The Legend of Tarzan: Tarzan yang Gamang

 Dimuat di kolom ulasan film ‘Cakrawala’ Harian Haluan, 9 Oktober 2016

Tarzan kita kembali. Kali ini bukan dari hutan ke dunia manusia, tapi dari peradaban telepon seluler menuju rimba raya Kongo yang eksotis, penuh dengan pohon yang lebih besar dari pelukan tangan, koloni gajah, dan tentu saja mangani yang legendaris, jenis gorila besar rekaan Edgar Rice Burough, penulis Tarzan. Bersama sahabat-sahabat hewannya ini, Tarzan melawan tirani King Leopold II of Belgians yang mengeksploitasi tanah dan rakyat Kongo habis-habisan. Kisahnya menarik dengan cacat besar di dalamnya, Tarzan tampil terlalu gamang. Ia kelihatan bukan lagi bagian dari sebuah hutan. Bukan lagi seorang anak yang kembali pada kampung halamannya. Ia seperti seorang yang berusaha melekat-lekatkan diri saja pada hutannya. Ia tidak mengutuh dan menyeluruh. Ia sudah menjadi Tarzan yang asing di tanahnya sendiri.
Legend of Tarzan dimulai dengan potret kehidupan Tarzan (Alexander Skarsgard) yang sudah menjadi Lord of Greystoke. David Yates sang sutradara menampilkan masa lalu Tarzan di hutan secara sepintas-sepintas sebelum ia bertemu Jane Porter (Margot Robbie), gadis cantik yang membuat Tarzan jatuh cinta. Sebenarnya, bila ditinjau dari ilmu perkembangan mental, tidak mungkin seorang yang dibesarkan hewan hingga dewasa, tiba-tiba bisa berprilaku seperti manusia hanya dari beberapa kali interaksi dengan manusia normal. Hal ini karena jendela perkembangan otaknya, seperti jendela kemampuan berbahasa dan berpikir logis tidak terbuka. David Yates sang sutradara tampaknya menyadari hal ini. Alih-alih mempertemukan Tarzan dan Jane di usia dewasa sebagaimana cerita aslinya, Yates justru mempertemukan Tarzan dengan Jane saat mereka berdua masih sangat muda, di usia saat jendela perkembangan di otak masih terbuka. Yates juga mengisahkan bagaimana Tarzan kemudian berinteraksi dan akhirnya hidup bersama suku-suku Afrika, melalui sosok Jane, yang membuatnya mulai menjadi manusia secara mental.

Kembali ke Legend of Tarzan. Suatu kali, setelah menyandang status sebagai Lord or Greystoke dan suami Jane Porter, Tarzan didatangi George Washington Williams (Samuel L Jackson), seorang wartawan yang berniat menginvestigasi kolonialisme terselubung yang dilakukan King Leopold II of Belgians. Terdorong oleh rasa cinta dan rindu pada kampung halamannya, Tarzan menyetujui ajakan Williams kembali ke Kongo bersama Jane. Misi itu ternyata berbuah kesulitan yang seakan tiada habisnya. Terlebih, tangan kanan King Leopold, Leon Rom (Christoph Waltz), ternyata sangat lihai dan berdarah dingin.

Tanggung
Beda dari film-film Tarzan sebelumnya, film ini mencoba memasukkan tema perbudakan dan kolonialisme sebagai subplot cerita. Sayangnya, tema ini digarap tanggung, malah terkesan dipaksakan ke dalam cerita (atau sebaliknya, Tarzanlah yang dipaksakan masuk dalam tema ini). Masalah perbudakan pun tampaknya tidak menjadi masalah Tarzan betul, karena sepanjang film yang ia lakukan justru menyelamatkan Jane yang diculik Leon Rom, sehingga film ini tampak seperti kisah cinta dua anak manusia (bikin bingung saja, film ini sebenarnya mau menceritakan apa sih). Yang menyedihkan, karakter antagonis Leon Rom tidak terolah dengan baik, meski, Christoph Waltz tampak sudah berbuat semaksimalnya di film ini. Tokoh Williams yang seharusnya bisa menjadi penghubung kisah Tarzan dengan kolonialisme di Kongo pun ditampilkan tanpa kesan cerdas dan berani. Dan di atas itu semua, sosok Tarzan tampil seperti model yang tersesat di hutan. Tak ada ruh hutan dalam dirinya. Hutan seperti sebuah tempat yang sebentar dilewati atau disinggahi. Meski begitu, saya yakin kemunculan Alexander Skarsgard di antara pohon-pohon hutan Kongo dalam keadaan telanjang dada, ditunggu para penonton cewek yang gemar histeris melihat perut sixpack, sekaligus bikin iri para cowok bertubuh tambun.

Meski saya sulit memaafkan cacat besar di film ini, setidaknya sosok ganteng Skarsgard bisa menjadi alasan saya untuk menonton film ini hingga usai.

Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published.