Giveaway Novel Habibie Ya Nour El Ayn

Halo semua. Habibie Ya Nour El Ayn sudah meluncur ke toko buku. Novel ini berkisah tentang Nilam dan Barra Sadewa yang bertemu sekejap di sebuah pesantren, namun saling tak bisa melupakan sepanjang usia. Yuk intip blurb yang tampil di Mizan Store.

Barra Sadewa, anak SMA yang mengaku tidak percaya Tuhan, dipaksa kepala sekolahnya untuk mondok dua minggu di Pesantren Nurul Ilmi. Ia datang dengan segudang kebencian. Mengira pesantren itu adalah penjara yang lain lagi dalam hidupnya. Tepat saat ia memasuki gerbang pesantren dan mengira telah melakukan kebodohan terbesar dalam hidupnya, ia bertemu Nilam, putri pemilik pesantren yang pendiam dan sangat menjaga etika pergaulan. Dalam beberapa detik segalanya berubah. Bukan hanya bagi Barra, tapi juga Nilam.

 
Pertemuan mereka hanya sekejap, tapi jejaknya membekas sepanjang usia. Dalam pertemuan-pertemuan yang sebentar, Barra dan Nilam menyaksikan sulur-sulur nasib mereka saling bertemu dan membelit. Mereka bercakap tanpa suara. Rahasia-rahasia hati mereka hanya disampaikan melalui pandangan mata.
Bertahun-tahun Barra dan Nilam hanya menuangkan cinta itu dalam surat-surat yang tersimpan. Sampai akhirnya, ketika Barra memutuskan untuk menyatakan segalanya, semua sudah terlambat.
 

“Aku hanyalah meteor yang terbakar tanpa sisa di atmosfernya. Aku takkan pernah jatuh ke buminya, takkan mungkin menciptakan kawah di jantungnya.”

Nah, aku bermaksud memberikan satu eks novel Habibie plus suvenir untuk dua blogger yang mau mengulas novel ini di blognya dan mengundang orang-orang untuk tur baca ulasan tersebut. Caranya silakan klik tautan berikut

Yook baca dulu bagian pertama novel ini … ^_^

 

Tiga Kesintingan di Dunia

Satu. Aku tahu sudah sinting.

Kata Yana, ada tiga kesintingan di dunia ini. Pertama sinting karena harta, kedua, sinting karena cita-cita dan ketiga, sinting karena cinta. Sinting karena dua hal pertama bisa diobati dengan kitab Ihya Ulumuddin, sementara sinting yang ketiga tak ada obatnya. Sudah lama diketahui cinta adalah virus berbahaya. Sekali melekat, susah dilepaskan. Mengoreknya hanya membuat hati berdarah.

“Banyak pelajaran dari sejarah, seperti yang pernah kau bilang,” ujar Yana, “Kau ingat Helen of Troy? Layla Majnun? Bagaimana akhir hidup mereka? Menderita, bukan? Apa enaknya hidup kalau siang malam hanya menangisi sang kekasih? Tubuh bebas tapi hati dan pikiran terpenjara. Lebih baik terpenjara, tapi hati dan pikiran berkelana kemana-mana.”

Tapi jatuh cinta bukanlah sesuatu yang bisa direncanakan. Itu yang Yana lupakan. Seseorang bisa saja berencana pergi sekolah, mengerjakan tugas sekolah dengan tekun, atau pergi ke perpustakaan untuk meminjam buku, tapi mereka tak bisa berencana untuk tidak jatuh cinta di sekolah atau di perpustakaan. Cinta adalah sesuatu yang berada di luar dimensi manusia. Ia tidak berada dalam rencana-rencana atau cita-cita. Tidak punya ruang dan waktu. Cinta diciptakan dengan dimensi dan logikanya sendiri. Dan cinta diciptakan Tuhan untuk masuk ke alam manusia dengan cara yang tidak mampu kita pahami.

Dua. Aku yakin sudah jatuh cinta. Tapi perasaanku ini tidak seperti yang digambarkan dalam buku-buku. Tidak penuh dengan bunga-bunga yang bermekaran seperti musim semi, tidak wangi layaknya melati, atau indah seperti matahari pagi. Perasaan ini cenderung suram. Muram seperti senja berkabut. Ini perasaan yang tak mampu aku pahami. Kadang bergejolak seperti badai, lain hari tenang seperti danau. Satu yang tetap adalah, pikiranku tidak pernah bisa lepas dari dia. Benakku selalu memutar kenangan saat aku melihatnya untuk pertama kali. Momen itu tersimpan bersama momen-momen lain yang berharga dalam hidupku. Dengan suatu cara, lelaki itu menyelinap ke dalam pikiranku dan tak mau keluar dari sana.

Aku tak yakin Yana memahami ini.

“Apa kau pernah jatuh cinta, Yana?”

“Tidak.”

“Kenapa?”

“Karena aku bertekad hanya akan jatuh cinta dengan suamiku sendiri. Kelak.”

Ah.

Cinta tidak sesederhana itu. Dan, sudah jelas cinta bukanlah sejenis makhluk yang bisa diatur dengan logika manusia.

Setidaknya aku membuktikan itu di suatu siang yang terik. Di akhir Juli, di bawah pohon mahoni.

**

Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published.