifinya kencang. Ruang duduknya nyaman. Sofa-sofaya empuk. Dan yang lebih penting, koleksi bukunya bikin ngiler. Saya suka menghabiskan hari dengan berleha-leha di perpustakaan ini. Serasa di rumah sendiri.

Selama dua tahun belakangan, perpusda terus berbenah untuk menarik pengunjung. Pertama-tama, setelah memperbanyak koleksi, mereka menciptakan ruang-ruang baca yang menyenangkan. Lalu menggandeng komunitas untuk meramaikan kegiatan-kegiatan perpustakaan. Setelah itu menciptakan kegiatan yang menjadi ikon. Tercatat, pada tahun 2016 ini, Perpusda sudah menyelenggarakan empat event keren yang didatangi ratusan orang. Pertama, Festival Sastra Anak dan Remaja Sumatra Barat pada Mei 2016, dan dibuka oleh Bapak Nofi Candra, anggota DPD RI. Festival ini memiliki empat kegiatan, seminar, workshop menulis, workshop membuat ilustrasi, dan pameran. Seminar yang berlangsung pada pagi hari berhasil mendatangkan lebih 400 peserta dari berbagai kabupaten dan kota di Sumatra Barat. Festival ini sengaja menyasar segmen remaja karena ingin menumbuhkembangkan budaya literasi dini.

Event kedua adalah Kegiatan Kampung Dongeng. Kegiatan ini seru sekali dan melibatkan ratusan siswa taman kanak-kanak. Pendongeng nasional, Kak Awam Prakoso diundang untuk memeriahkan kegiatan.

Event ketiga adalah Parade Literasi Sumatra Barat. Tak Tanggung-tanggung, parade ini mendatangkan Eka Kurniawan sastrawan Indonesia yang berjaya di pentas Internasional, dan Salman Faridi, CEO Bentang Pustaka yang sukses menelurkan tetralogi Laskar Pelangi.

Adapun event keempat adalah seminar literasi remaja yang mendatangkan sastrawan nasional, Kurnia Effendi. Seminar ini berhasil menggaet ratusan pelajar dan mahasiswa.
Itu baru event besar, belum lagi kegiatan-kegiatan lain yang rutin diadakan, semisal, kelas menulis untuk anak, bengkel penulis pemula, diskusi dan dongeng. Kabarnya, untuk tahun 2017, program-programnya lebih dahsyat lagi dan akan melibatkan lebih banyak komunitas.

Jadi? Berkunjunglah ke Perpusda Sumbar di Jl. Diponegoro. Nikmatilah tradisi intelektual yang sejak ratusan tahun sudah mewarnai Ranah Minang dan melahirkan pemikir-pemikir besar Indonesia, Mohammad Hatta, Tan Malaka, H. Agus Salim, Hamka, dan yang lainnya. Jaga tanggal-tanggal kegiatannya. Jadilah pesertanya. Nikmatilah manisnya rekreasi ilmu di salah satu tempat yang menjaga kekayaan intelektual Sumatra Barat ini.

Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published.