Tiga Cara Membuat Percakapan ‘Terdengar’ dan ‘Terlihat’ oleh Pembaca

Saya sering jengkel dengan penggunaan ‘kata’ dalam percakapan, meski kadang, tak bisa menghindarinya. Saya pernah ketemu sebuah tulisan yang melulu menggunakan ‘kata’, seperti:

“Kita ke warung Mas Tarno yuk,” kata Syaila.
“Malas ah, di situ ramai,” kata Rudi
“Bagaimana kalau ke perpustakaan saja?” kata Syaila.
“Jauh ah,” kata Rudi.

Nggak banget gitu membaca ‘kata’ nyaris di sepanjang percakapan. Selain membosankan, juga tidak mendeskripsikan bagaimana situasi percakapan tersebut. Alangkah baiknya jika percakapan itu menjadi seperti ini:

“Kita ke warung Mas Tarno yuk,” ajak Syaila.
“Malas ah, di situ ramai,” tolak Rudi.
“Bagaimana kalau ke perpustakaan saja?” rayu Syaila.
“Jauh ah,” Rudi manyun.

Nah, sebenarnya ada beberapa cara untuk membuat percakapan yang bisa ‘dilihat’ atau ‘didengar’ pembaca. Berikut beberapa di antaranya:

1.Gantikan penggunaan ‘kata’ dengan kata-kata lain yang lebih menjelaskan suasana percakapan, seperti, suasana suara. Buat pembaca bisa mendengar bagaimana kalimat itu dilontarkan. Gunakan penjelasan seperti “desah, bisik, rapuh, kasar, parau, garau, gerutu, serak, melengking, dll. Selain itu, bisa juga memberi penjelasan dengan cara ‘suaranya seperti berkabut. Muram dan sendu’.

2. Penulis tidak mesti membubuhkan kata yang bersinonim dengan ‘kata’ seperti ‘rayu, bujuk, balas, komentar’ dst. Bisa saja penulis membubuhkan keterangan tentang gestur tokoh di sana. Percakapan di atas bisa saja menjadi begini:

“Kita ke warung Mas Tarno yuk,” ajak Syaila sambil mengipas-ngipas wajah dengan bukunya. Keringat berleleran di kening dan lehernya. Betapa nikmatnya jika di siang yang terik ini ia bisa menyantap semangkuk es teler di warung Mas Tarno.
“Malas ah, di situ ramai,” Rudi memandang ke jalan. Ia menanti sosok Bebi. Anak itu berjanji akan mengantarkan stik drumnya pukul satu siang. Sekarang, jam sudah menunjukkan pukul 13.15 WIB dan sosok gondrong Bebi belum juga kelihatan. Rudi tak berminat kemana-mana. Dia cuma mau menunggu di sini, menanti stik drumnya.
“Bagaimana kalau ke perpustakaan saja?” Syaila ingat AC sentral perpustakaan yang dingin. Tak minum es teler Mas Tarno gak apa-apalah. Pokoknya ia bisa pergi ke suatu tempat yang tidak gerah. Lama-lama di sini bisa membangkitkan amarah.
“Jauh.” Rudi mendekap dadanya. Ia mulai bosan dengan ajakan-ajakan Syaila. Kenapa cewek satu ini tak bisa berdiri tenang di sebelahnya tanpa bicara apa-apa? Masalahnya sudah cukup banyak tanpa stik drum itu, ia tidak ingin Syaila menjadi salah satunya.

3.Gunakan perumpamaan agar pembaca bisa ‘melihat’ apa yang dilihat tokoh percakapan secara kongkret.
Alih-alih menulis percakapan seperti ini:

Kau lihat dua orang di warung Mas Tarno itu?”
“Stefi dan Budi?”
“Makan mereka rakus sekali ya.”

Lebih baik menjadi:

“Kau lihat dua makhluk di warung Mas Tarno itu?”
“Stefi dan Budi?”
“Mereka makan seperti babi lapar. Menjijikkan.”

Di percakapan kedua, emosinya lebih jelas terasa.

Nah, sampai jumpa di tips menulis berikutnya

Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published.