Empat Tips Membuat Kisah Fantasi yang Membumi

Saya beberapa kali membaca novel fantasi yang ditulis penulis Indonesia. Kesan saya, hampir semua novel fantasi yang saya baca itu terpengaruh Lord of the Ring, Eragon, Percy Jackson, dan yang semacamnya. Kisahnya penuh dengan tokoh-tokoh mitos Yunani, atau tokoh-tokoh fantasi lainnya dalam kebudayaan Eropa, misalnya werewolf, pegasus, phoenix, elf, goblin dan orc. Kisahnya pun gak jauh beda dengan kisah-kisah fantasi yang ditulis Tolkien atau Christopher Paolini. Tentang orang-orang biasa yang bertarung dengan kekuatan-kekuatan besar, dan menang. Settingnya tentu saja imajiner, sama seperti setting Bumi Tengah (LoTR) atau Kerajaan Galbatorix (Eragon). Hasilnya, novel itu menjadi novel gagal menurut saya, karena:
1. Sang penulis tidak punya akar di kebudayaan yang dia tulis, dan itu membuat ceritanya tidak mengakar juga. Mengawang-awang. Penuh dengan lompatan-lompatan imajinasi yang membingungkan.
2. Tulisannya penuh dengan pengiraan-pengiraan. Maksudnya, dia sekadar mengira-ngira latar tempat, latar waktu, karakter tokoh mitologi yang dia tulis, dst.
3. Penulis-penulis tersebut lupa, latar bukan hanya soal tempat dan waktu, tapi juga kultur, cara pandang/cara berpikir, cara bersikap. Itu semua tergambar dalam pilihan kata dan kalimat, pilihan bentuk percakapan, pilihan bentuk tindakan, dst. Tolkien atau Paolini berhasil dalam novel-novel fantasi mereka karena (antara lain) mereka hidup dalam kebudayaan tempat tokoh mitologi itu berasal. Mereka mengakar di kebudayaan tersebut. Mereka bernapas dan bicara dalam kebudayaan itu. Ini membuat novel-novel mereka membumi. Sementara, sebagian novel fantasi penulis Indonesia yang karyanya saya baca, seperti lepas dari bumi. Ini karena penulisnya tidak hidup dalam kebudayaan tempat mitos-mitos dalam cerita itu berasal. Mereka tidak mengakar di sana. Karya mereka jadi seperti setangkai bunga yang ditusukkan saja ke tanah. Dalam hitungan jam bunga itu layu.
Trus, bagaimana caranya menulis novel fantasi yang lebih membumi bagi penulis Indonesia? Berikut beberapa poin yang harus diperhatikan.
1. Jadilah dirimu sendiri. Tulislah sesuatu yang tumbuh dari tanahmu sendiri, yang mengakar di kebudayaanmu sendiri. Ini akan membuat novel fantasi itu terasa dekat denganmu. Banyak kisah tokoh-tokoh mitos Indonesia yang bisa dieksplorasi. Saya misalnya, memilih mengeksplorasi tokoh mitos Hantu Aru-aru dalam novel fantasi Labirin Sang Penyihir. Hantu Aru-aru adalah tokoh mitos penculik anak di kala senja, yang populer di ranah Minang. Labirin Sang Penyihir mengisahkan seorang anak yang terperangkap dalam labirin si hantu ini bersama anak-anak lainnya, lalu berupaya melawan sang hantu supaya bisa keluar dari sana. Nah, kamu bisa mengambil tokoh-tokoh mitos atau legenda Indonesia sebagai tokoh dalam ceritamu. Misalnya, orang-orang Bunian, cindaku, Jaka Tarub dan Nawang Wulan, dll.

2. Modifikasilah tokoh mitosmu, tapi jangan lepaskan dia dari sifat dasarnya. Misal, Buto Ijo, jangan lepaskan dia dari sifat tamaknya, namun kamu bisa memodifikasinya menjadi seorang pahlawan dadakan, misalnya, atau menjadi seperti Hulk. Jadikan saja dia tamak terhadap makanan, bukan perempuan, meski, dia tetap mudah terpana melihat perempuan cantik.

3. Olahlah kisah-kisah legenda di sekitarmu. Misalnya, kisah Jaka Tarub. Kamu bisa memodifikasi kisahnya menjadi seperti ini, Jaka Tarub ternyata pangeran yang terbuang. Ia sengaja dibuang ke hutan oleh selir ayahnya, semenjak ibunya (permaisuri kerajaan) meninggal. Tujuannya, supaya putra sang selirlah yang jadi pangeran mahkota. Di hutan, Jaka Tarub bertemu Buto Ijo yang kesepian karena tak punya teman. Berdua mereka jadi teman baik. Buto Ijo menjelma jadi seorang sahabat. Dia bodoh tapi setia. Dari dialah Jaka Tarub tahu bahwa di suatu tempat di hutan itu, ada danau yang biasa jadi tempat bermain para putri kayangan, dst. Cerita ini bisa diakhiri dengan, Jaka Tarub dibantu Buto Ijo dan pasukan raksasa, pasukan kayangan (Nawang Wulan ternyata putri raja kayangan) dan orang-orang bunian penjaga hutan, merebut kembali tahta kerajaan. Ini bisa menjadi kisah fantasi yang sangat epik.

4. Kreatiflah. Indonesia punya sumber cerita yang terlalu kaya untuk kamu abaikan. Ambil satu di antaranya, lalu kerahkan daya kreativitasmu untuk mengolahnya menjadi sebuah epik fantasi. Tak ada yang tak mungkin di jagad imajinasi bukan? Tinggal kamu berani atau tidak saja menerima tantangannya.

Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published.