Jalan-Jalan Puisi ke Kubu Gadang

Ada satu spot menarik di daerah Padang Panjang, namanya Desa Kubu Gadang. Desa ini terletak tak jauh dari pusat kota Padang Panjang. Kalau dari kampus ISI, jaraknya sekitar 2 km ke arah Batu Sangkar. Cukup mudah menemukan desa ini, selain karena simpangnya berada di jalan besar, ada pula gerbang yang bertuliskan Kubu Gadang di situ. Jalan menuju desa ini aspal mulus. Sepanjang jalan menuju Kubu Gadang kita disuguhi pemandangan sawah dan ladang yang asri. Udaranya sejuk, cenderung dingin malah. Sungguh menyenangkan menarik napas panjang-panjang di sana.

Nah, pada 22 Januari 2017 kemarin saya dan beberapa teman pergi ke desa ini menghadiri helat puisi penyair Sumatra Barat yang diberi tajuk Petang Puisi Kubu Gadang. Acara ini juga didukung oleh pemko Padang Panjang. Tak kurang-kurang, sang walikota sendiri, Hendri Arnis, yang membuka acara. Kagum juga saya dengan keberhasilan para seniman di kota itu menjalin kerjasama dengan pemerintah untuk menggelar acara ini.

Lokasi acara di tengah pesawahan yang habis panen. Ini membuat acara jadi seperti terkesan perayaan sehabis panen 😀

Saya berangkat bersama teman-teman dari KKI yang juga penulis dan penyair.

Ayesha membacakan puisi

Perjalanannya cukup menyenangkan dan dipenuhi gelak tawa. Bang Fadli sang sopir (kami nebeng mobilnya), orangnya easy going. Bahkan waktu mobil mati mesin pas di pendakian Silaiang yang membuat mobil mundur, dia tetap tenang. Denni buru-buru keluar waktu itu untuk mencari batu ganjalan. Nyatanya, pas Denni keluar, mobil bisa jalan lagi membuat Bang Fadhli bikin joke kalau berat Dennilah yang membuat mobil mati mesin. haghaghag.

Pas kami sampai di Kubu Gadang, acaranya baru saja mulai. Acaranya pembukaannya keren banget, diisi oleh seni tradisi, seperti Tari Pasambahan, SIlek Lanyah yang menjadi ikon Kubu Gadang dan Gandang Tasa. Orang-orang rame sekali. Masyarakat tumpah ruah menyaksikan acara. Persis seperti baralek. Melihat antusiasme penduduk itu kami jadi tambah semangat. Apalagi melihat lokasi acara yang ternyata di … tengah sawah! lokasi acara dipenuhi jerami, panggungnya juga. Bahkan tiang mikrofonnya juga dipenuhi jerami. Di kiri kanan panggung berderet puisi-puisi penyair Sumbar yang ditempelkan di orang-orangan sawah yang juga terbuat dari jerami. Wuaaah. Kwerreeeeen ….

penampilan silek lanyah

Di acara itu para penyair bergantian membacakan puisinya. Suasananya sangat egaliter. Siapa saja yang punya puisi, boleh datang ke panggung dan membacakannya. Puisi jadi milik semua orang.

Puisi yang ditampilkan di orang-orangan sawah
Ini salah satu tradisi Minang, namanya makan bagadang samba lado

Acara ini juga membawa pengalaman yang mengesankan bagi Ayesha karena ia diundang panitia, Muhammad Subhan, yang juga novelis Sumatra Barat dan pendiri FAM Indonesia untuk naik ke panggung dan membacakan puisi. Ayesha membaca puisi di awal-awal acara, sesudah penampilan penyair Iyut Fitra. Penontonnya rame banget. Setelah semua orang terhipotis oleh gaya penyair Iyut Fitra (penampilannya betul-betul mengesankan, membuat semua orang hanya memakukan mata ke panggung), mereka lalu disuguhkan penampilan anak kecil berumur 11 tahun. Waktu melihat Ayesha, orang-orang bilang, “Weeeh, kecilnya lagiii!” Ternyata ucapan ini didengar oleh Ayesha. Menurut pengakuannya, setelah mendengar sorakan itu ia menjadi sangat gugup. Pas di panggung, ia seperti tak merasakan kakinya lagi (hwadooh!). Tapi, ia meneruskan niatnya membacakan puisi penyair Deddy Arsya berjudul ‘Tukang Obat di Pasar Kambang’ dan berhasil. Dalam hal ini ia berhasil menguasai kegugupan dan rasa paniknya. Saya rasa, ini pelajaran kehidupan yang sangat penting baginya. Terima kasih untuk panitia yang sudah memberi Ayesha kesempatan untuk belajar.

Terakhir, aku cuma mau bilang acara ini sangat kwerreeeen. Mudah-mudahan festival puisi ini bisa menjadi ikon wisata Padang Panjang di tahun-tahun berikutnya.

 

Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published.