Bagaimana Menciptakan Tokoh Jahat yang Mengesankan

Okeh, ini sebenarnya pertanyaan untuk diriku sendiri. Bagaimana menciptakan tokoh jahat yang akan membuatmu terkesan padanya? bahkan jauh lebih membuat terkesan ketimbang tokoh baiknya? well, ya, ini sulit. Pertama, untuk membuat seorang tokoh cerita tampak mengesankan, tentu isi kepala seorang penulis harus mengesankan terlebih dahulu. Kita mau menciptakan seseorang dari ketiadaan bukan? apa hal yang kita butuhkan untuk melakukannya? tentu bahan yang baik, dan bahan yang baik hanya bisa didapat dari pengolahan yang bermutu. That’s all! Baik, anjuran membaca memang terlalu klise, tapi itulah semua yang harus dilakukan. Kedua, yang perlu kita lakukan adalah–kupikir–memecah diri. Taruh satu bagian diri pada tokoh jahat itu. Selami apa mau pecahan diri ini, apa mimpinya, harapannya, alasan-alasan tindakannya. Segalanya. Mungkin kamu tidak benar-benar mengetahui seperti apa kekasihmu, tapi kamu harus tahu luar dalam seperti apa tokoh yang kamu ciptakan. Jika tidak, bagaimana membuat pembaca terikat padanya?

Ini memang sulit, aku sendiri masih belajar untuk memahami ini. Seingatku, tokoh jahat pertama yang kutulis adalah Dean dalam It’s My Solitaire. Novel ini menjadi finalis lomba menulis novel DarMizan 2005, dan diterbitkan di penerbit tersebut. Dean adalah seorang penderita schizophrenia, dan ia merupakan tokoh utama novel itu. Kupikir, aku tidak terlalu berhasil dengan Dean, meskipun ternyata banyak juga pembaca yang menyukainya. Kalau aku punya kesempatan untuk memperbaiki karakternya, akan kulakukan sebaik-baiknya.

Tokoh jahat keduaku adalah Anak Singo Balang dalam Kupu-kupu Fort de Kock, tapi sebenarnya, tokoh-tokoh di dalam novel itu sepenuhnya abu-abu, seperti manusia di dunia nyata umumnya. Anak Singo Balang bisa menjadi jahat sekaligus baik, sementara tokoh protagonisnya, Limpapeh Gunung Singgalang, bisa menjadi sangat baik sekaligus jahat tiada terkira. Adapun tokoh jahat ketigaku adalah Sara dalam novel Labirin Sang Penyihir. Dia adalah sosok monster yang dulunya gadis baik. (Ini membuatku ingin memulai kisahnya dengan … “Pada zaman dahulu, ada seorang gadis baik dan cantik yang tumbuh menjadi monster”, sepertinya itu bukan cerita pengantar tidur yang baik). aku cukup puas dengan karakter Sara. Rasanya cukup pas dalam sebuah novel yang ditujukan untuk anak-anak dan remaja. Meski begitu, eksplorasi pelajaran terus berlanjut. Aku menelusuri karakter-karakter jahat dalam beragam buku dan belajar cara menggarap karakter tersebut dari sana. Dua buku terbaru yang kubaca adalah Monstrumologi (oh, yes! itu sangat kurekomendasikan) dan The Gone Girl. Berikut beberapa poin yang bisa diambil dari sana. Kubagi untukmu semua.

  1. Sebagaimana protagonis, antagonis juga butuh alasan kuat untuk tindakannya. Beri semua alasan yang logis, masukkan unsur emosi di dalamnya. Pastikan ia terlihat seperti makhluk lemah yang butuh perhatian saat mengungkapkan semua alasannya. Setiap tindakannya harus didasarkan pada argumentasi yang bisa dipertanggungjawabkan kerasionalannya, setidaknya dari sisi si antagonis.
  2. Seorang paling jahat sekali pun, pasti memiliki seseorang atau sesuatu yang melembutkan hatinya. Ciptakan sumber kasih sayangnya ini. Bisa anak, hewan peliharaan, benda kesayangan, dll.
  3. Beri si antagonis ini prinsip hidup. Entah apapun itu. Buat prinsip itu sangat mengesankan.
  4. Ciptakan dunia kecil dimana si antagonis adalah pahlawan di sana. Voldemort dalam seri Harry Potter adalah pahlawan bagi pengikut setianya, dan mereka rela mengorbankan apapun demi dia. Buat dunia yang dipenuhi kesetiaan semacam ini. Menjengkelkan. Tapi, semakin kamu jengkel menulisnya, semakin berhasil kamu mengolah karakternya.
  5. Antagonis selalu berpikir semua tindakan mereka benar, dan mereka selalu bisa menemukan logika dari setiap tindakan buruknya. Ciptakan itu. Buat si antagonis tampak baik dalam versi dia sendiri.

Kamu bisa mulai melatih menciptakan tokoh antagonis dari hal paling sederhana. Tulis barang tiga atau empat paragraf hal-hal baik tentangnya, lalu, dalam jumlah paragraf yang sama, kamu tulis hal-hal buruk tentangnya. Ini akan membuatmu bukan hanya terkesan pada dia, tapi juga, dengan satu cara, tokoh rekaanmu ini, memanipulasimu untuk melanjutkan kisah tersebut.

Semakin kamu termanipulasi, semakin berhasil kamu menciptakan ia dari ketiadaan.

Cobalah.

 

Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published.