Jangan Tonton Filmnya (Lebih Dulu), Baca Bukunya

Jika ada sebuah novel yang diangkat ke layar lebar, mana yang duluan lebih suka kamu nikmati? Film atau bukunya? Kalau kamu menjawab yang kedua, maka kita sama. Aku malah terbilang agak anti menonton duluan. Film hanya mengacaukan imajinasiku soal bukunya. Lagi pula, tak penting juga bagiku apakah akan menonton filmnya atau tidak, yang penting aku sudah membaca bukunya (oh, well, ya sebenarnya aku bisa dikatakan nyaris menonton semua film yang bukunya sudah kubaca).

Nah beberapa waktu lalu aku berlaku sebaliknya. Nonton filmnya dulu, baru baca bukunya. Dan seperti yang sudah bisa kutebak, aku kesal bukan kepalang dan sungguh-sungguh sulit menikmati bukunya. Setiap kali membalik lembaran-lembaran awal, yang kubayangkan selalu gambaran aktor-aktris yang memerankan tokoh-tokoh cerita. Ini membuat aku mandeg membaca. Moodku tidak positif dan aku lebih banyak mengabaikan buku itu. Baru setelah sepertiga bacaan aku mulai menemukan ritme cerita dan bisa menyingkirkan bayangan aktor-aktrisnya, meski tidak 100%.

Cerita yang kubaca itu adalah The Gone Girl. Yep, film dan buku terkenal itu. Buku yang laris manis macam gorengan di pasaran, dan film yang mendapat nominasi Oscar tahun 2015. Aku memang kudet. Bahkan dulu tidak tahu kalau film itu diangkat dari novel. Langsung kutonton saja dan merasa suka dengan ceritanya. Yah, tentu saja saat nonton film itu aku baru tahu kalau The Gone Girl diangkat dari novel Gillian Flynn. Tapi, saat itu, meski sedikit kesal pada kebodohan diri sendiri, aku belum begitu jengkel.

Nah, sekitar seminggu lalu aku berhasil mendapatkan novel itu, lalu perasaanku mulai negatif seperti yang kuceritakan di atas. Bahkan sampai nulis artikel ini pun, aku masih sedikit jengkel. Tentu saja pada diri sendiri (pertama), dan pada filmnya (kedua). Di pikiranku muncul pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut: bagaimana mungkin filmnya begitu kering dari emosi? Bukunya masyaallah, berlimpah ruah dengan emosi dan sangat mengikat hingga akhir. Bayanganku tentang gestur tokoh-tokohnya pun berbeda jauh dari filmnya. Tapi yah … itulah risiko menonton. Imajinasi pembaca berbentrokan dengan imajinasi sutradara. Sebagai penonton, aku hanya bisa menerima.

Sebenarnya, tidak semua film yang nilainya di bawah novelnya, beberapa setara, dan malah ada yang di atas novelnya. Beberapa yang bisa dianggap setara itu menurutku adalah Lord of the Ring dan mungkin The Godfather, sementara yang cenderung lebih baik itu misalnya The Confession of a Shopaholic, film yang diangkat dari novel Sophie Kinsela. Banyak sekali celah dalam novelnya, dan di beberapa tempat sangat tidak logis. Kekurangan ini diperbaiki di filmnya, membuat film itu terasa lebih utuh dan memuaskan. Ada juga film-film yang di satu sisi lebih baik dari bukunya, namun bukunya sendiri di sisi lain jauh lebih baik dari filmnya. Satu di antaranya adalah film Beautiful Creatures yang diangkat dari novel remaja laris berjudul sama karya Kami Garcia dan Margaret Stohl. Diksi di bukunya serta pemikiran tokoh-tokoh di bukunya sangat keren, sesuatu yang tidak kutemukan di filmnya. Namun, logika cerita di buku itu sedikit bermasalah. Di film berlaku sebaliknya, narasi percakapannya tidak secantik di buku, tapi logika ceritanya jauh lebih nyambung.

Yah, memang tidak ada karya yang sempurna. Aku menyadari itu. Dan semua yang kutulis di sini, tentu saja pandangan subjektifku sendiri.Tapi, tentu saja penting menganalisis karya-karya yang dinikmati sebagai pelajaran untuk diri sendiri.

Segala sesuatunya adalah media belajar. Bukan begitu?

Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published.