Alice Through the Looking Glass: Alice yang Terlalu Selesai

imagesKeindahan imajinasi Lewis Carrol hancur di tangan Tim Burton. Mengapa harus memaksakan logika dewasa dalam cerita anak-anak?

Alice tamat dalam film Alice in Wonderland (2010) dan hilang dalam Alice Through the Looking Glass. Keduanya ditangani Tim Burton, sutradara yang sudah punya ‘sidik jari’ di belantara film. Bedanya, jika di film Alice pertama Burton terlibat sebagai sutradara, di sekuel Alice ia hanya bertindak sebagai produser.
Film-film Tim Burton umumnya memiliki ciri khas yang kuat, imajinatif, suram, dan optimis. Sepertinya paradoks, tetapi sesungguhnya inilah kekuatan Burton yang membuat film-filmnya selalu ditunggu. Selalu ada sesuatu yang berbeda yang ia tawarkan dalam setiap karya-karyanya. Misalnya, Edward Scissorhand, Corpse Bride, Frankenwenee, Sweeney Todd, Batman Returns dan Dark Shadows. Burton suka bermain-main dengan kesuraman dan kepahitan, yang dibalur optimisme. Sayangnya, formula ini tidak cocok untuk Alice-nya Lewis Carrol. Burton merampas apa yang paling berharga yang ditawarkan Carrol untuk pembaca kecilnya: imajinasi riang, yang bebas dari aturan mana pun. Burton mengikat Alice dengan logika orang dewasa. Alice menjelma menjadi seorang asing. DaIam film Burton, ia hanya seorang yang kebetulan bernama Alice dan kebetulan punya musuh yang juga bernama Ratu Merah.

Film Alice Through the Looking Glass merupakan sekuel film Alice in Wonderland. Alkisah, di filmnya yang pertama, setelah membantu Putri Mirana mendapatkan tahtanya kembali dari Iracebeth si Ratu Merah, Alice kembali ke dunia nyata, menolak lamaran Hamish dan pergi berlayar dengan kapal ayahnya. Di sekuelnya ini, Alice (diperankan Mia Wasikowska) diceritakan kembali dari pelayaran tiga tahunnya, dan mendapati keluarganya nyaris bangkrut. Ibunya bahkan terpaksa menjual 10% saham mereka di perusahaan dagang yang kini dikepalai Hamish. Tak cuma itu, Alice juga terancam kehilangan kapalnya. Dalam kekalutannya, Alice pergi ke taman dan bersua Absolem, seekor kupu-kupu di dunia ajaib yang menghubungkan Alice dengan Wonderland. Alice mengikuti kupu-kupu itu sampai akhirnya kembali ke dunia ajaib, tempat segala yang mustahil ada. Kucing yang bisa terbang dan menghilang, kelinci yang bisa bicara dan membuat teh, tikus yang ahli pedang dan sang penjaga waktu. Di situlah Alice tahu bahwa sesuatu telah terjadi pada sahabatnya, Hatter (Johnny Depp), sang pembuat topi. Hatter menjadi gila karena teringat keluarganya yang konon mati oleh Jabberwocky, hewan mengerikan peliharaan Ratu Merah (diperankan Helena Bonham Carter), yang dibunuh Alice (kisah ini bisa ditemukan dalam Alice in Wonderland). Untuk menolong Hatter, Alice menemui Sang Penjaga Waktu (Sascha Baron Cohen). Ia berniat menggunakan chronosfir, sumber kekuatan sang waktu, untuk kembali ke masa lalu supaya bisa mencegah upaya pembunuhan terhadap keluarga Hatter. Tapi, masa lalu tak bisa diubah. Apa yang sudah terjadi, ya memang sudah seharusnya terjadi. Yang bisa diubah hanyalah persepsi terhadapnya. Untuk mencapai perubahan persepsi inilah, Alice harus jungkir balik dalam petualangannya ke masa lampau.

Sejujurnya, ini bukanlah film Alice-nya Lewis Carrol. Ini adalah Alice-nya Tim Burton. Tidak tersisa sedikit pun keriangan dan kebebasan Alice-nya Lewis Carrol di sini. Dalam naskah aslinya, semua tokoh cerita berpikir, bicara dan bertindak secara spontan. Mereka juga tidak diikat keharusan-keharusan untuk menjadi pahlawan atau pendukungnya. Tapi, di filmnya, Tim Burton menjebak Alice untuk menjadi seorang pahlawan. Kehadirannya dibutuhkan untuk menjadi penyelamat. Dunia Alice menjelma jadi dunia yang sesak dan penuh aturan kepahlawanan yang rumit. Ia tidak lagi lapang dan melegakan. Tapi sempit dan menyebalkan.

Tim Burton tak lagi menyisakan Alice dalam pikiran kita. Ia sudah menyikat habis semuanya, termasuk bayang-bayang. Alice Through the Looking Glass–meniru ucapan Sang Penjaga Waktu pada Alice– “disintegrate history” (menghancurkan sejarah). Segala yang membuat kita bahagia tentang Alice-nya Lewis Carrol, telah hancur. Imajinasi kanak-kanak kita, lenyap di tangan Tim Burton.

(dimuat di kolom film Cakrawala Harian Haluan, 25 September 2016)

Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published.