Captain Fantastic dan Arti Menjadi Orang Tua

Kolom Cakrawala Film Haluan, 29 Januari 2017

Di pedalaman hutan Washington, sebuah keluarga yang terdiri dari seorang ayah, ibu dan enam anaknya hidup seperti pemburu pada masa lampau. Mereka nyaris tak butuh uang untuk bertahan hidup. Makanan datang dari ladang dan rusa. Segala yang mereka butuhkan ada di sana, kecuali satu: masyarakat. Ben Cash (diperankan dengan brilian oleh Virgo Mortensen) tidak menyukai masyarakat karena menurutnya mereka terlalu konsumtif dan picik. Seakan-akan mereka tak bisa hidup tanpa McDonald atau Pizza Hut. Tak bisa bahagia tanpa Nike, video game dan gadget. Ben dan istrinya, Leslie, menjauh dari semua itu dan memutuskan mendidik sendiri keenam anak mereka, Bodevan, Kielyr, Vespyr, Rellian, Zaja dan Nai. Setiap pagi Ben melatih fisik mereka. Berlari turun naik bukit, push up, panjat tebing, tak peduli berapapun usianya. Tak ada tv. Hiburan mereka adalah musik yang mereka ciptakan sendiri dan tarian di depan api unggun. Tak ada sekolah. Ben sendiri yang mendidik anak-anaknya dengan metode homeschooling. Anak-anaknya sangat kritis dan analitis. Menguasai berbagai bahasa, dan, di luar dugaan Ben sendiri, diterima di semua universitas paling bergengsi di Amerika, Harvard, Yale, dan Columbia University. Anak-anaknya tumbuh dengan fisik yang sangat prima dan tingkat kecerdasan yang jauh melebihi rata-rata anak seusianya.
Tapi ada yang salah di situ, dan ini baru disadari Ben saat Leslie, istrinya, meninggal. Kematian Leslie di rumah orang tuanya, membuat Ben dan anak-anak harus keluar dari hutan dan bergabung dengan masyarakat untuk sementara waktu. Saat itulah Ben bisa melihat bagaimana anak-anaknya bisa menganalisis Undang-undang Amerika Serikat seperti para pakar di televisi, tapi gagap memulai bicara dalam pergaulan dengan teman sebaya. Anak-anaknya tidak mengerti musik pop, karena Ben cuma mau anaknya mendengar musik-musik yang menurutnya sangat bermutu, musik klasik. Anak-anaknya tidak mengerti Star Wars, karena bagi Ben, hiburan yang bermutu hanyalah novel-novel klasik lama, dan itu membuat mereka ditertawakan teman-teman baru. Anak-anaknya juga tidak tahu bagaimana membangun hubungan sosial dengan anak-anak lain yang sebaya. Mereka bahkan tidak punya uang untuk belanja di supermarket. Keadaan makin sulit bagi Ben ketika Rellian memberontak dari aturannya dan ingin hidup di tengah masyarakat bersama kakek neneknya. Ia ingin hidup normal seperti anak-anak lainnya. Puncaknya, ketika Bodevan menunjukkan surat-surat undangan kuliah dari berbagai universitas ternama pada ayahnya. Ben syok. Tidak mengira bahwa anaknya melanggar aturan ‘tidak butuh masyarakat’. Lebih syok lagi saat tahu semua itu hasil upaya Leslie, istrinya. Di situlah ia mulai mempertanyakan kembali arti menjadi orang tua dan apa makna mendidik sesungguhnya.

Film garapan Matt Ross ini sangat kaya akan makna. Jujur diakui, banyak orang tua yang berprinsip seperti Ben Cash, mendidik anak sesuai keinginan mereka, dan bukan sesuai zamannya. Zaman berubah sangat cepat, tetapi orang tua merespon terlalu lambat. Sering, ego orang tualah yang membuat terhambat untuk mengembangkan potensinya . Dalam kasus Ben Cash, jika ia tidak menjauh dari masyarakat, mungkin anaknya, Bodevan yang berbakat itu, sudah masuk komunitas sains remaja dan dibimbing oleh beberapa pakar untuk menemukan sesuatu.

Akhir film ini menarik. Bagaimana akhirnya Ben merelakan Bodevan pergi mengembara ke Namibia, Afrika, agar anaknya mulai belajar bagaimana memahami masyarakat dunia. Sesuatu yang seharusnya sudah diajarkan Ben sejak Bodevan masih kecil, akhirnya harus dipelajari sendiri oleh Bodevan di masa dewasanya.

Jarang-jarang saya merekomendasikan film dan memberi bintang tinggi, tapi khusus untuk Captain Fantastic, saya memberinya empat dari lima bintang. Ini film yang layak tonton.

Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published.