Bagaimana Menulis Novel Cinta yang Mengikat Pembaca

Ehem…sebenarnya aku juga tidak tahu apa tips menulis novel cinta yang mengikat pembaca. Dua novel romantisku, Love, Interrupted (GPU, 2014) dan Cinta Segala Musim (Indiva, 2016), ditulis tanpa memikirkan hal-hal seperti ini. Boleh jadi novel Love memikat pembaca, karena ratingnya tinggi di Goodreads dan mendapat banyak ulasan positif. Jika ya alhamdulillah. Berarti, di sisi ini novel itu cukup berhasil. Adapun respon Cinta Segala Musim belum bisa kutulis karena novel yang jadi pemenang unggulan III lomba novel Indiva ini baru saja edar di pasar. Kalau kamu sudah baca, bolehlah kiranya mengulas novel ini di blog atau Goodreads.

Okeh, balik ke topik. Teori menulis novel cinta ini sebenarnya kudapat dari banyak membaca novel-novel romantis dan menonton film-fimnya. Pada dasarnya, bagiku, tak ada beda membaca sebuah kisah melalui buku atau film. Buku, adalah kisah yang dituliskan, film, adalah kisah yang divisualkan. Sama saja. Metode memikat pembaca/penonton pun sama. Yang membedakan hanya medianya.

Dari sekian pengamatanku terhadap banyak kisah-kisah cinta bagus, hal-hal berikut inilah yang kupikir menjadi tali pengikat pembaca/penonton ke kisahnya.

  • Jangan buat cinta menjadi begitu mudah. Cinta itu sukar, Jenderal, jangan buat ia berjalan di atas aspal licin. Cinta yang sebenar-benar cinta, harus melalui pertarungan dan perjuangan. Ia harus mau merangkak, merayap, tengkurap, bahkan kalau perlu pura-pura mati sebentar, sebelum bangun dan menerjang dengan kekuatan empat unsur bumi. Bahkan kisah cinta yang manis kinyis-kinyis pun harus tersandung-sandung sebelum mencapai finish. Apa enaknya membaca kisah cinta yang semulus jalan tol? bikin mangkel hati para jomblo aja.

Untuk membuat kisah cinta yang sukar, rancanglah konflik yang natural. Maksudnya, akar konflik  tidak jauh dari latar belakang kedua tokoh utama. Nggak cincay banget gitu, kalau seorang penyanyi jatuh cinta ama penggemarnya, trus konfliknya seputar perbedaan selera milih bakmi mana yang disuka, pedas atau manis. Konfliknya jangan jauh-jauh dari kehidupan sang penyanyi atau penggemarnya. Misal: sang kekasih ternyata nggak sanggup mengikuti gaya hidup glamor sang penyanyi kekasihnya, atau, ia tak bisa menahan begitu banyak kecemburuan terhadap setiap fans yang mengirim surat cinta. Sebagai contoh, konflik antara Romeo dan Juliet berakar pada konflik antar keluarga yang sudah berlangsung bertahun-tahun. Inilah yang jadi napas cerita. Kan aneh banget gitu ya, keluarga mereka berkonflik, sementara konflik percintaan Romeo dan Juliet ternyata seputar hobi, atau kepercayaan, atau orang ketiga

  • Jadikan harapan dan kemustahilan sebagai bahan bakar cerita. Harapan setiap novel romantis tentu agar kedua tokoh bersama, nah, padukan harapan ini dengan kemustahilan untuk mencapai harapan itu. Misal, Romeo dan Juliet punya harapan untuk bersama, dengan kawin lari atau apapunlah itu namanya, namun, rintangan kemudian muncul, seiring matinya saudara Juliet oleh Romeo. Apa yang sebelumnya tampak bisa digapai, mendadak hancur lebur.
  • Tarik ulur nasib kedua tokoh. Nah, bagian ini bisa bikin geregetan. Ciptakan kondisi-kondisi yang membuat harapan itu bisa terwujud, lalu setelahnya, lemparkan tokoh cerita pada kesedihan. Begitu terus hingga muncul keputusasaan. Nah,setelah sang tokoh mulai hancur, bantu dia menemukan jalan menuju harapannya. Ciptakan jalan baru untuk dia.
  • Olah pikiran dan perasaan tokoh semaksimalnya. Jabarkan semua kesedihan, kepahitan dan kegembiraannya. Tampilkan kelemahan-kelemahannya. Tunjukkan kekuatannya. Jadikan kekuatan atau kelebihannya ini sebagai cara dia mencapai harapannya.
  • Jangan mematikan tokoh cerita secara semena-mena. Mentang-mentang kita ingin ceritanya berakhir tragis, lalu kita tabrakkan saja tokoh utama ke kereta api lewat. Nggak banget itu. Buatlah semacam peristiwa yang jadi jalan menurun (ke akhir tragis ini). Jadi, ada logikanya. Memang sih, di kehidupan nyata, bisa aja seseorang mati tiba-tiba meninggalkan kekasihnya, tapi, di dunia cerita hal semacam ini tidak bisa diterima. Pembaca ingin melihat proses, bukan sesuatu yang seketika.
  • Yang penting, jangan lupa ciptakan momen-momen gelap tokoh utama. Ini adalah momen ketidakberdayaan. Momen yang akan membuat pembaca bersimpati padanya.
Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published.