Lihat Sedekatnya, Berpendapat Sewajarnya

Salah satu nasehat yang acap diberi suami ke saya adalah, “jangan terjebak mengglorifikasi seseorang.” Apa itu glorifikasi? sederhananya, memuliakan atau meluhurkan seseorang. Kita boleh kagum pada si A, B atau C, tapi jangan sampai meluhur-luhurkan dia sehingga ia jadi seolah tak bercela di mata kita. Biasa-biasa ajalah memandang seseorang. Kalau dia bagus, ya bilang bagus, kalau dia ada jeleknya, ya objektif saja. Toh manusia adalah perpaduan antara baik dan jelek, hitam dan putih, cacat dan sempurna. Setiap hari, dua kutub ini saling tarik menarik. Kadang seseorang terseret ke kanan, di lain waktu ke kiri. Oleh karena itu, dalam Islam kita dianjurkan berdoa pada Tuhan, sang Maha Pembolak-balik Hati, agar Ia senantiasa menetapkan hati kita pada kebenaran atau kebaikan.

Belakangan ini, kerap kita menemukan status-status yang menglorifikasi seseorang, biasanya sih status ini terkait pilkada. Kandidat A atau B atau C dipandang tak ada celanya sama sekali oleh para pendukungnya. Apapun perbuatannya yang negatif akan berupaya dicari pembenarannya. Tak peduli seberapa tidak logis pun itu.

Mengapa orang terjebak mengglorifikasi? Pertanyaan ini saya temukan jawabannya saat berada di tempat seperti yang tampak di gambar berikut.

Coba tebak, kira-kira gambar itu saya ambil di mana? Villa? resort? homestay? hotel? ah, apapun itu sepertinya tempat ini adem dan indah ya? Ada banyak tumbuhan di situ. Semuanya hijau dan subur. Tempatnya juga kelihatan sangat bersih. Ada suasana pedesaan yang kental di sana. Juga ada kesan sunyi, jauh dari kebisingan. Pokoknya, tempat di atas sepertinya pilihan yang tepat bagi kita untuk rehat sejenak dari hiruk pikuk kota.

Tapi … apakah tempat itu memang seperti yang kita pikirkan? Coba kita mundur beberapa langkah agar bisa melihat tempat itu secara keseluruhan. Masihkah kita akan merasa tempat di atas adalah tempat yang cocok untuk berehat dari semua kebisingan?

Ah, ternyata kalau kita mundur, inilah gambar keseluruhannya.

Yep! tempat itu ternyata hanya sebuah taman kecil di dalam Bandara Soekarno-Hatta yang begitu sibuk, yang setiap tahun menjadi perlintasan 50 juta manusia, melebihi daya tampung bandara itu sendiri. Taman itu memang indah, tapi jelas tidak akan menjadi pilihan kita berehat dari kebisingan. Paling, hanya menjadi pilihan persinggahan yang sangat sebentar, seperti yang dilakukan mereka yang tampak di foto.

Nah, inilah jawaban mengapa sebagian orang suka mengglorifikasi tokoh A, B atau C. Mereka cuma menge-zoom satu bagian kecil saja dari diri yang bersangkutan, lupa mundur beberapa langkah agar bisa melihat gambaran utuh sang tokoh. Sang tokoh mungkin sangat suka menyantuni anak yatim, suka bersedekah ke berbagai panti asuhan, dan di saat yang sama ia tamak harta. Proyek-proyek negara habis ia sikat. Korupsinya gila-gilaan. Orang yang terjebak mengglorifikasi hanya mau melihat kebiasaan si tokoh yang suka bersedekah ini saja, tidak mampu (atau mungkin tidak mau) melihat gambaran si tokoh secara keseluruhan. Contoh lainnya, si tokoh boleh jadi orang yang rajin ibadah ritual, tapi cuma sampai di situ. Ia tidak punya leadership, tidak mampu memimpin, tidak punya keberanian mengeksekusi sebuah kebijakan, namun, karena para fansnya terjebak mengglorifikasi dia, akhirnya dia dipuja-puja dari sisi kelebihannya saja. Para fansnya lupa memandangnya dari sisi kekurangan. Akibatnya, ketika ada orang-orang lain yang mempersoalkan kekurangan-kekurangan para tokoh yang dipuja ini, terjadilah konflik.

Berhati-hatilah dalam menilai seseorang. Objektiflah dan berusahalah seimbang. Ingatlah gambaran taman di bandara di atas. Apa yang terlihat indah dari dekat, belum tentu indah dan menyenangkan juga bila ditinjau secara keseluruhan.

Silakan lihat tokoh-tokoh yang kita suka sedekatnya, tapi berpendapatlah sewajarnya.

Cat. artikel ini merupakan bagian dari proyek menulis #1hari1cerita yang saya gagas untuk diri sendiri.

 

 

Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published.