Bagaimana Engkau Dipaksa untuk Mengalahkan Trauma

Jika engkau menganggap Tuhan sebagai sahabatmu, maka Ia sungguh-sungguh akan berlaku sebagai sahabatmu.

Ini sungguh kata-kata yang manis. Tolong jangan terlalu dipercaya betul kata-kata ini murni keluar dari hati saya, karena jujur saja, sampai sekarang saya tidak tahu apa sungguh-sungguh menganggap Tuhan sebagai sahabat atau kata-kata ini sebatas retorika. Setiap hari saya bergelut dengan kata-kata. Entah yang keluar dari buku, mulut orang lain atau pikiran-pikiran saya sendiri. Dan di antara puluhan ribu kata-kata yang menyelimuti saya saban hari, saya tidak tahu manakah di antaranya yang bukan retorika. Terkadang, saya bahkan bingung memilih mana yang murni datang dari hati sendiri, mana yang saya kutip dari buku-buku para pujangga. Tapi baiklah, mari kita lupakan saja perkara ini, kita kembali saja ke pokok perkara: Tuhan sebagai sahabat.

Beberapa tahun lalu saya pernah membaca sebuah kutipan begini: jangan berteman dengan orang yang membuatmu nyaman, bertemanlah dengan orang yang membuatmu keluar dari zona aman, karena ia akan membuatmu berkembang. Kutipan lainnya: seorang sahabat  adalah dia yang memberitahukan kesalahanmu, dan mencegahmu melakukan hal serupa di masa datang.
Ini adalah kutipan-kutipan yang cetar sekali. Dan, memang, dalam keseharian sulit sebenarnya kita menemukan sahabat yang seperti ini. Sebab, proses untuk mendapatkannya memerlukan kesabaran dan waktu tahunan. Tak banyak yang sabar begini. Saya sendiri, bila ukuran sahabat adalah dua kutipan di atas, maka jumlah sahabat saya bisa mengerucut kecil sekali. Bahkan jumlah jari tangan kanan saya masih terlalu banyak. Satu di antara yang sangat sedikit itu justru bukan manusia. Dia adalah Yang Menciptakan saya.

Bertahun lalu, saya lupa persisnya, saya sekeluarga pulang ke Solok, kampung suami, melalui jalur Sitinjau Lauik. Jalur ini sudah diperbaiki berkali-kali hingga setidaknya mencapai level cukup aman, terbukti dengan makin berkurangnya kecelakaan di daerah ini. Tapi, tentu saja musibah tetap ada. Pada hari yang saya tidak bisa lupa itu, kami melewati jalur ini di belakang sebuah truk besar. Suami saya menjaga jarak aman, karena kalau di tanjakan, memang sebaiknya jaga jarak minimal sampai 20 meterlah di belakang truk-truk sarat muatan. Pas di tanjakan pertama, tanjakan yang paling curam (dan yang paling sering dijagain orang untuk meminimalisir kecelakaan), truk di depan kami berhenti. Sepertinya mogok. Suami saya lalu memotong jalur truk itu, dan malangnya, jalan yang diambil penuh kerikil dan pasir (padahal ada aspal di bawahnya, nggak tahu juga itu kerikil asalnya dari mana). Mobil stuck di tempat, lalu pelan-pelan mundur. Bisa dibayangin nggak, di tanjakan sangat curam, mobil mundur, direm pun nggak bisa. Di bawah jurang menanti. Orang-orang yang jagain tanjakan langsung berlarian ke mobil kami sambil membawa batu ganjalan. Suami saya pun sigap menarik rem tangan, dan alhamdulillah mobilnya berhenti. Saya bawa anak-anak keluar, sambil menunggu mobil bisa dibawa naik lagi. Kejadiannya nggak sampai dua detik, tapi mampu memicu stress dan trauma. Semenjak itu, saya tidak mau melewati tanjakan itu. Kalau mau ke kampung suami, pengennya pulang ke kampung saya dulu, Payakumbuh, dengan berbagai alasan, baru nanti dari Payakumbuh ke Solok. Jalan ke Solok dari kampung saya sangat mulus dan jelas tidak curam, apalagi perjalanannya melewati Danau Singkarak yang indah. Semenjak insiden itu, kami nyaris tidak pernah mengambil rute langsung Solok- Padang. Sayalah yang mengkondisikan hal itu. Saya sudah berusaha menghilangkan trauma dengan banyak berpikir positif, tapi sulit. Hal ini terus terjadi, sampai suatu kali Tuhan turun tangan memaksa saya menghilangkan trauma itu. Kejadiannya beberapa hari lalu, saat tanpa terduga saya harus pergi ke kota Solok untuk membicarakan program KKI bersama Dinas Kearsipan dan Perpustakaan di sana.

Saya naik bus Jasa Malindo dari Simpang Haru diiringi pandangan prihatin suami saya yang tahu persis trauma saya di tanjakan Sitinjau Lauik itu. Sepanjang jalan dia berkali-kali me-SMS saya untuk memastikan saya baik-baik saja. Dengan berusaha memiliki semangat seorang traveller yang sudah habis urat takutnya, saya membalas SMS-nya dengan bahasa riang, seakan semua baik-baik saja. Tapi, tentu saja sebenarnya saya tidak baik-baik saja dalam perjalanan itu.

Selepas dari Indarung saya mulai pura-pura tidur. Berharap, tiba-tiba saja bus sudah melewati tanjakan pertama, dan beberapa menit kemudian tiba di Solok. Saya mengabaikan percakapan orang-orang, deru mesin dan kenangan di tanjakan yang membuat saya trauma itu. Pengabaian adalah cara yang paling baik–menurut saya–untuk lepas dari tekanan traumatik ini. Tapi, sepertinya Tuhan tidak setuju. Dia tidak ingin saya mengabaikan. Dia ingin saya menghadapinya. This is life! Sometimes you’re afraid sometimes you’re not. Kamu tak kan mungkin bisa menjadi sesuatu yang baru, jika tidak bisa mengalahkan ketakutanmu sendiri. Jika kamu ingin menjadi seseorang, kamu harus keluar dari cangkangmu.

Dan itulah yang terjadi. Tepat saat bus bersiap menaiki tanjakan pertama yang menimbulkan trauma itu, entah kenapa tiba-tiba Tuhan memberi ilham pada suami saya untuk menelepon. Otomatis saya membuka mata dan mengangkat telepon. Dari jendela saya melihat sesuatu yang sejak awal ingin saya hindari: tanjakan pertama itu.

“Sudah sampai di mana?” tanya suami saya.

Saya berusaha menekan gemetar dalam suara saya, “tanjakan pertama.”

Suami saya terdiam selama sepersekian detik. Pasti dia ingat dengan trauma saya, “oke berarti kamu berada di Ladang Padi,” ujarnya riang. Saya tahu dia berusaha menenangkan hati saya, “nanti kalau sudah sampai di Solok, kabari ya.”

“Oke,” jawab saya.

Telepon ditutup.

Hanya itu yang diketahui suami saya dalam percakapan itu. Yang tidak ia ketahui adalah, sepanjang dia menelepon, saya mengikuti bagaimana bus berkelok dan menanjak. Bagaimana bus mendaki dan berkelit  dari bebatuan di kelokan maut itu. Saya melihat dengan mata kepala sendiri jurang dalam di baliknya, dan laut di bawahnya. Segala yang menimbulkan trauma dihadirkan Tuhan di situ dalam paket yang paling lengkap dan jelas tidak hemat. Tapi saya tidak syok. Saya justru bisa menghadapinya dengan tenang.  Saya justru tidak merasakan ketakutan itu. Segala hal yang menekan psikis saya di awal perjalanan, mendadak berguguran di tanjakan itu. Saya memandang ke luar jendela. Melihat pepohonan dan sesemakan yang merimbun sepanjang jalan. Akhirnya saya menyadari satu hal. Saya tengah diajari oleh Sahabat saya untuk mengalahkan trauma. Untuk membuang habis segala ketakutan tak berdasar. Sebab, sepertinya Dia tidak ingin saya terkungkung atau stuck di situ. Dia ingin saya bergerak dari satu titik kondisi jiwa, ke titik kondisi jiwa lainnya. Dan untuk mencapai hal itu, Dia menciptakan satu situasi yang harus saya hadapi.

Sepanjang perjalanan saya terus menerus memikirkan hal ini. Betapa ajaibnya, saya pikir, cara Tuhan mengajari saya. Sepanjang hidup, saya sering kali Ia hadapkan pada hal-hal yang tidak saya suka, yang saya takuti, yang ingin saya jauhi. Dia memaksa saya untuk ke luar dari cangkang saya, tak peduli seberapa susah pun saya menghadapinya. Terus terang, dalam hidup ini saya memiliki banyak trauma. Dimulai dari masa kecil saya, terus menumpuk hingga dewasa. Dari yang kecil-kecil (seperti kasus di tanjakan itu), sampai yang besar-besar. Satu-satu, Ia uraikan semua trauma itu dan paksa saya menghadapinya. Tahun demi tahun, saya merasakan diri saya melangkah menuju diri saya yang baru. Saya berubah dan berkembang.

Kerap, ketika kita dihadapkan Tuhan pada satu situasi yang menekan, kita justru lari darinya. Kita justru memilih menghindar. Padahal, bisa jadi itu adalah cara Tuhan untuk mendidik agar kita menjadi seseorang yang berbeda. Seseorang yang lebih bisa diandalkan. Seseorang yang insyaallah bisa menjadi lebih baik.

Hidup kita terdiri atas rangkaian kesedihan dan kegembiraan, kesempitan dan kelapangan, kemarahan, penyesalan, kebahagiaan dan keberuntungan. Bukan sedih atau gembiranya yang penting, tapi bagaimana semua itu bisa membuat kita menjadi seseorang yang baru. Seseorang yang bisa keluar dari cangkang lama menuju cangkang jiwa baru yang lebih baik.

Sebab, bukankah dunia ini tempat untuk mengasah jiwa kita. Kita ini mulanya hanyalah berlian mentah, sampai pengalaman mengasah kita menjadi berlian yang memancarkan cahaya dari 48 sisinya.

 

**artikel ini merupakan bagian dari proyek #1hari1cerita yang saya gagas untuk diri sendiri. Semoga ada yang baik dari catatan-catatan perjalanan saya.

 

.

Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published.