Dangal: Medali Emas untuk Ambisi Sang Ayah

Dangal (dibaca dang-gal) bisa kita lihat dari dua sisi. Pertama, sisi pesan yang dikandung, kedua dari segi penceritaan. Penilaian kita terhadap film ini ditentukan dari sisi mana kita mau melihatnya. Mula-mula saya ingin melihatnya dari sisi pesan, tetapi kemudian tersandung masalah penuturan. Lalu saya berusaha melihatnya dari sisi penuturan, tetapi kemudian pertanyaan mengenai pesan, menganggu saya seperti slilit yang sulit dilepaskan. Akhirnya saya memilih untuk mengabaikan kedua hal ini, dan mencoba menikmati Dangal hingga usai.
Burukkah Dangal? Tidak. Sebaliknya, ini film yang sangat bagus. Penuh dengan semangat hidup. Ada hal yang sangat positif muncul dalam diri saya setelah menonton film ini. Hidup dan cita-cita, seperti yang diajarkan Dangal secara tersirat, adalah sesuatu yang layak diperjuangkan. Dan mereka yang berjuang, akan mendapat semua yang diimpikan.
Dangal, boleh jadi termasuk film India (dan film Amir Khan) yang patut ditonton dalam dua dasawarsa terakhir oleh karena spirit yang dikandungnya. Film ini mengisahkan perjuangan seorang Mahavir Singh (Amir Khan), seorang atlet gulat nasional India yang mendidik dua anak perempuannya dengan keras untuk menjadi pegulat nasional. Lelaki menjadi pegulat dianggap wajar, tapi perempuan? Apa kata dunia? Malang bagi Mahavir Singh karena penduduk di kampungnya memandang takdir seorang anak perempuan seharusnya ada di altar pernikahan. Tentangan dan cemoohan dari keluarga dan tetangga tak menyurutkan perjuangan Mahavir. Ia fokus mewujudkan ambisinya: mempersembahkan medali emas untuk India. Ini sesuatu yang dulu gagal ia lakukan. Apa yang gagal di dirinya, harus berhasil di anaknya. Untuk itu, ia siap mengorbankan apa saja, termasuk masa kecil kedua putrinya.
Dalam 45 menit pertama, saya pikir Dangal adalah film parenting yang akan mengajarkan orang tua-secara tersirat–bahwa anakmu, meski berasal dari darah dan tulangmu, bukanlah milikmu. Ia adalah seorang individu yang bebas merdeka menentukan jalan hidupnya sendiri. Cita-cita orang tua tidak boleh memangkas cita-cita anak. Kau dan dia tidak sama. Mimpimu dan mimpinya berbeda.
Pikiran ini muncul setelah melihat betapa kerasnya Mahavir mendidik dua anak perempuannya, sampai-sampai mencukur habis rambut mereka. Bisakah anda bayangkan bagaimana perasaan dua anak perempuan jelang remaja yang terpaksa merelakan rambut mereka yang panjang dan indah dibabat habis? Saya sedih melihatnya. Marah pada sosok Mahavir yang mengorbankan masa kecil dua anaknya hanya untuk memenuhi ambisinya. Ketika sang anak, Gita dan Babita memberontak, saya hampir yakin kalau cerita ini akan berakhir pada kesadaran Mahavir untuk lebih mendengarkan keinginan dua putrinya.
Tapi saya salah. Cerita ternyata tidak berjalan seperti itu. Ini membuat saya seperti ditelikung. Menjelang pertengahan cerita, ternyata saya ditunjukkan betapa Gita dan Babita memang seharusnya menjadi seorang atlet, dan sudah tepat bagi mereka untuk lebih mendengarkan keinginan sang ayah ketimbang kemauan pribadi. Gita dan Babita memenangkan berbagai kompetisi gulat sampai akhirnya menjadi pegulat nasional. Konflik antara Gita dan ayahnya lalu terjadi di sepertiga akhir cerita. Gita yang merasa sudah mendapatkan pelatihan gulat yang baik dari pelatihnya, tidak lagi mendengarkan sang ayah yang lebih mengenal gaya bertarungnya. Akibatnya, Gita gagal di berbagai kompetisi. Kekalahan demi kekalahan ini kemudian berujung pada kepasrahan Gita pada sang ayah. Ia kembali pada pelatih gulat pertamanya, dan mengabaikan semua instruksi pelatih nasionalnya.
Apa yang saya lihat dari Dangal adalah sebuah pertunjukan one man show dari seorang ayah yang cenderung otoriter dan merasa memiliki kekuasaan penuh atas diri anak-anaknya. Seluruh plot Dangal mengarah ke sana, bahkan hingga ke akhir cerita. Seharusnya–saya berpikir–Dangal bisa menjadi film yang meraih lima bintang, jika saja memilih fokus pada satu dari dua hal ini: pertama, pada ayah yang akhirnya sadar bahwa anak bukanlah alat untuk mewujudkan ambisinya, atau kedua, setiap orang harus berani meraih mimpinya meski harus melalui perjuangan yang berdarah-darah.
Saya yakin, sebenarnya fokus Dangal ada pada yang kedua ini. Memasukkan ambisi pribadi sang ayahlah yang menjadi ganjalannya. Ada baiknya kalau Dangal diceritakan seperti ini: Satu, Mahavir Singh memutuskan untuk membesarkan anak-anak perempuannya sebagaimana anak perempuan lain. Kedua, ia salah. Ternyata dua anak perempuannya, Gita dan Babita, ingin menjadi pegulat. Mereka sering diam-diam menonton rekaman pertandingan sang ayah, lalu menirunya. Ketiga, Mahavir tidak mau anaknya menjadi pegulat, karena kultur di daerahnya tidak mendukung hal itu. Keempat, dua anaknya bersikeras, hingga akhirnya Mahavir menyerah, dan dimulailah perjuangan yang berdarah untuk mengantarkan Gita dan Babita menjadi atlet nasional dan meraih medali emas.
Saya sebenarnya suka Dangal. Ini film yang bagus. Saya bahkan mengajak putri-putri saya menontonnya. Hanya saja, memang saya penonton yang cerewet. Saya memiliki harapan-harapan tertentu pada sebuah film. Karena itu maafkan saya, jika saya cuma memberi tiga bintang untuk film yang dibintangi aktor kesayangan banyak orang ini.

Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published.