Yang Kamu Harapkan Ketika Mengunjungi Payakumbuh

Payakumbuh adalah sesuatu yang kau butuhkan ketika tubuhmu basah oleh keringat, kepalamu sakit karena panas yang menyengat, dan lapar di lambungmu tak henti berteriak. Itulah kota kecil ini. Kamu tahu? Sesuatu yang akan membuatmu nyaman. Kau marah pada dunia, lalu melarikan diri ke kota kecil ini, dan tiba-tiba saja kau mendapati dunia yang begitu lembut dan membahagiakan. Begitulah Payakumbuh, dan tentu saja termasuk Kab. 50 Kota, daerah yang melingkari kota kecil ini. Aianyo janiah, ikannyo jinak, demikian pepatah Minang membahasakan Luhak 50 yang kini disebut 50 Kota. Terjemahannya: airnya jernih, ikannya jinak. Sebuah isyarat untuk menggambarkan kedua daerah ini dengan baik. Alamnya bersahabat, orangnya ramah dan menyenangkan.

Ke sinilah aku pergi dua minggu lalu. Payakumbuh dan 50 Kota menjadi bagian dari rangkaian perjalananku mencari data tambahan untuk novel yang sedang aku garap. Aku berkeliling, bertandang kemana-mana. Satu di antara sekian tempat yang dikunjungi adalah Taeh Bukik, sebuah daerah tempat Chairil Anwar dibesarkan. Tidak, aku tidak mencari data penyair eksentrik itu, aku mencari makan.

Rumah Bako dilihat dari seberang jalan

Yep! Payakumbuh dan 50 Kota sejak dulu terkenal karena kulinernya. Inilah bagian dari kearifan lokal masyarakatnya yang tak tergerus oleh KFC maupun McD. Masyarakatnya suka duduk di lapau-lapau, atau lepau atau kedai. Dulu nama lainnya adalah bufet, satu yang tersisa adalah Bufet Sianok di Pasar Payakumbuh  yang masih tetap menyajikan makanan tradisional Minang semacam ampiang dadiah. Kini, lapau atau bufet itu berganti kafe. Konsepnya sudah lebih kekinian, tapi sebagiannya masih menyajikan menu tradisional. Bahkan, belakangan ini, kafe dengan menu tradisional makin marak. Menu yang dicari umumnya aia kawa, sebutan untuk minuman dari rebusan daun kopi. Kreativitas menghasilkan aia kawa yang dicampur macam-macam bahan. Favorit suamiku adalah kawa talua, versi kawa dari minuman teh talua.

Kembali ke Taeh Bukik. Aku berangkat ke sana dari Tanjung Pati, ibukota Kabupaten 50 Kota. Tempat ini bisa juga ditempuh dari Payakumbuh. Jalan ke sana beraspal mulus, mendaki dan berbelok-belok. Sepanjang jalan aku disuguhi pemandangan hamparan sawah ladang yang membuatku berkali-kali ingin berhenti dan mengambil gambar. Segala sesuatu yang tampak menimbulkan decak kagum, dan kuharap, begitu juga makanan yang ingin kudapatkan. Makanan apa yang kucari di situ? Entahlah, hanya sesuatu yang istimewa di kafe Rumah Bako. Tempat itu mulai naik daun belakangan ini. Tempatnya jauh dari pusat kota, berdiri sendirian di ketinggian perkampungan Taeh Bukik yang sejuk. Lupakan teori soal pentingnya memilih lokasi di sini. Di Payakumbuh, banyak kedai-kedai makanan yang tersuruk di kampung-kampung, tapi ramai oleh pengunjung yang datang dari mana-mana. Yang penting itu rasa. Kalau enak, orang dari ujung negeri pun akan datang, demikian prinsip warung makan orang Minang. Jadi, kalau kamu punya penawaran yang sangat baik untuk rasa makanannmu, tak soal bila menjualnya di puncak bukit, orang-orang akan datang seperti semut berburu gula. Contohnya aku.

Sawah ladang yang menghampar nun di kejauhan, dilihat dari teras Rumah Bako

Demikianlah ceritanya kenapa pada suatu siang yang menyenangkan aku sampai di Rumah Bako. Pemandangannya bagus sekali. Dari kafe, pandangan bebas menyusuri keindahan tumpukan sawah dan hamparan ladang pohon kelapa di bawah sana. Keindahan yang tak terperi. Pantas saja orang-orang suka ke sini. Ada nilai lebih yang ditawarkan Rumah Bako: lanskap 50 Kota yang menawan.

Aku membayangkan kelezatan makanan di Rumah Bako. Kuahnya yang berbumbu, bergulir manis di atas lidahku. Aroma jeruk dan sentuhan es yang sejuk, menimbulkan sensasi menyenangkan pada diriku. Yah, aku cuma bisa membayangkan, karena aku tidak jadi makan di sana. Mau tahu kenapa? Kafe itu buka Senin-Minggu, kecuali Jumat. Mengenaskan, karena aku datang pada hari ‘kecuali’-nya. Tamatlah harapanku hari itu.

Mungkin lain kali.

 

Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published.