Benarkah Semua Tempat Wisata yang Beredar di Medsos Itu Keren?

Jawabnya … tidak semua! Jangan tertipu. Apakah kamu mau menghasilkan foto yang jelek? tidak. Kamu pasti akan mengambil sudut pemotretan yang baik agar menghasilkan gambar yang bagus. Ketika kamu narsis di suatu tempat, kamu pasti akan menghindari gunungan sampah, taman yang tak terurus, dan aneka hal kurang bagus lainnya. Kamu menyingkirkan segala yang jelek untuk mendapatkan gambar bagus, jadi ketika kamu mempostingnya di media sosial, orang-orang akan berpikir “waaa, o my God tempat itu keren bangeeeet!”

Aku beberapa kali membaca artikel semacam “10 Tempat Wisata Paling Asyik di ….”, “5 Tempat Wisata Wajib Kunjung di …” diikuti tampilan foto pendukung yang membuatmu merasa, “oh, ya, itu memang tempat yang keren!” Kenyataannya? Sini aku mau kasi pengalaman sedikit.

Suatu kali aku mengeklik artikel berjudul “10 Tempat Wisata Paling Keren di XXXX.” Nyaris semua tempat di artikel itu sudah aku kunjungi, dan mau tahu apa pendapatku? artikel itu bohong besar, setidaknya untuk bagian yang sudah aku kunjungi. Tempat-tempat itu sama sekali tidak keren. Poin pertama, Air Terjun Blabla di XXXX yang menawarkan tempat berenang yang mengesankan, itu adalah air terjun kecil berbatu-batu yang biasa dijadikan para pemburu untuk memandikan anjing-anjing mereka, dan tempat itu sangat tidak terawat. Poin kedua, Kawasan XXXX yang cantik. Oh, tempat di poin kedua itu hanyalah sebuah jalan yang kalau kamu berhenti akan menganggu pengendara lainnya. Apa yang akan kamu nikmati dengan berkunjung ke Kawasan XXX itu? lalu lalang mobil? Poin ketiga, Pantai XXX yang membuatmu betah berlama-lama. Itu hanyalah sebuah pantai kotor tempat kamu bisa melihat ratusan botol minuman berserakan di mana-mana, dan mungkin sedikit ketakutan karena para pedagangnya kasar dan ada orang-orang yang suka menodong pengunjung. Poin keempat, Danau XYZ yang membuatmu enggan pulang. Oh ayolah, danau yang membuatmu enggan pulang itu adalah danau berair kecoklatan, berbau amis, dengan pinggiran dipenuhi semak (dan rumah orang) dan tak ada satupun yang bisa kamu lakukan di situ selain melihat-lihat dan mengambil foto selfie beberapa kali. Dalam 10 menit kamu sudah tidak betah.

Apa yang ingin aku sampaikan adalah, banyak blog yang menulis artikel tempat wisata keren semacam ini yang para penulisnya sebenarnya belum pernah ke situ. Mereka dapat info cuma dari searching internet. Bayangkan kalau suatu kali, karena terpengaruh artikel semacam itu, seorang wisatawan masuk hutan, menemukan lokasi air terjun yang mengecewakan, lalu kemalaman, tidak ada kendaraan umum karena ternyata akses kendaraan begitu sulit. Betapa menyedihkannya.

Indonesia banyak tempat wisata bagus, itu benar, namun tidak semuanya terkelola baik. Banyak sekali kutemukan, tempat-tempat wisata dengan pemandangan yang sangat indah, sesampai di sana, ternyata tak ada apa-apa yang bisa dilakukan selain melihat-lihat dan mengambil foto. Ada sebagian kawasan wisata yang mulai dikelola secara kreatif, yakni tempat yang menawarkan pengalaman melakukan sesuatu bagi pengunjungnya. Tapi jumlahnya masih sangat sedikit. Di antaranya Puncak Langkisau di Pesisir Selatan yang bukan hanya 100% indah, tapi juga menawarkan pengalaman paralayang bagi pengunjung. Artinya, ada sesuatu yang bisa dilakukan wisatawan di situ selain lihat-lihat saja. Tempat itu pun sangat rapi, bersih dan tidak ada orang-orang yang suka menodong wisatawan. Akses ke sana pun bagus. Intinya, sudah dikelola secara profesional. Tempat lainnya adalah Museum Goedang Ransoem, Sawahlunto. Di situ orang bukan cuma melihat-lihat koleksi museum, tapi juga menonton film (ada teater kecilnya), dan ada taman sains anak, tempat anak-anak bisa melakukan berbagai eksperimen sains yang menyenangkan. Pegawai museumnya muda-muda, cantik dan ganteng serta sangat ramah pada pengunjung. Sayang, kawasan wisata kreatif begini sangat sedikit. Bahkan terlalu sedikit.

Jadi, kalau mau mengunjungi suatu tempat, aku sangat menghindari artikel-artikel atau info-info wisata di medsos yang cuma memberitakan “wah”, “luar biasa”, “molek dan mempesona”, dsb, sebab, artikel-artikel itu seringnya tidak menawarkan informasi yang jujur, yang sesuai dengan kenyataan. Aku lebih suka mencari info dari bloger yang menulis artikel wisata dengan apa adanya (karena dia memang berkunjung ke sana), atau bertanya langsung pada orang-orang yang tinggal di tempat yang akan kukunjungi, baik secara online maupun offline.

Yah, well, don’t trust anything on internet too much, right?

Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published.